Uncategorized

Melupa

Bukankah pada hakikatnya manusia itu belajar? Belajar mengenal lalu mengerti. Belajar, lalu berubah karena pengertian. Belajar, lalu perlahan mengerti, hidup itu dinamis. Dan kalau boleh aku belajar untuk sebuah keadaan yang sering membuatku sesak, menumpahkan bulir-bulir bening dalam doa, padahal aku tahu tak seharusnya aku begitu, adalah melupa.
Melupa, bukan melupakan. Melupa, karena aku membiarkan diriku luruh dalam keadaan-keadaan di mana tentang sesuatu yang menyesakkan itu perlahan tak kupikirkan lagi. Melupa, untuk meraih keikhlasan. Biarlah naif cara ini. Dengan melupa, mungkin pelan-pelan segenap hal sesak akan meluruh, bukan mengendap. Jadi, tak membekas. Mungkin. Mungkin, dengan melupa, tentang hal yang bertahun menyesakkan ini bisa teratasi.
Melupa, bukan melupakan. Melupa bukan berarti aku tak ingat, tapi aku tak mau mengingat-ingat, sampai aku benar-benar tak ingat. Melupa, mungkin aku ingat dalam lupaku. Tapi lihatlah, begitu banyak perubahan dan kebaikan menanti. Maka haruskah aku mengingat hal menyesakkan, sementara kebaikan yang begitu besar menanti?
Luruhlah kamu, tak usah lagi mengendap. Endapanmu menyesakkan. Aku akan berjalan, lepas, tanpa andai dan sesal, tanpa endapan yang memenuhi ruang kosong jiwa. Aku akan melupa. Mungkin, sampai benar-benar lupa. Mungkin, sampai Tuhan menjelaskan tentang sebuah batas waktu padaku.

Pojok Biru 2,
14 Mei 2012
8.39 WHH

1 thought on “Melupa”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s