GAMUS, perempuan

Amanah: Sahabat Terbaik

Kemuslimahan and Friends
Kemuslimahan and Friends

Malam ini, dunia seperti lebih tenang dari biasanya. Masih terukir senyum para sahabat muslimah di Mushala Lantai 2 Gedung B tadi siang. Senyum penuh semangat untuk melestarikan Al-Qur’an. Lalu tanpa kami duga, siang tadi juga, kami sepakat untuk membentuk komunitas pecinta Al-Qur’an untuk muslimah, yang kemudian kami beri nama: KOMPAQ. Tadi siang, aku sadar betul, berada di antara saudara-saudara yang bersemangat menuju kebaikan itu nikmat luar biasa, menenteramkan.

Aku juga tersenyum mengingat ekspresi bahagia sahabat Muslimah yang hadir pada Keputrian Jumat, 26 April 2013 kemarin. Ada wajah-wajah antusias saat aku bercerita tentang isi buku “Be A Great Muslimah” karya Teh Pewski. Ada pula yang berebut mengantri ingin meminjam buku tersebut. Aku bahagia ketika inspirasi menjadi rangkaian domino tanpa ujung. Ah ya, ada juga yang dengan jleb mengatakan, “ah kirain bukunya Teh Himsa yang dibedah hari ini?”. Pertanyaan itu lagi-lagi ‘menampar’ saya. InsyaAllah. Bismillah. Ditunggu. πŸ™‚

Aku juga merenung mengingat pelajaran-pelajaran dalam setiap Liqa’ yang kemudian secara tidak sadar membawaku antusias mencari tahu kisah-kisah sahabat, membaca buku-buku islami, mempelajari hal-hal yang dulu tak terpikirkan, dan menyadari betapa pentingnya menghafal ayat-Nya. Memang terlambat, tapi aku bersyukur masih diberi kesadaran itu.

Semua renungan itu kemudian membawaku untuk menarik satu premis: semua berawal dari amanah yang diberikan padaku Juli 2012 lalu.

Siang itu di sekre Gamus Gegerkalong kami dikumpulkan. Aku lupa bagaimana kejadian runtutnya, tiba-tiba saja aku ditunjuk untuk jadi Kepala Muslimah oleh pengurus inti. Begitulah, semua mengalir begitu saja. Ada takut yang tiba-tiba menderaku saat itu. Klasik memang. Aku merasa tidak pantas. Bagaimana bisa? Himsa yang nggak bisa diam, yang heboh, yang pokoknya tidak ada gaya ‘muslimah banget’ ditunjuk jadi Kepala Muslimah? Apa bisa menjadi teladan untuk muslimah lain? Ah, ditambah lagi, aku tahu aku punya PR besar terhadap hatiku sendiri, yang seakan memperkuat rasa tidak pantas yang mendera. Tapi semua terjadi saja. Ahsan, Ayah sekaligus presiden kami, sudah menghadang dengan kalimat “Kalian yang ada di sini adalah orang-orang terpilih untuk mengemban amanah baik ini…” ditambah dengan menyinggung sedikit tentang urgensi untuk menerima amanah tersebut, maka tak ada kata yang bisa kuucap selain “Bismillah, insyaAllah”.

Hari itu, sejujurnya kegalauan dimulai. Begitupun hari-hari berikutnya. Enam bulan pertama berlalu begitu saja. Banyak sekali hal yang belum bisa kuperbaiki baik secara ruhiyah maupun secara organisasional. Tapi proses terus berjalan. Malam ini, aku sadar, masa-masa sulit itu adalah pelajaran berharga.

Masalah demi masalah ada. Allah melihat isi hatiku, mendengar permintaanku untuk menyelesaikan PR terbesar selama ini: masalah hati. Maka, seakan alam membentuk simphoni, sekitar September 2012 tiba-tiba badai hati datang. Jujur, itu adalah titik jatuh dalam hidupku selama dua puluh tahun ini, sekaligus titik bangkit (yang kusadari di kemudian hari). Aku tidak akan bercerita detail, Kawan. Mungkin di lain cerita. Yang jelas badai itu adalah jawaban Allah atas PR besarku tentang masalah hati, yang bertahun belum bisa kuatasi. Kata Abahku, “badai itu ada untuk membersihkan hatimu, Vi.”

Begitulah, hanya Allah dan Himsa yang tahu bagaimana kondisi hati itu sekarang. Tapi badai itu kemudian membuatku lebih banyak belajar, lebih banyak bercerita pada-Nya, lebih banyak bercengkerama dengan ayat-Nya, lebih banyak masuk ke dalam aktivitas-aktivitas bermanfaat untuk menyibukkan diri. Awalnya, sekadar menyibukkan diri, membuang sakit demi sakit, melepas molekul-molekul benci yang sempat mengotori hati. Tapi lama-lama, belajar itu seperti nikotin: membuat ketagihan. Aku tenggelam dalam aktivitas Kemuslimahan yang banyak menjadi pengingat dan penenteram.

2013. Proses terus berjalan. Jujur, amanah menjadi Kepala Muslimah semakin hari seperti pengingat yang membuatku ingin terus belajar. Amanah ini, dengan segala ceritanya, membentuk kepribadianku sekarang. Ya, walaupun Himsa masih heboh, walaupun Himsa masih belum tampak “muslimah banget” (tapi itulah aku), aku bersyukur mengemban amanah ini. Menenteramkan. Mengingatkan. Sekali lagi, walaupun mungkin aku belum bisa benar-benar menjadi seorang muslimah sejati, amanah ini terus menjadi pengingat dan nasihat sunyi.

Life is a process. Dan sekarang, inilah proses yang sedang dijalani oleh seorang Novi Ahimsa Rosikha. Semoga proses untuk menuju kebaikan. Tidak ada hal yang aku sesali dari apa yang telah lalu sekalipun hal tersebut buruk dan menyakitkan, karena semua benar-benar tak ada yang sia-sia. Tak ada ketenteraman seperti yang saya alami sekarang tanpa keburukan yang pernah saya alami sebelumnya. Rencana Allah memang indah. Semoga kita tergolong manusia yang tidak tertutupi oleh hidayah-Nya.

Terima kasih Tim Kemuslimahan yang kompak dan selalu berjuang secara maksimal. Terima kasih Adik-Adik. Terima kasih seluruh pengurus Gamus Pelangi atas nasihat-nasihatnya. Terima kasih atas canda juga diskusi-diskusi kecil yang amat mengena di hati dan pikiranku.

Tidak terasa, tinggal tujuh bulan lagi amanah tersebut disematkan di pundak kita, Sahabat Pelangi. Mari sejenak kita renungkan: untuk apakah kita menjalani amanah tersebut dengan baik? Karena Allah? Atau karena takut terlihat tidak amanah? Semoga kita senantiasa meluruskan niat, dengan kekuatan-Nya dan hanya untuk-Nya.

Pojok Biru 2

27 April 2013

23.54

Ditulis jujur banget dari seonggok daging yang kalau ia baik maka baik semuanya. Sudah lama nulisnya, tapi baru berani nge-post. Hehe. Kalau kau melihat hikmah dari tulisan tersebut, semoga datangnya dari Allah. I’m not as great as you think. Maka jika hal-hal baik yang tampak dariku, sebenarnya hanyalah karena Allah menutupi aib-aibku. Mohon doa dari sahabat semuanya.

4 thoughts on “Amanah: Sahabat Terbaik”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s