Cerita Fiksi

Presipitasi #7

images from; http://aldiku.com/wp-content/uploads/2012/09/hati-ragu-960x420.jpg
images from; http://aldiku.com/wp-content/uploads/2012/09/hati-ragu-960×420.jpg

Suara tegap sang pemimpin upacara mungkin terdengar sengau bagimu. Kamu hanya menunduk di balik topi abu-abu yang kamu kenakan. Aku melirikmu sebentar. Sebentar kemudian melirik ke barisan kelas sebelah, perempuan itu sama menunduknya sepertimu. Siapa yang peduli dengan dua manusia yang menunduk di antara barisan itu, upacara tetap berlangsung begitu khidmat.

Senin yang sendu. Begitu aku mengingat hari Senin itu, entah sudah berapa ratus hari yang lalu Senin itu kini sudah berlalu. Selepas pemimpin upacara membubarkan pasukannya, aku melihatmu memasuki kelas dengan wajah yang tak biasanya.

Hanya ada hening yang tersisa dalam 50 cm jarak tempat dudukku dan tempat dudukmu. Teman-teman masih di depan kelas, membicarakan segala yang berlalu selama weekend, membicarakan tugas-tugas akhir semester genap yang mulai menumpuk. Kamu menunduk, sesekali membaca sesuatu di ponselmu. Aku hanya diam membaca halaman-halaman terakhir novel karya penulis favoritku. Membiarkan novel itu menutupi sebagian wajahku.

Sebuah tangan mengangkat novel itu, membuat wajahku yang tertutupi jadi terlihat. Kamu. Diam. Hanya menyetorkan ekspresi murung. Aku mengerti.

“Masih patah hati?” tanyaku sambil menutup novel.

Kamu menggeleng.

“Lalu?”

“Aku masih tidak tega.”

“Ya, aku tahu. Tapi waktu akan memperbaiki semuanya. Atau silahkan kamu memperbaikinya jika kamu belum ingin semua berakhir.”

“Tidak, biarkan semua begini saja. Kamu benar, semua butuh proses.”

Aku hampir menanggapi kalimatmu, ketika tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Sejenak, aku mendiamkanmu, membaca sebuah pesan singkat yang masuk, sambil sedikit tersenyum. Ya, tersenyum. Kamu, demi melihatku tersenyum membaca sebuah pesan singkat, tak kuduga langsung menarik handphone itu dari tanganku. Aku belum sempat menyiapkan ancang-ancang untuk melawan, HP itu sudah di tanganmu. Membuatku gelagapan, namun…. Tetttt. Bel masuk sudah berbunyi, tak berapa lama, Ibu Cindy, guru Kimia sudah memasuki kelas. Pelajaran pertama minggu itu. Pelajaran favoritmu.

Teman-teman beringsut mencari tempat duduk mereka. Begitu juga kamu yang segera kembali ke tempat dudukmu. HP itu masih di tanganmu. Membuatku resah sepanjang jam pelajaran. Entah kenapa pula aku harus resah.

Seperti halnya upacara, pelajaran juga berlangsung khidmat, tak peduli aku resah. Kamu membaca sesuatu di balik bukumu, aku yakin pasti kamu membredel kotak masuk di handphone-ku. Ah, sudahlah. Sebentar lagi ujian, aku masih cukup waras untuk harus mendengarkan pelajaran dengan seksama, yang tentu sangat mudah bagimu.

“Razif putus?” bisik Tasya padaku.

Aku mengangkat bahu, “kata siapa?”

“Status facebook Bintan.”

Aku hanya mengerutkan dahi. Aku salah, tadi mereka bukan hanya membicarakan weekend atau tugas akhir semester, mereka juga membicarakan kamu.

***

Gandi dan Ristan masih tertawa, mereka tengah menjadi pusat perhatian karena sedang saling adu kemampuan Matematika, permainan angka. Aku tertawa, kulihat kamu juga sudah mulai tertawa. Ah, kamu memang sangat bisa menyampuli perasaanmu dengan rapi.

