GAMUS

#GamusStory Mewarna di Jogja

IYC 2013 - UNY

Tak ada kata yang paling tepat untuk mewakili setiap perjalanan ini selain “subhanallah”. Akan ada banyak terima kasih di balik tawa ceria yang terlukis pada foto di atas. Barangkali benar, sejatinya kebetulan itu tak ada. Allah merangkai setiap frame kehidupan untuk melengkapi frame lainnya.

Cerita berawal di sebuah malam yang penuh kegalauan. Sederhana saja, semua berawal dari pertanyaan galau: “Apa yang sudah aku lakukan selama kuliah?”. Setelah itu, daftar mimpi yang saat itu belum kurapikan di blog ini dan kutempel di dinding kamar, memanggilku pelan-pelan. Ada beberapa daftar yang menunggu untuk dicapai. Kalau sudah seperti itu, aku biasanya melamun sebentar sambil browsing artikel atau kepo timeline apa aja, hehe. Saat itulah, di sebuah ruang tumblr, bertemulah Himsa dengan informasi itu: ada Call for Paper bertema Integrasi Nilai-Nilai Islam melalui Pendidikan. Tema yang tepat untuk mewujudkan mimpi kecil—yang bahkan belum sempat tertulis: mewarna bersama tim Kemuslimahan Gamus IM Telkom, berdakwah dengan prestasi.

Perjalanan ini pun dimulai. Bersama Haning dan Nadya, kami ikhtiar dengan bismillah, juga sedikit nekat karena sebenarnya dateline tidak lebih dari 14 hari tersisa. Kalau merenungi lagi kisahnya, kami selalu bilang: “Ya Rabb, Alhamdulillah Engkau mudahkan semua prosesnya”. Hari pertama berkumpul di perpustakaan, kami bertemu dengan Bu Eka. Kami menghadap beliau dan memohon beliau untuk menjadi pembimbing kami, namun rupanya saat itu beliau sibuk, “Gini aja, untuk tema paper kalian, saya punya teman yang bisa membimbing kalian, namanya Bu Yuda. Ada nomornya?” Kami lalu menghubungi Bu Yuda, kebetulan Bu Yuda juga merupakan salah satu pengisi rutin Keputrian tiap hari Jumat. Namun sayang, tidak diangkat. Tak berapa lama, beliau malah menelepon balik, memberikan dukungan dan semangat serta kesediaan untuk membimbing.

“Nggak apa, Dek, dateline udah dekat juga tak apa, dicoba dulu saja. Niatkan dakwah karena Allah. Minimal kalian mencoba dan belajar,” kata Bu Yuda, membuat kami semakin semangat.

“Tapi kita belum bisa ketemu, saudara saya sakit di Garut, jadi mesti ke Garut dulu, nanti by email saja yah,” lanjut beliau. Tak masalah buat kami, beliau bersedia pun kami sangat bahagia.

Kami pun semakin semangat, beberapa judul kami rumuskan, dan kami sepakat untuk mengambil tema khusus tentang youth community yang terintegrasi nilai Islam. Awalnya, kami akan mengangkat Ngabrink Community, salah satu komunitas positif Bandung yang menurut kami berbeda karena terselip nilai Islam yang ditanamkan di anggotanya. Seminggu berlalu, founder komunitas tersebut sulit dihubungi. Dateline makin dekat. Kami hampir menyerah.
Minggu, 12 Mei 2013, H-3 pengumpulan paper, tapi kami belum juga melakukan wawancara untuk pengumpulan data. Bahkan belum sempat bertemu dengan dosen pembimbing juga karena Ibu masih di Garut. Hari itu, aku justru mengikuti Seminar Inspirasi Muda Mulia di Gedung Pos. Ikut acara ini pun sebenarnya tidak sengaja, tapi broadcast yang terus menerus dan tawaran gamis gratis cukup menggoda pula. Gamisnya itu yang dipakai Himsa di foto. Haha.

Di tengah-tengah acara, Nadya sms, “Teteh, gimana ya, dari Ngabrink nggak bisa dihubungi terus. :(“. Jujur, saking asyiknya mengikuti acara Muda Mulia ini, aku hampir tidak membaca sms itu. Ketika membacanya, galau tiba-tiba datang lagi, hampir saja kubalas, “ya sudah, Dek, kita nggak usah ikut lomba ini, kita cari yang lain aja yuk, DL udah mepet juga :(“. Alhamdulillah, belum sempat terkirim. Ketika itu, di sesi setelah Asar, Kang Rendy menyampaikan topik bertajuk “past your small test”. Intinya, kunci dari sesuatu yang besar sering kali adalah hal kecil. Beliau menganalogikan kunci pintu gerbang yang besar adalah benda kecil. Selain itu, beliau juga bercerita proses kerja samanya dengan “Keke Collection”. Beliau hampir tidak jadi berangkat ke kantor Keke karena kaki beliau sakit, namun beliau mencoba melawan dan datang ke kantor Keke. Subhanallah, ternyata dari sanalah kerja sama besar itu terbangun. Kalau Kang Rendy tidak melawan rasa “malas”nya dan tidak jadi datang, mungkin Gamis gratis itu sekarang tidak ada ditanganku. Hehe. Saat itulah, “clink” otakku bersinar, bisa jadi lomba paper ini adalah pintu gerbang yang kuncinya sudah ada di tangan, nggak boleh menyerah, ayo putar otak. Kuhapus lagi sms yang akan kukirim untuk Nadya, kuganti dengan “Tunggu ya, Dek. Teteh sekarang lagi ikut seminar inspirasi Muda Mulia, ternyata ada komunitasnya juga. Bagus banget, nilai-nilai Islam terintegrasi dengan baik di sini, terasa banget selama ikut dari tadi. Nanti setelah acara, teteh coba ngobrol bentar sama Kang Rendy, doakan ya semoga bisa.”

