Cerita Fiksi

Nymphaea Alba

nymphaea_albaKamu kehilangan kata. Cerita hanya mampu membeku. Sementara 149.599.000 kilometer dari titikmu berpijak, cahaya itu menyilaukan mata. Harusnya panasnya mencairkan cerita. Tapi tidak. Kamu menatapnya sambil mengatupkan tangan kananmu ke sebagian wajahmu. Mata kirimu mulai memicing. Nafasmu setengah terhambat. Ada yang kamu tahan. Ada yang kamu simpan. Jelas kamu tidak rela ada fluida lagi mengalir dari mata beningnya. Itulah mengapa kamu berlari menjauhinya. Menerima telak semua keputusannya. Lalu berhenti di sini. Di pinggir danau dengan Nymphaea alba  yang bunganya menunggu mekar. Kamu tahu persis itu impian kamu dan dia.

“Kamu sayang sama aku atau impian kamu?” pertanyaan itu mengiang begitu saja.

“Hei, itu pertanyaan konyol!” jawabmu.

Dia tersenyum. “Pernahkah kamu bertanya mengapa kita bertahan dengan semua kondisi ini? Dengan cerita luka yang magis, dengan kepercayaanku yang menipis, tapi dengan rindu yang masih saja berlapis?”

“Karena kita masih punya tujuan yang sama,” tegas kamu menjawabnya.

“Apa? Jangan-jangan kita hanya terlalu sayang jika impian kita tidak tercapai, maka kita memilih untuk bertahan, senano-nano apapun rasanya perjalanan ini.”

“Aku mau membangun danau dengan beragam Nymphaea yang indah. Dan kamu akan menjadi yang paling anggun di sana. Menjadi Nymphaea alba.”

Dia tertawa kecil, lalu berdiri, membelakangimu. “Itu impian kamu.”

“Lalu impian kamu?” kamu mulai gemetar. Jantungmu menunggu sebuah jawaban agar ia tidak berdegup lebih kencang dari ini.

Hanya angin yang berkolaborasi dengan suara gesekan dedaunan yang menjawabmu.

“Jingga, kamu menyerah?” kamu lalu menghampirinya.

Dia menggeleng.

“Aku minta maaf.”

“Ini bukan soal menyakiti atau memaafkan. Ini cuma pertanyaan yang tak butuh jawaban. Karena aku dan kamu masing-masing pasti sudah tahu.”

“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Tapi kamu dan impian tak bisa dipisahkan. Mereka bukan dua entitas yang berbeda makna. Kamu dan impian adalah satu. Kamu adalah impianku. Impianku adalah kamu.”

“Jangan katakan lagi.”

“Kenapa?”

“Tidak semua impian bisa kamu raih. Tapi impian jelas tidak akan bisa kamu raih jika kamu tidak mengusahakannya. Tak usah katakan tentang aku adalah impianmu. Aku khawatir jika di pertengahan hari akan ada Nymphaea lain yang kamu pilih. Itu sangat mungkin terjadi.”

“Semua Nymphaea, jenis apapun, itu kamu.”

“Terserah kamu. Aku sudah yakin untuk memilih pergi. Kamu tahu ke mana aku pergi.”

Kamu diam. Dia teramat keras kepala kali ini. Kamu mendadak ingat tentang air matanya yang mengalir sembunyi-sembunyi. Kamu ingat, ada rasa bersalah atas luka membekas yang kamu gambar di hatinya. Demi itu, kamu hanya bisa diam.

“Jangan pernah merasa bersalah. Semua penuh hikmah. Dan keputusanku untuk pergi adalah hikmah yang kupetik atas semua ini.” dia tersenyum. Kamu ingat betul senyumnya. Sama seperti senyumnya tiga tahun lalu saat kamu memberi semangat padanya di balik jendela beberapa saat sebelum dia mengikuti ujian praktek di akhir masa SMA-nya. Dia teramat bahagia kala itu. Juga saat kamu membawakannya satu kotak choki-choki. Gigi-ginya berjajar rapi pamer kepadamu. Dia juga teramat bahagia kala itu.

“Aku masih boleh memiliki Nymphaea alba di tengah danau yang kubangun?”

Dia menoleh, “tidak serta merta, Tore. Kamu tidak mungkin membuatnya tiba-tiba ada di tengah danau yang belum kamu bangun. Tidak usah kaukatakan apa-apa. Buat saja impian kamu menjadi nyata kalau impian kamu demikian. Aku tak perlu tahu, biar waktu yang bercerita. Biar langkahmu sendiri yang memastikan.”

“Aku boleh bertanya? Satu pertanyaan saja. Setelah itu, kubiarkan kamu pergi.”

“Baiklah.”

“Apa kamu masih bermimpi untuk menjadi Nymphaea alba?”

“Aku rasa semua perempuan bermimpi untuk menjadi Nymphaea alba, Tor. Karena Tuhan sudah menyiapkan banyak danau untuk mereka. Jangan pernah takut pada jawaban yang tak seharusnya dijawab sekarang.”

Tak ada kata, kamu diam. Membiarkan dia masih berdiri dan kamu berlari menjauh. Cepat. Terengah-engah. Kamu tak tahu saja, keputusan pergi bukanlah hal yang mudah untuknya, ia sama terengah-engahnya. Tapi satu kekuatan yang ia pegang. Menjauh darimu, mendekat pada Tuhan, biar Dia saja yang mendekatkan dua hati yang memang satu frekuensi. Tak akan ada yang tersakiti.

Pojok Biru 2,

10 Januari 2013

21.05

gambar dari sini

*Nymphaea alba = teratai putih

4 thoughts on “Nymphaea Alba”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s