Cerita Fiksi

Presipitasi #5

Aku selalu tidak bahagia kalau masuk ke rumah sakit, selain harus melihat orang sakit, tentu saja juga karena baunya yang aneh, bau khas rumah sakit. Kami ber-24 sekelas datang ke rumah sakit hari itu. Harusnya jumlah siswa di kelas kan 25, tentu saja karena tidak ada kamu jadi tidak lengkap. Jangan tanya pula bagaimana orang sebanyak ini bisa masuk untuk menjenguk pasien, itu ide konyol kami yang mau masuk lewat pintu mana saja. Haha, lucu mengenang masa putih abu-abu kita. Bagi kita saat itu, yang penting bersama. Apapun caranya, termasuk mengelabui pegawai rumah sakit. Sayang sekali kamu tak ada dalam tawa kami siang itu, kamu tergeletak di ranjang putih kamar VIP 7.

“Assalamualaikum.” seorang teman, yang entah aku lupa siapa, mengulukkan salam. Aku memilih diam saja.

“Waalaikumsalam.” Seorang perempuan dua puluh tahunan menjawab salam itu. Kakakmu. Selain kakakmu, ada satu perempuan lagi duduk di salah satu kursi rumah sakit. Perempuan cantik, anggun, wajahnya dewasa. Perempuan yang kemarin kamu bilang sangat kamu sayangi. Bintan. Dia menyapa kita. Aku–lagi-lagi– memilih diam, tersenyum saja.

Ada yang tidak enak di hatiku. Mungkin karena kaget saja melihatmu yang biasanya gesit dengan berbagai aktivitasmu, diam lemas seperti itu. Ah, bukan, bukan hanya itu. Ada yang ngilu di dadaku.

“Gimana keadaanmu, Zif?” Frendi, sang ketua kelas memulai pembicaraan setelah dari tadi semua hanya diisi oleh basa-basi.

Kamu menggerakkan tanganmu, seperti mengatakan, ya beginilah.

“Tangan kirinya retak, wajahnya ya babak belur begitu, ada yang harus dijahit di bagian alis. Untung nggak banyak. Kalau banyak-banyak bisa hilang gantengnya adikku ini.” kakakmu menjawab, disambut gelak tawa kami. Aku masih diam saja. Kamu nyengir dibilang ganteng. Sementara Bintan wajahnya memerah.

“Cepet sembuh, Bro. Besok ulangan Kimia, bisa kehilangan master kelas kita nanti.” giliran Gandi bersuara, dilanjutkan “iya tuh” dari teman-teman yang lain. Kamu tersenyum. Bibirmu masih susah untuk ditarik membentuk tawa. Sakit.

“Tugas kelompok kita belum selesai. Parah lah kamu ini pakai acara ngebut. Kan jatuh. Minggu depan udah deadline lho.” sekarang Tasya yang menyerocos.

“Parah lah kamu, Tasy. Doain aja cepet sembuh makanya.” katamu pelan.

“Hehe, bercanda kok, Zif. Cepet sembuh biar besok bisa ngebut lagi.” tambah Tasya.

“Iya cepet sembuh, kasihan Bintan tuh kalau kamu sakit.” aku ikut-ikutan meledek, berusaha menjadi Farikha yang biasanya. Kontan saja disambut ciye dari teman-teman yang lain. Wajah Bintan memerah lagi. Ia tersenyum. Gadis pendiam itu tersipu.

Kamu tertawa. Aku senang melihatnya. Keberadaan kami yang hanya 15 menit dan berdesakan itu nyatanya mampu menghiburmu. Kami pamit, Bintan kemudian juga pamit, pulang bersama kami. Dia berjalan di sebelah Tasya yang memang dikenalnya. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengenal Bintan, hanya tahu saja. Hanya sekadar say hay jika bertemu. Selebihnya, kamu nanti yang membuatku tahu tentangnya.

Masih ada yang ngilu di hatiku. Mungkin ada senyawa yang tidak seharusnya berpadu dengan darahku mengalir, berdesir, ngilu.

Harusnya rumah sakit merupakan tempat yang tepat untuk menghilangkan ngilu ini. Sempat aku ingin bertanya tentang ngilu dadakan ini pada suster-suster yang dari tadi berlalu lalang. Tapi kubatalkan. Buat apa? Hanya untuk terlihat gila? Tapi ngilu ini sempurna membuatku melamun sepanjang jalan dari kamar VIP 7 menuju pintu keluar rumah sakit. Membiarkan Bintan dan Tasya membicarakan kamu. Entah apa, aku tak ingin mendengarnya. Kami bertiga kemudian naik angkot bersama.

“Makasih ya udah jenguk. Sampein juga buat teman-teman yang lain.” sms darimu.

“Oke. Nikmatin dulu sakitmu.” jawabku.

“Apanya yang dinikmatin? T.T”

“Kan kemarin kamu bilang jenuh dengan aktivitasmu, itu dikasih Tuhan jawaban. Aku bareng Bintan lho.”

“Hm, iya ya? Salam ya buat dia. Nanti kalo sudah membaik, aku minta waktu ya, mau telepon km, mau cerita.”

Walaupun bingung, aku mengiyakan saja. Kamu tidak membalas lagi sms itu.

“Bintan, dapat salam dari Razif. Ciyee.” kataku yang hari itu mulai mengenal Bintan.

“Dia sms kamu?” entahlah, kalimat itu tidak enak terdengar rasanya.

“Oh iya, cuma bilang makasih kok buat temen-temen, karena kebetulan kita bareng, dia nitip salam deh buat kamu.” aku menjawab dengan cepat bahasa curiga yang diekspresikannya. Gadis cantik itu tersenyum.

“Lucu ya orang pacaran itu, kenapa nggak bilang langsung aja? Hehe.” kataku berusaha menetralisir kekakuan yang tiba-tiba terasa.

“Ya gitu orang kasmaran itu, Kha. Malu-malu mau. Hihi.” kali ini Tasya menimpali.

Perempuan itu tersipu lagi. Razif, sungguh dia sangat pantas bersanding denganmu. Aku suka pribadi Bintan yang santun. Tentu saja wajar jika kamu sangat menyayanginya.

Sayang sekali, apa yang kita lihat sering kali belum tentu sama dengan apa yang ada di dalam hati. Ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi, nyatanya meluap begitu saja. Entah reaksi apa namanya. Aku mulai kesusahan membuat idiom Kimia lagi. Kamu pasti bisa melengkapi bagian ini. Bukankah kamu sekarang menjadi master Kimia (lagi) di kampusmu?

Kita belum tahu apa-apa soal menjaga kesucian hati saat itu.

Tetangga langit,

27 Juli 2012

7.23 WLH

Aaah, dari sekian versi lanjutan presipitasi yang kubuat, cerita ini yang akhirnya kupilih. Ditunggu kritik dan sarannya ya. Terima kasih untuk yang terus bertanya, “Himsa mana lanjutan Presipitasi?” πŸ™‚

Still to be continued..

belum baca cerita sebelumnya? baca klik presipitasi πŸ™‚

3 thoughts on “Presipitasi #5”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s