Jadilah ide itu seperti mewarna kembali. Usai acara, saya dan beberapa teman Gamus yang juga ikut acara ini, menemui beliau sebentar, bertanya beberapa hal sampai kami diperkenalkan dengan Teh Fitri, salah satu manajer komunitas. Singkat cerita, wawancara pun kami lakukan esok paginya. Berbagai kemudahan lain datang begitu saja. Data-data yang kami butuhkan datang seperti tahu kebutuhan kami. Saat bersamaan, panitia Call for Paper IYC 2013 mengumumkan bahwa dateline pengumpulan paper diundur dua minggu. Bismillah kami sebut lagi, dibantu dengan bimbingan ekstra super dari Bu Yuda, paper kami pun terkirim.

“Bismillah ya, Dek. Luruskan lagi niatnya, biar Allah yang menentukan hasilnya.”

Kami lega. Kami sudah ikhtiyar, pun kalau tidak lolos, minimal kalau nanti anak kami bertanya, “Mama dulu pernah bikin penelitian apa aja pas kuliah?”, kami bisa menjawab dengan penuh cerita. Haha. Sebenarnya itu motivasi besarku tiap ikut lomba paper. Konyol ya? Tapi emang iya 😛

Pas hari pengumuman, ceritanya Himsa sedang sakit di kampung halaman. Lamaa sekali, pengumuman belum juga di-upload oleh panitia. Sekitar pukul 19.00, muncullah pengumuman 10 besar finalis. Hmmm, tidak ada nama tim kami. Aku menghela nafas panjang, mengingat kembali niat awal penulisan paper ini agar tidak ada perasaan kecewa berlarut, kukabari Haning dan Nadya. InsyaAllah ikhlas. Setelah itu, aku tertidur, benar-benar tidak kepikiran lagi pada lomba itu.

Paginya, aku membuka facebook untuk mengirim file proposal marketing plan ke Feni, kebetulan aku juga sedang menyusun proposal untuk kompetisi lain bersama tim lain. Eh, ternyata, seorang Kawan di Jogja mengagetkanku dengan post-nya di grup SC8, “Selamat datang di Jogja Novi Ahimsa Rosikha” dilengkapi dengan gambar capture pengumuman. Melongo. Seperti mimpi. Semalam kan tidak ada. Subhanallah, ternyata tadi malam aku salah cek, yang diumumkan terlebih dahulu adalah lomba essay, dan untuk paper diumumkan pukul 21.30, aku sudah tertidur. Allah menguji keikhlasan dan niat kami.

Sekembalinya di Bandung, Pak Deden, Bu Eka, dan Bu Yuda memberikan dukungan penuh. Luar biasa. Ketika itu, proposal pengajuan dana untuk keberangkatan kami ke Jogja hanya di-acc 50% oleh BKA kampus dan karena beberapa hal, dana juga belum bisa dicairkan dalam waktu dekat.
“Ini kalian ibarat dikasih pergi nggak diantar pulang. Siapa Pembina Gamus?”, kata Bu Eka.

“Pak Deden, Bu.”

Bu Eka lalu menghubungi Pak Deden, menceritakan kronologis kami mengikuti lomba ini. Subhanallah, beliau langsung datang ke ruangan Bu Eka, “Setelah ini kalian ke ruangan saya ya.” Kata Pak Deden sembari terus memberikan motivasi. Kami pun ke ruangan beliau, dan beliau langsung memberikan uang cash sejumlah kebutuhan kami. Lagi-lagi, melongo, speechless. “Sudah, kalian fokus saja persiapan presentasi kalian. Semoga menang, kalau tidak menang pun jangan jadi beban. InsyaAllah niatkan dakwah,” lanjut Pak Deden lagi sambil terus memberikan semangat.