“Mana Hpku?” aku mengulurkan tangan.

Kamu mengeluarkannya dari sakumu.

“Gitu dong tertawa.” kataku sambil berlalu setelah menerima hp itu.

“Bentar deh, sini, aku mau tanya.” kamu mencegah.

“Apalagi?”

“Perempuan itu akan berapa lama pulih dari patah hati?”

“Aku belum pernah patah hati.”

Kamu diam saja.

“Hei kalian lagi apa sih? Curhat? Haha, masa curhat sama Farikha?” Feri menghampiri.

“Udah sih diem, abis ini juga kamu yang curhat.” katamu disambut dengan tangan Feri yang menggaruk kepalanya.

“Iya sih, tapi kan aku mau curhatnya sama kamu.”

“Udah abis ini, kamu curhat sama Farikha aja sekalian.”

Aku tertawa. “Lama-lama aku pasang tarif.” celetukku.

“Yeee. Liat ntar dah.” Feri ngeloyor pergi sambil mencomot sisa keripik di meja.

“Emang udah berapa sih yang curhat sama kamu? Songong banget mau pasang tarif.”

“Enggak aku doang tau. Tasya juga banyak tuh kliennya.” Aku tertawa.

“Oh ya? Yang namanya banyak di kotak masuk ini juga klien ya? Ciyee..” Razif tersenyum sambil menyodorkan handphone-ku.

Aku menariknya cepat, “Mau tahu banget!”, kataku sambil memamerkan muka marah—yang sebenarnya sama sekali tidak marah, entah kenapa.

“Anak SMA mana dia, Kha?”

“Mau tahu banget!”

“Aku kenal lho sama dia.”

Aku sedikit terkejut. Hanya mendongak. Melebarkan pupil mata. Hanya itu. Tidak ada kata.

“Nggak percaya? Kapan-kapan aku kasih lihat buktinya.”

Aku justru yang kaget, urusan ini akan rumit.

“Ya sudah, dia teman baikku kok. Itu aja. Sama kayak kamu, teman baikku.”

Kamu diam.

“Hei, tadi mau curhat apa?” kamu masih diam, yang jelas alismu sedikit mengerut, mengerti sekali aku hanya berusaha mencairkan suasana.

Nothing. Aku cuma tidak tega.”

“Lalu apa alasan kamu memutuskannya? Kamu itu sebenarnya masih sayang Bintan kan?”

Hening.

Tiga detik kemudian, aku membuka suara, “berarti iya. Ya sudah, lakukanlah sesuatu untuk tidak membuatnya seperti itu lagi.” Aku tidak mengerti sedang berbicara apa. Tapi sejujurnya aku kesal harus berbicara dengan diammu.

“Sayangnya kamu salah.” katamu akhirnya.

“Zif, ayo buruan ke lab. Yang kemarin belum beres.” Sherin, yang juga anggota Olimpiade Kimia dari kelas sebelah, memanggilmu dari ujung pintu kelas. Kamu bergegas.

“Aku duluan ya, Kha, makasih.”

Kamu pergi begitu saja. Aku diam, ditemani sebuah penggaris yang ujungnya patah, dua buah buku tulis biru, dan sebuah novel yang tergeletak berantakan di atas meja. Teman-teman sudah banyak yang pulang sejak pelajaran terakhir tadi.  Kecuali Gandi dan Ristan yang masih saja tertawa di bangku nomor dua dari belakang baris paling kanan.

Hari itu, hari yang kubilang sendu, nyatanya adalah awal seorang Farikha bisa bercerita. Mungkin, kamu yang membuatnya.

Pojok Biru 2,

23 September 2012

21.24 WLH

akhirnya posted juga tulisan ini, butuh lebih dari 2 bulan untuk bisa kembali masuk dalam cerita ini. Udah ditulis lama, entah kenapa baru berani postiing hari ini. Selamat membaca 🙂 Seperti biasa, ditunggu kritik dan sarannya 😀

Cerita presipitasi 1-6 bisa dibaca di Presipitasi.

2 thoughts on “Presipitasi #7”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s