Uncategorized

Kamuflase

lizard_camouflage01Dalam berlalunya hari, kamu akan semakin sadar bahwa semua hanya kamuflase. Dia yang kamu kira begitu kuat, nyatanya bisa rapuh juga. Kamu cuma tidak tahu, selama ini rapuhnya disembunyikan. Dan kamu kaget ketika mendadak kamu ada di sampingnya saat dia benar-benar rapuh. Dia manusia biasa. Kamu memujinya, karena kamu belum tahu kekurangannya. Atau mungkin kamu menghinanya, karena kamu belum tahu kelebihannya. Satu-satunya yang harus kamu sadari dari awal adalah bahwa manusia punya elemen tersembunyi. Tidak semua yang tampak kasat mata adalah yang terjadi sebenarnya. Dan untuk tahu itu semua, kamu cuma perlu melihat lebih dekat. Nanti kamu akan paham.

Dalam berlalunya detik, kamu akan semakin sadar bahwa setiap gerak jarum waktu, tidak ada satu pun bergerak tanpa kehendak Tuhan di baliknya. Sakit yang kamu rasakan, puluhan ribu detik kemudian menjadi sumber kebahagiaanmu. Senang yang kamu banggakan, puluhan ribu detik kemudian menjadi sumber penyesalanmu, kelenaanmu atas buaian waktu. Semuanya berputar, bergerak, hidup, atas kehendak Dia.

Kamu sekarang terpekur dalam sepi. Merenungi setiap nafasmu. Kamu tiba-tiba merasa perlu dipahami. Kamu merasa perlu didengarkan. Kamu lelah terlihat luar biasa. Kamu lelah dibanggakan. Kamu lelah dilihat kamuflase. Kamu enggan menjelaskan tentang kamu yang biasa saja, tentang kamu yang tak seperti mereka kira. Kamu enggan dikatakan merendah. Kamu ingin dilihat biasa saja. Biasa saja. Kamu ingin dianggap manusia yang terlabelkan pewajaran ini itu. Terlebih kamu lelah mengejar ini itu di arena balap bernama waktu. Kamu ingin sekadar menyandar, menepis peluh, untuk sejenak berkeluh. Kamu lari jauh, menuju Dia. Kamu bercerita pada-Nya. Lalu kamu sadar, kamu teramat merindui sesosok ciptaan-Nya, untuk sekadar berbagi keluh. Juga untuk mendengar keluh.

Hei, kamu tak perlu takut dilihat lebih. Lampaui keinginmenyerahmu. Jadilah lebih baik. Jadilah lebih dari sekedar pelabelan. Atau tak usah hiraukan pelabelan. Jadilah kamu. Bukan kamu yang kerdil, tapi kamu yang dinamis menuju segala yang lebih baik.

Kamu semakin sadar, kamu teramat rindu pada semua yang pergi. Kamu teramat rindu pada arena saat kamu, dia, dan mereka berada di luar arena balap. Kamu rindu bersahabat dengan waktu. Atau sekadar berbicara pelan-pelan padanya. Kamu rindu waktu yang tak pernah cukup untuk menemani kamu dan dia berbicara. Kamu rindu, teramat rindu pada angin yang biasanya mentransmisikan pembicaraanmu dan dia.

Tapi kamu selalu bisa meyakinkan dirimu, bahwa kamu baik-baik saja. Tak apa.

 

Kampus,

Menunggu

17 Januari 2013

17.03

3 thoughts on “Kamuflase”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s