Cerita dan Celoteh

a-be-a-h

Bah, tadi pagi, aku terbangun dengan air mata basah. Aku memimpikanmu terbaring tak berdaya di atas kayu. Aku menangis. Belum tega aku melihat adik kecilku yang masih enam tahun menangisimu. Bah, kemarin lusa, Bu Lik telepon mengabari bahwa Abah sakit. Tapi, dari teleponmu kemarin lusa, engkau sungguh terdengar baik-baik saja. Tertawa mendengar ceritaku, sembari menenangkan ketika aku mulai mengeluh dengan ini semua. Ah, harusnya aku yang peka. Bukannya engkau selalu begitu? Tak pernah terlihat sakit di depanku, bagaimana pun sakitmu. Engkau bahkan selalu bercerita tentang keadaan rumah yang sangat membahagiakan, memamerkan masakan-masakan Ibu yang kulewatkan. Bagaimana bisa aku tidak tahu engkau sedang sakit?

Bah, aku ingat sekali, bulan lalu Adik mengirimkan emoticon-emoticon sedih di whatsappku sembari bercerita tentang kondisi rumah. Rumah sedang chaos—kalau boleh aku sedikit berlebihan dalam beristilah. Tapi pada saat yang bersamaan, teleponmu masih menenteramkan, seakan tidak sedang terjadi apa-apa. Masih menenteramkan. Tidak tahan, aku mengkonfirmasi cerita itu. Engkau memang mengiyakan, tapi engkau begitu bijak memahaminya, kembali membuatku tenang, kembali membuatku yakin, pertolongan Allah itu dekat.

Bah, engkau selalu begitu..

Teleponmu beberapa pagi yang lalu, membuatku tersenyum lama. Engkau memanggilku “Bos kecil” setelah aku bercerita bahwa bisnis kecilku mulai berjalan. Aku sempat mengelak mendapat julukan itu, masih terlalu jauh, ini semua baru awal sekali. Sambil tertawa, engkau berujar, “Biar jadi doa, Vi.” Engkau membuatku begitu optimis melangkahi semua jalan ini.

Bah, beberapa waktu lalu engkau cemburu pada Ibu yang meneleponku begitu lama. Saat aku mengucap “wassalamualaikum”, tiba-tiba suaramu menahanku, “Kok sama Abah nggak ngobrol?’ dan aku tertawa, urung menutup telepon. Aih, mengapa engkau harus cemburu? Bukankah biasanya tidak pernah lama-lama engkau meneleponku? Sebentar, tetapi menenteramkan.

Bah, sampai pada paragraf ini, aku sudah menangis, di tengah perkuliahan. Aku ingat sekali, saat belasan tahun lalu, kau mengajakku menonton sungai di atas jembatan. Dengan bangga menempatkanku di bagian depan Honda Astrea hijaumu. Kau tahu, sampai sekarang aku masih suka menikmati aliran air dari atas jembatan. Hanya saja, mungkin sekarang kau tak menyadari bahwa putri kecilmu yang dulu kau ajak ke mana-mana, sebentar lagi sudah 20 tahun. Sudah banyak yang kupikirkan ketika aku berdiri di atas jembatan. Bukan hanya tentang aliran air yang menenteramkan atau lengan jembatan yang selalu terlihat indah bagiku. Tapi juga tentang harapan, masa depan,  dan tentu saja kehidupan. Terkadang terpikir pula tentang seseorang yang akan mengambilku darimu. Aku tahu kau selalu ingin tahu. Tapi tunggu saja, Bah, sebagaimana aku juga menunggu.

Abah.. Aku sayang sama Abah. Abah yang mengantarku dengan kaki sembet namun tetap menyetir. Abah yang tiba-tiba ada di Bandung ketika tahu aku sakit. Abah, dengan pelukanmu saat sampai di pintu kamar kosku membuatku seakan sembuh tiba-tiba. Abah yang mengantarkanku ke mana pun aku ingin, dengan kekuatan speed melebihi angin. Abah yang kadang marah, tapi untuk melihatku lebih baik. Abah yang selalu tampak kuat karena ingin aku juga kuat.

Bah, bocah ciyikmu kangen sekaliiiiiiii..

:’)

Ditulis kembali pada mata kuliah E-commerce

19 Oktober 2012

17.28 WLH

Sebelumnya di tulis di kelas Etbis, pakai tangan, sambil nangis 😀

17 Oktober 2012

09.00 WLH

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s