Uncategorized

Halaman Kosong

sumber gambar: allfictioninmyworld.wordpress.com

Tertawa sambil menangis secara bersamaan merupakan salah satu hal absurd yang aku tak bisa mendefinisikan bagaimana rasanya. Sungguh absurd. Seabsurd diam yang lebih mendominasi saat semua berlomba melengkungkan senyummu. Seabsurd rindu yang masih saja tak mau beradu sampai waktu mengizinkannya berpadu. Seabsurd halaman-halaman kosong yang kuharap sampai di ujung pensilmu, walau aku tak tahu bagaimana mengetahui kabar sampainya. Dan aku memilih untuk tidak tahu. Diam. Menikmati ketidakpastian. Ah, bukannya kesabaran membuat yang tidak pasti perlahan menjadi pasti? Pasti “iya” atau pasti “tidak”. Atau kadang keputusan lah yang menciptakan kepastian itu. Dan sebuah keputusan pun sering kali didapat melalui sebuah kesabaran yang kadang tak sebentar.

Ya, bersabar tetap menjadi pilihan yang manis. Biarkan saja terus begini. Tertawa bahagia atas lengkung senyummu, sambil menangis entah atas dasar apa. Biarkan aku diam. Tapi kata Dee hidup akan mengikis apa saja yang diam? Ah, aku sebenarnya tidak diam, aku hanya bahagia dipaksa mengikuti arus Tuhan yang penuh rahasia. Menulis di halaman kosong. Lalu, bersabar, menunggu halaman kosong lainnya bertemu ujung pensilmu.

Apa halaman kosong itu sudah bertemu dengan ujung pensilmu?

Pojok Biru 2

8 September 2012

23.13

*ditulis sambil berimajinasi nanya dan memohon pak satpam, haha, himsa konyol lagi.

 

 

 

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s