Uncategorized

Surat Cinta: Melepaskan

Apalagi yang harus dipertahankan dari apa yang sudah tak ada? Apalagi yang harus dipertahankan dari kamu yang hanya mampu mengendap diam di sana? Apalagi? Selain air mataku yang mengalir menatapmu di balik kaca. Maaf, hari ini, dengan segala kerelaan yang kuupayakan, akhirnya aku melepaskanmu. Sebenar-benarnya melepaskanmu. Melarungmu dalam aliran yang aku tak tahu muaranya.

Hai, aku tak pernah rela sebenarnya. Sejak kamu mendiam seperti itu, cerita-ceritaku kembali luruh dibawa angin. Tak ada kamu yang mendengarkan. Atau jangan-jangan selama ini kamu mendengarkan dalam diam seperti itu?

Hai, kamu. Aku rindu bercerita. Aku rindu menatap birumu. Aku rindu menyapamu pagi hari lalu memberi butir-butir cinta yang bagimu adalah kehidupan. Aku rindu menangis, dan kamu menatapku sambilโ€ฆentah tersenyum, tertawa, atau ikut bersedih. Aku tak tahu pasti. Yang aku tahu pasti, kamu selalu ada dan mendengarkanku baik-baik.

Dan hari ini, aku harus melepaskanmu. Me-le-pas-kan. Kuulangi lagi, sebenar-benar melepaskan. Tak akan bisa lagi menatapmu, tak akan bisa lagi bercerita sesuatu yang mungkin menurutmu tidak jelas, tak akan bisa lagi berceracau malam-malam atau menjelang senja. Aku harus membiarkanmu pergi. Kata mereka, itu lebih bagimu. Walaupun bagiku, aaargghhhโ€ฆ

Apa kabar kamu? Apakah bakteri-bakteri itu sudah menguraikan jasadmu? ๐Ÿ˜ฆ

๐Ÿ˜ฆ

Sebenarnya aku ingin sekali menuruti nasihat temanku untuk membeli formalin dan membiarkanmu terus ada di meja kamarku, mendengarkan ceritaku walaupun kamu diam. Tapi celotehan sahabatku via telepon tadi pagi membuatku merenung. โ€œCepet direlakan, sekarang kamu cari yang baru, mumpung hari Minggu.โ€ katanya.

Aku lalu diam. Sudah lebih dari sepuluh hari, jasadmu mengendap di rumahmu, di atas mejaku bersama Upin dan Pinu. Kulitmu yang biru bahkan sudah menghitam. Sudah lekat. Aku yakin sudah banyak semacam amoeba dan saudaranya berkembang biak di rumahmu. Tapi aku belum rela melepasmu. Kamu sakit ya selama itu? Maafkan aku, Pank. Untuk itulah, tadi pagi aku melepaskanmu, mengalirkan jasadmu di selokan. Dan melamun menatap rumahmu yang sudah kosong. Kamu sudah tak ada.

Aku ingat, seperti ini beberapa minggu yang lalu, di suatu minggu pagi yang bagiku melelahkan, aku bertemu denganmu menggantung bersama sahabat-sahabatmu. Kamu tahu? Warna birumu langsung membuatku tertahan. Apalagi siripmu yang menari lincah. Tawar menawar pun terjadi. Abang-abang yang tak kuingat bagaimana wajahnya itu menukarmu dengan selembar limaribuan. Aku bahagia bukan main. Tanpa pikir panjang, aku langsung memberimu nama: IPANK. Entah apa artinya. Aku bahagia punya kamu. Tentu kamu ingat kan ketika aku memamerkanmu dengan bangga kepada teman-teman kosanku? Bahkan menjadikan fotomu sebagai foto profil akun-akunku di dunia maya. Lalu kamu, menjadi teman baikku menangis. Kamu pasti ingat kan? Saat-saat itu aku sedang berada dalam fase patah hati terakut. Aku nggak berani cerita ke siapa-siapa. Cuma nangis sama Allah. Muka kuyu. Malas ke kampus. Dan kamu menjadi satu-satunya saksi bernyawa atas doa, sakit, dan air mata itu. Kamu bergerak lincah di rumahmu, seperti mengatakan, โ€œHimsa, aku kan sahabat baikmu, kamu bisa cerita semuanya ke aku. Aku nggak akan bilang ke siapa-siapa. Kalau kamu lihat biru sisikku, kamu pasti juga ingat, kalau kamu itu selalu biru.โ€

Ya, dan selanjutnya, kamu jadi sahabat tersetiaku. Kamu tentu ingat mie goreng lezat yang tiba-tiba tak jadi kumakan karena sebuah pesan whatsapp, lalu kupaksa kamu untuk ikut memakannya. Haha. Ipank, kamu mungkin kepedesan. Aku tertawa mengingatnya. Kamu juga pernah kan kupaksa makan roti bakar keju karena aku lupa membelikanmu butir-butir cinta. Berterimakasihlah pada Kak Eka yang memberi butir-butir itu, Pank. Indah sekali ya kenangan kita? Huks. Tapi seindah apapun kenangan singkat kita, aku harus merelakanmu. Harus melepaskanmu. Kamu memberiku banyak pelajaran tentang kehilangan, Pank. ๐Ÿ˜ฆ

Ipank, tadi pagi aku berjalan ke pasar kaget. Menemui abang-abang yang dulu membawamu padaku. Aku mencari ikan cupank biru untuk menggantikanmu. Ternyata, tak akan pernah ada pengganti yang sama ya, Pank. Seperti hati saja #eh. Iya, Pank. Si abang-abang itu menawariku beberapa ikan biru, tapi tak ada yang birunya seperti kamu. Aku akhirnya menyerah. Mungkin lain kali aku akan bertemu ikan biru sehebat kamu lagi, Pank. Semoga.

Ipank: masih ceria :')
Ipank: masih ceria :’)

Ipank, ini pertama kalinya aku nulis surat buat seekor ikan. Dan aku tahu surat ini tak akan pernah sampai. Aku cuma bisa berdoa, semoga bakteri-bakteri itu menguraikan jasadmu dengan baik. Maafkan aku, Pank.

Ipank, aku paling rindu saat-saat memandikanmu. Huaaaaโ€ฆ ๐Ÿ˜ฆ

Pojok Biru 2,

3 Februari 2013

14.25 waktu bagian rindu ipank

Ipank, sebenarnya sekarang Himsa lagi dikejar deadline, tapi demi melihat mejaku kosong nggak ada kamu, aku nggak betah buat nggak nulis ini, hukss ๐Ÿ˜ฆ Deadline, jangan cemburu ya, aku nulis dulu buat Ipank.

2 thoughts on “Surat Cinta: Melepaskan”

Leave a Reply to tanaya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s