Cerita Fiksi

Kaktus dan Pangeran Kodok

image

Alkisah, ada sebuah tumbuhan yang tumbuh remaja bernama Kaktus. Ia tumbuh jadi kaktus sederhana, namun memikat banyak mata. Banyak yang ingin menjadikannya bebungaan indah di taman hijau, menjadi warna yang meneduhkan mata siapapun yang memandangnya. Banyak yang memberinya air kehidupan bahkan pupuk termahal untuk menjadikannya tumbuh subur di taman hatinya. Menghilangkan duri-durinya yang menyakitkan. Sayang, Kaktus tidak pernah mau. Ia memilih tetap menjadi Kaktus yang tumbuh gersang di padang pasir. Ia tidak tahu mengapa. Sama tidak tahunya sebagaimana seekor Kodok Petualang yang menanyainya mengapa ia tidak memilih menerima air kehidupan atau pupuk-pupuk mahal yang ditawarkan kepadanya.
“Aku lebih bahagia menjadi Kaktus. Aku mau nunggu pangeran yang bisa membuatku survive hidup di manapun dan tentu saja ia tidak menghilangkan duri-duriku.”
Si Kodok tertawa, “Pangeran Kodok?”

“Hahaha.. Bisa jadi.”
“Ya sudah, kalau kamu sudah menemukan pangeran kodokmu bilang padaku ya. Yang jelas kodok itu bukan aku.”
“Tentu saja aku tahu.”
Sejak itu, Kaktus dan Kodok semakin dekat. Kodok tidak bisa memberinya air kehidupan. Tapi ia cukup menjadi teman dan pendengar yang baik di tengah hamparan pasir gersang. Ia tidak pernah takut pada duri-duri Kaktus.Β  Sampai suatu ketika, Kodok mengajak Kaktus ke perairan, habitatnya, memperkenalkannya pada teratai. Ia memang Kodok petualang.
Barulah saat itu Kaktus menyadari luasnya dunia. Sayang, ia dirundung sakit yang luar biasa hidup di perairan. Ia cemburu pada teratai yang bertengger indah di atas danau dan menjadi tempat bermain Kodok, sementara ia tidak mungkin hidup di perairan. Ia merasakan sakit yang amat sangat. Menyadari itu, Kodok pun mengajaknya pergi, ke pegunungan, melanjutkan petualangannya.
Dalam perjalanan mereka, Kodok tersebut masih sering menanyai keberadaan pangeran untuk putri Kaktus.

image

“Sudah datang pangeran itu?” kata sang Kodok.
Kaktus menjawabnya dengan sendau gurau, “mana ada? Banyak yang datang, tapi ia bukan pangeran Kodok, mungkin pangeran kuda. Lucunya lagi, ada yang merasa jadi pangeran Kodok padahal ia seekor kupu.”
“Haha. Dan kau membiarkannya?”
“Tentu saja. Aku tetap menunggu pangeran Kodok saja.”
“Kalau begitu jangan sedih, aku bisa jadi sahabat sekaligus pangeranmu.” kata sang Kodok membuat Kaktus terhenyak.
“Tapi teratai?”
“Ah, kamu serius sekali, Kaktus. Mana mungkin aku jadi pangeranmu? Haha.”
Mereka pun tertawa bersama, tanpa tahu saat itu ada kebenaran rasa yang mereka ingkari.
Rasa itu dilebur begitu saja. Mereka terus berjalan menuju gunung. Ya, di gunung lah rasa itu tidak bisa diingkari.
“Kurasa memang aku pangeran Kodok itu. Apakah kamu mengizinkanku menjadi pangeran kodokmu, Kaktus?” kata Kodok.
“Duri-duriku?”
“Ada masalah apa dengan duri-duri itu? Bagiku kamu tumbuhan paling sederhana. Kamu bahkan mau hidup di tengah kegersangan. Itu luar biasa bagiku. Aku tunggu bunga birumu yang indah mekar di atas gunung ini. Kamu pasti bisa.”
“Baiklah, aku tunggu kamu jadi pangeran sungguhan yang memetik bunga itu.”
Mereka hanya saling tatap sambil tersenyum. Tidak ada suara lagi, tapi mereka mengerti. Kaktus bahagia. Kodok juga. Hanya saja lagi-lagi gunung bukanlah habitat Kaktus. Bertahan bukanlah cara yang mudah. Belum lagi banyaknya pepohonan yang lebih hijau yang menginginkan pangeran kodoknya. Ia menangis. Tapi bagaimana pun Pangeran Kodok memang tidak boleh diam, ia harus melompat ke sana ke mari. Dan Kaktus sama sekali takboleh cemburu. Tak boleh. Pilihannya hanya dua. Bertahan di gunung. Atau kembali ke padang pasir tanpa pangeran kodok lagi. Dan ia memilih yang pertama. Walau sering kali, realita membuatnya ingin kembali saja ke padang pasir. Menjadi gersang. Dan menunggu pangeran kuda atau kupu-kupu saja. Aih, tapi bukankah Kodok akan menjadi Pangeran yang menjadikannya satu-satunya ratu pegunungan dengan mekar biru yang mempesona?
Ia tersenyum, menahan setiap sakit yang ia simpan, menyaksikan dedaunan hijau bersama kodoknya.
Lalu, di tiap waktu ia akan menyerah, ia mengingat pangeran kodoknya pernah berujar,

“Kaktus di pegunungan itu lebih tangguh daripada kaktus di padang pasir.”

Maka jadi apapun ia, sekalipun pangeran kodoknya menetap di dedaunan di ujung sana, Kaktus sudah memilih untuk menjadi tangguh. Setidaknya ia akan tetap memekarkan bunga birunya. Apapun yang terjadi.
Kaktus akan tumbuh indah di tengah gunung, jika Tuhan mengizinkan.

Rumah
19 November 2012
7.36 WHH

Dongeng tahun 2009 yang baru sempat tertulis.
Separuh isinya adalah buah khayalan gila masa remaja bareng MNF. Termasuk quote terakhirnya juga nasihatnya. Lanjutannya dengan curang saya karang sendiri. Well, tapi saya tidak bisa membuat endingnya sendirian. Dongeng ini sebenarnya belum selesai, khayalanku nggak pernah nyampe untuk bikin ending cerita Kaktus dan Pangeran Kodok ini.Β  Biar Pangeran Kodok yang melanjutkan, tapi tanpa dedaunan. πŸ˜‰

5 thoughts on “Kaktus dan Pangeran Kodok”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s