Uncategorized

Menerka Takdir

sumber gambar: catatan-harian-auni.blogspot.com

Kamu diam-diam menangis, mengingat harapan dan kenyataan yang tidak belum egaliter. Lalu, dalam ruang sempit 3,2x 4 meter kamu berdoa, kadang juga mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud dalam angan-angan. Jam yang terus berputar seolah tak menjadi petunjuk bahwa malam telah larut. Kamu lebih banyak menggigit udara di antara gigi-gigimu ketika kamu menunggu angan itu tercapai. Dan kenyataannya, lama sekali angan itu tak jua tercapai. Lalu kamu berpikir, ah, sebaiknya tak usah berharap, biarkan angan itu terlelap. Tapi nyatanya, kamu justru terkesiap. Kamu terkesiap oleh rekaanmu sendiri.

Angan yang kamu reka dan takdir yang tak dapat kamu terka, membuatmu tergugu dalam keadaan yang tak kamu duga. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu pernah mempertanyakan di mana tanggung jawab Tuhan atas doa-doa yang kamu panjatkan. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu bahkan sudah menyerah mencapai harapan kamu. Kamu tergugu, karena kamu ingat, nada-nadamu bahkan sudah tak mampu melagu, habis oleh air matamu. Kamu tergugu, karena nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu. Nyatanya, kamu tak pernah mampu menerka takdir Tuhan.

Kamu masih terkesiap, ketika harapanmu tiba-tiba menjadi kenyataan dalam suatu waktu yang tak pernah kamu reka. Parahnya, Tuhan yang Mahabaik juga memberi bonus, yang kamu bahkan tak pernah memintanya. Ah, kamu hanya lupa, bahwa Tuhan lebih tahu kapan saat yang tepat untuk tercapainya sebuah harapan. Kamu hanya perlu memahami. Tanpa berhenti berdoa. Tanpa lelah berusaha. Tanpa menyerah untuk memantaskan diri.

Untuk kamu yang percaya, bahwa Tuhan memberi lebih dari sekadar yang kita khayalkan. :’) Semoga kamu mengerti, bahwa tercapainya keinginan bukanlah satu-satunya hal yang bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan.

Izinkanlah aku me-repost sebuah doa dua tahun silam, yang bahkan sudah kulupakan. Tapi takdir Tuhan membuatku terkesiap. πŸ™‚

Aku tak mengerti ke mana angin mengetuk malam ini. Pada hati yang sunyi kah? Atau di tempat sunyi? Bagaimana mungkin ketukan angin begitu terasa memukul jiwaku yang tiba-tiba terasa sepi, bukan sunyi hanya gundah terkesiap, lalu ramai, sesak oleh sesuatu yang aku tak mengerti. Lambat mengusik, angin juga membius raga yang lunglai, selunglai perasaan yang bersemayam di dadanya.

Ada apa ini? Aku berkedip sedikit lalu berusaha terpejam. Tapi tak bisa. Ada sesuatu yang terlihat dalam pejaman itu. Sesuatu yang mampu membuat mataku sedikit basah terdesak sesak yang merayapi hati. Mulutku komat-kamit tanpa aku suruh. Entah saraf apa yang sedang bekerja saat situasi seperti ini. Bahkan aku melakukan sesuatu tanpa aku sadari. Aku berdoa, dengan sejurus doa yang mengalir perlahan. Begitu tulus kurasakan.

Β “Ya Allah, kabulkanlah doaku esok hari.” Ya, mengalir begitu saja doa itu. Aku ingin sebentar saja memulangkan sesak yang begitu perih mengendus hingga ke pelataran hatiku. Sebentar saja Ya Allah.. Bahkan jika Engkau hanya mengizinkan itu terjadi dalam sekejap.

Kemarin,

Minggu, 12 September 2010

22.57 WIB

Β Hari ini,

Ternyata Allah memang punya rencana lain. Aku yakin bukan doaku yang tak di dengar, tetapi waktu sepertinya belum tepat untuk terkabulnya doa itu. DIA pasti tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Tapi mengapa serasa begitu lain? Ya Allah, berilah hamba keikhlasan..

Aku masih bertanya-tanya dan aku menyadari satu hal. Allah takpernah tuli mendengar doa hamba-Nya. Hari ini, nanti, 5 tahun atau bahkan 10 tahun lagi, aku yakin Allah sudah menggoreskan skenario terbaik-Nya. Aku hanya perlu senjata IKHLAS dan SABAR. :’)

Dalam ketidak jelasan sebuah mimpi..

πŸ˜₯

20:39 WIB

Itu sebuah doa dua tahun silam, yang tiap momennya ter-repetisi dalam bibirku. Kureka-reka dalam anganku bagaimana tercapainya. Harapan yang kupikir konyol. Saking konyolnya pun tak pernah tercapai. Lalu, aku memutuskan untuk berhenti berharap. Hingga lupa akan harapan itu. Tiba-tiba kemarin takdir Tuhan membuatku terdiam, harapan itu terwujud lebih dari sekadar yang kuduga. Aku lantas mengobrak-abrik folder catatanku, kutemukan tulisan ini, tulisan doa. Kubaca paragraf terakhir pelan-pelan. Nyatanya, tak sampai 5 tahun atau bahkan 10 tahun, 2 tahun saja, harapan itu terwujud, ketika aku sudah menyerah dan lupa. Tak usah kamu penasaran apa harapan itu, tak penting. Semoga kamu bisa mengambil hikmahnya, bahwa Tuhan pasti bertanggung jawab. Hanya saja kamu sering lupa, bahwa Dia lebih tahu tentang dirimu daripada kamu sendiri.

πŸ™‚

Tetangga Langit,

27 Agustus 2012

23.05 WLH

2 thoughts on “Menerka Takdir”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s