Cerita dan Celoteh, perempuan

Pertanyaan seorang Perempuan

Pagi. Dalam dimensi waktuku, pagi adalah saat tangis semalam mengering. Lupa. Tak peduli sejenak. Pagi, adalah tempat kata-kata berlarian dari sarangnya. Memulai pertanyaan baru, atau terkadang merangkai kembali pertanyaan semalam yang tak sempat terjawab.

Ngomong-ngomong soal tanya, aku punya terlalu banyak pertanyaan yang malam tak mampu menjawabnya, seperti “Untuk apa cita-cita harus dikejar?”, “Siapa “kamu” yang sering kamu tulis di media sosialmu?”, “Adakah aku bersalah pada seseorang hari ini?”, “Apakah yang ada di benak Abah dan Ibu saat ini?”, “Apakah Tuhan mengampuni dosaku hari ini?”, “Adakah masa depan seperti keinginanku?”, “Apa perasaan Luhde selepas ia mengembalikan hati Keenan yang sempat ia pinjam?”, “Benarkah kenyataan tentang mimpi sebenarnya berbeda dari apa yang kupikirkan?” dan masih banyak pertanyaan lain pada malam yang pagi ini belum sempat mampir ke otakku. Pertanyaan yang paling panjang sering kali adalah “Siapa pendamping hidupku nanti?”.

Pendamping hidup, bagi perempuan, adalah sesuatu yang sangat penting. Tidak berlebihan jika itu dikatakan setengah hidup. Sebab nantinya, cita-cita, karier, jadi apa kita, pembimbing kita dalam beragama, kepada siapa nantinya kita berkontribusi dalam hidup, bagaimana kita berbagi, lebih dari 50% akan ditentukan oleh siapa pendamping hidup kita. Bukankah setelah menikah, yang harus ditaati oleh seorang perempuan setelah Allah dan Rasulnya adalah suaminya? Maka, urusan ini bukanlah urusan main-main. Sungguh bukan main-main. (Ya, kita memang bisa mandiri, tapi tak banyak yang bertahan mandiri sendiri dalam waktu yang lama, karena naluriah kita tidak untuk diciptakan sendiri, tapi berpasangan).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.

Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”

Usiaku (44 hari lagi) sudah 20 tahun. Bukan waktu yang terlalu dini lagi untuk menyiapkan diri menjadi lebih baik dalam hal menyambut pendamping hidup. Bahkan di usia yang sama, beberapa teman sebayaku sudah menikah. Ada pula yang tengah memantapkan hati ketika tiba-tiba seorang laki-laki memintanya untuk menjadi teman hidupnya. Semua terjadi begitu saja, tanpa dia sangka. Dan itu, bisa saja terjadi dalam hidupku, atau hidupmu. Kita harus siap.

Pagi. Entah kenapa harus pertanyaan itu yang pagi ini kupilih untuk kuceritakan di atas tuts-tuts hitam ini. Entah kenapa pula, tiba-tiba teringat sebuah percakapan dengan seorang sahabat di sebuah meja kotak semalam.

“Untuk apa aku sekarang berjuang keras, ingin menjadi seorang pengusaha sukses, memulai banyak hal, kalau bukan untuk mempersiapkan diri menjemput calon istriku, membentuk keluarga yang diridlai Allah.” Katanya tegas, tanpa ekspresi ragu sedikitpun. Aku dan teman lainnya diam saat itu. Sebuah ketegasan, sebuah persiapan, sebuah upaya. Dan beberapa cerita lainnya semalam yang sekarang terpikir tapi tak ingin kutuliskan.

Juga, sebuah kalimat “suatu saat nanti kamu akan tahu” yang tiba-tiba ingin kuterka.

Kita tidak tahu rahasia takdir. Tapi kita harus mempersiapkan diri. Terkadang aku berpikir, pertanyaan ini seharusnya bukan tentang siapa, tapi apa. Ya, apa yang sudah kita lakukan untuk seseorang yang dirahasiakan takdir itu. Yang bahkan oleh Allah dijanjikan surga jika seseorang itu ridha kepada kita.

Pagi ini aku sadar. Pertanyaan-pertanyaanku yang kusebut di paragraf kedua di atas, sejatinya bukan untuk dijawab, tapi dialami.

Ah iya, kuberi tahu sebuah rahasia, cara terbaik untuk mendekati seorang wanita adalah dekati orang tuanya. 😀

Perenungan,

Sekali lagi, aku tadi hanya ingin menulis, tidak tahu mengapa akhirnya menulis ini.

Pojok Biru 2, 12 Oktober 2012

06.59 WLH

2 thoughts on “Pertanyaan seorang Perempuan”

  1. Assalamualaikum dan hai. Saya dari malaysia dan baru menemukan blog kamu hari ini haha. Mungkin terlihatnya seperti terlambat bukan? Tapi mungkin ini waktu yang tepat untuk pertemuan kita. Salam kenal !

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s