Cerita Fiksi

Kamu, Hujan, dan Pohon Besar di Perempatan

IMG-20120924-WA0000Tahukah kamu cerita tentang jendelaku yang sempat menutup dan aku yang tak berani menatap hujan? Ya, bagiku bukan hujan di bulan Juni yang penuh magis. September. Hujan di bulan September adalah teman paling syahdu namun amat menyakitkan untuk ditatap. Hujan terus merintik kala itu. Tak peduli aku menutup telinga, bersembunyi di balik gorden biru, bahkan kututup rapat jendelaku. Hujan terus merintik. November bahkan berkonspirasi dengan langit untuk terus menumpahkan uap-uap awan itu di belahan bumi ini. Hujan, seberapa menyakitkan pun, ia tetap milikmu. Baunya terendus menenteramkan bahkan ketika aku menjauh sekali pun.

Tahukah kamu bagaimana ceritaku dan hujan selanjutnya?

Seperti yang kukatakan, aku menunggumu menerabas ruang-ruang di sela hujan, berlari, membuka jendelaku, memanggilku, memberi teduh seperti yang pernah kauberi sebelum ruang-ruang itu ada.

Sayang sekali, senyap. Kamu tak pernah ada, bahkan sekadar mengintipku. Atau barangkali aku yang tak tahu? Entahlah. Tapi ruang-ruang itu semakin asyik bercengkerama dalam bagian rintikmu, menyisakan perih di sela bau hujan yang kaukirim.

“Kau tahu kenapa dia tidak menerabas hujan seperti pintamu?” kata temanku suatu ketika, “karena ia bertanggung jawab. Ia tidak ingin kehadirannya menyakitimu seperti itu lagi. Percayalah, ia akan datang lagi ketika semuanya membaik. Memberi rumah paling teduh untukmu menikmati hujan sore hari bersamanya.”

Aku diam saja mendengarnya. Rasanya antah berantah. Aku takut jika tak seperti itu.

Apa yang kulakukan selanjutnya? Aku justru membuka jendelaku perlahan, berjalan perlahan, lalu menari di sela hujan. Menerabas hujan itu ke mana pun aku suka. Membuat semua seolah baik-baik saja. Kembali tersenyum ceria. Kulewati taman-taman indah. Kulukis harapan di taman-taman itu.

Payung-payung berdatangan ingin menjadi peneduh. Hei, ada yang berwarna biru. Sengaja sekali. Sang empunya payung tahu betul cara menaklukanku. Ia tiada henti mengikuti langkahku, mengkhawatirkan kondisiku yang terus berjalan menerabas hujan. Sayang sekali, alih-alih aku malah menjauh.

Ah ya, ada bagian yang kaulewatkan. Bukan tentang payung, tapi rumah. Ya, ada yang memberikan rumahnya untuk menjadi tempatku berteduh. Luas sekali. Indah. Sayang sekali ia tidak biru. Lagi-lagi, aku justru menjauh.

Apa yang kumau? Entahlah.

Aku bahagia menyusuri jalan ini. Menikmati hujan. Melewati taman-taman indah. Melukis harapan. Aku belum menginginkan peneduh.

Belum? Ah, justru saat aku berpikir demikian, aku sampai pada pohon besar di perempatan jalan. Tak seperti sang pemilik payung atau rumah yang mengajakku berteduh, Ia sama sekali tak menawariku tempat untuk berteduh. Ia diam saja. Berdiri kokoh. Hanya rimbun daunnya yang bercerita. Hanya kokoh batangnya yang memberi penjelasan. Hanya ranting-rantingnya yang menjuntai bergerak oleh angin. Duhai, siapa yang tidak ingin berteduh di bawah pohon besar itu. Tapi apakah mungkin ia membangun rumah di sebelah pohon itu untukku? Aku hanya si penerabas hujan yang terus berjalan meraih mimpi.

Duhai, sudah berhari-hari aku berdiam di sini. Sama sepertinya, hanya diam. Rimbun daunnya yang hijau meneduhkan.

Tapi hujan masih milikmu. Bagaimanalah.

Ah apa? Hujan masih milikmu? Aduh, bodohnya aku. Jawaban itu hanya ada padamu. Bagaimanalah aku mengatakan hujan ini masih milikmu, kalau bisa jadi engkau pun sudah tidak mengakuinya lagi. Bagaimanalah? Atau diam-diam ada rumah indah di balik pohon besar ini, bukankah waktu belum mengizinkanku menoleh? Entahlah. Pohon ini amat meneduhkan, tapi ia tak pernah memberi tanda apapun. Bagaimanalah? Kamu mungkin tahu jawabannya.

Tapi, di manakah kamu? Masihkah kamu ingin membangunkan rumah teduh untuk kita menikmati hujan dari jendela yang sama? Atau kamu masih terpatri diam dalam ruang-ruang di sela hujan itu? Terus berjalan diiringi awan yang berarak.

Tak apa. Aku sudah kebas pada perih menatap hujan yang penuh aroma magis ini.

Aku tahu, Sang Penguasa Langit selalu punya rahasia dan ceritanya sendiri tentang hujan. Harusnya aku tak perlu risau.

 

Pojok biru 2,

8 Juli 2013 22.57 WLH

cuma cerita. bermain dengan konotasi itu menyenangkan. apalagi tentang hujan yang gosipnya romantis itu :p

11 thoughts on “Kamu, Hujan, dan Pohon Besar di Perempatan”

  1. saya? penikmat sastra…. hehe.. 🙂
    Salam kenal, saya kusuma (mahasiswi tingkat akhir di PTN Jogja)

    Nice Story sistaa.. 😉

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s