Well, masalah dana beres dalam sehari. Benar-benar tidak menyangka. Sambil belajar UAS, kami menyiapkan presentasi, aku sendiri sambil mengejar dateline proposal marketing plan. Fiuh, Allah benar-benar menguji. Kurang lebih lima hari, Bu Eka dan Bu Yuda selalu meluangkan waktunya untuk membimbing kami menyiapkan presentasi. Padahal kami tahu, beliau sibuk sekali. Namun beliau semangat, bahkan mungkin lebih semangat dari kami, sehingga semangat itu pun terus menyala di dada kami. Nasihat ini itu kami dapatkan. Mulai dari teknik presentasi, sampai kami merasa memiliki sosok Ibu di kampus dari ibu-ibu ini. Bahkan, beliau menyertai perjalanan kami ke Jogja, membuat finalis lain merasa iri, hehe.

Persiapan sudah maksimal. Ada saja kendalanya. Mouse laptopku tiba-tiba rusak (hikmahnya, jadi punya mouse baru 😛 ). Aku pun harus datang terlambat karena masih ada UAS. Travel yang seharusnya berangkat pukul 19.00, baru berangkat pukul 22.00 karena Bandung macet total. Perjalanan diiringi dengan deg-degan, karena presentasi dimulai pukul 08.00 pagi, dan saat itu, aku masih di daerah Bantul. Sesampainya di Jogja, pas sekali, aku langsung menyusul Haning dan Nadya menuju tempat presentasi di Sigit Abdullah Hall FIP UNY.

Kata Feni, “kita udah biasa melewati injury time kan, Sa?” ditambah dengan nasihat Mbak Rida, “semua udah diatur Allah, Him, tenang saja”. Kalimat-kalimat itu menenangkan sekali. Terima kasih temaans :*

Tanpa kami duga, presentasi berjalan lancar, tepat waktu, 10 menit. Padahal, tiap kali latihan, kami menghabiskan waktu 17-18 menit. Legaaa sekali. Bu Yuda dan Bu Eka memeluk kami dengan hangat. Yang lebih menyenangkan, kami mendapatkan keluarga baru, merekatkan ukhuwah, juga bercerita tentang kampus dan LDK masing-masing. Nadya, sebagai Kadiv. Acara Temu Akhwat SPECTRUM November nanti, semangat sekali mempromosikan event. Ditambah lagi, teman-teman panitia dari KMIP UNY juga ramah dan baik sekali. Benar, kami benar-benar merasakan kekuatan ukhuwah.

Berbagai pengalaman di Jogja mengenang di benak kami. Satu hal yang bisa kami simpulkan: orang Jogja baik-baik ya, ramah sekali. Masih terekam jelas adegan pinjam paksa motor beberapa mahasiswa UNY yang sedang ngobrol. Haha. Ah ya, perjalanan mengelilingi Jogja dengan modal motor juga tak akan terlupa, walaupun nyasar sana sini, hehe.. Terima kasih Mas dan Mbak yang kami tanyai. Juga Bunga yang merelakan kamar kosnya kami penuhi dengan barang-barang kami dan motornya kami bawa nyasar sana-sini.

Tak ada yang lebih indah dari doa kalian. Terima kasih. Terima kasih untuk Ahsan yang telah mengizinkan Gamus kami bawa dalam perjalanan kami, untuk Fatimah yang langsung memberikan format-format proposal pengajuan dana dari Gamus untuk Kampus, untuk Mbak Rida atas doa yang luar biasa, untuk Amir atas semangatnya, untuk Iksan juga, pokoknya All penguin. Dan tentu saja untuk sahabat-sahabat di Kemuslimahan yang terus memberikan semangat. Ini hanya awal, Himsa tunggu kalian untuk mewarna juga ya, bersama kita niatkan bismillah karena Allah.

Ah ya, terima kasih juga untuk Kang Rendy dan Teh Fitri yang bersedia kami repotkan untuk diwawancara dan untuk cerita-ceritanya yang amat menginspirasi, untuk Komunitas Muda Mulia yang super keren, juga untuk Iqbal yang nggak bosen-bosen broadcast acara Muda Mulia dan mamerin gamis Keke, sampai tidak sengaja ikut juga ke Komunitas Muda Mulia, untuk Mentari dan Uya yang sama-sama haru semangat selama mengikuti Inspirasi Muda Mulia.

Terima kasih, hormat, juga salut untuk Bapak Ibu luar biasa: Pak Deden, Bu Yuda, dan Bu Eka. Juga Pak Gadang yang telah bersedia memberikan tanda tangan di lembar pengesahan paper kami.

Terima kasih untuk semua yang mendoakan dan berperan banyak untuk ini. Satu mimpi itu tercoret lagi, bukan berarti selesai, tapi berarti ada perjuangan lain yang siap menunggu. Bismillah. Tetap luruskan niat, tanyakan pada diri sendiri, untuk apa muara semua ini?

Pojok Biru 2
25 Juni 2013
8.30

Mohon doanya lagi, Sahabat semuanya :*

3 thoughts on “#GamusStory Mewarna di Jogja”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s