Uncategorized

Penat? Sejenak..

Malam . Aku membukanya sejak senja mulai memerah. Menatap langit yang sangat eksotis, juga hamparan danau dengan airnya yang tenang. Mereka menyebutnya danau galau. Memang sih, danau di manapun akan selalu menimbulkan suasana galau, tapi bagi yang melihat. Danaunya sendiri sebenarnya  tenang. Lihatlah, airnya tenang. Di atasnya, beberapa teratai mungkin sedang bertasbih, mengamini doa-doaku di senja yang siap menjemput malam ini. Danau ini, bagiku bukan menggalaukan, tapi menenangkan. Setidaknya, sedikit membuang penat yang –lagi-lagi—menciptakan presipitasi hitam di otakku.

Penat. Lagi-lagi penat pada semuanya, membuat raga harus pergi meninggalkan semua kewajiban untuk sejenak. Tak apa. Tinggalkan saja semuanya, jika penat kemudian menggeregotimu. Lepaskan saja. Sekadar duduk diam, menatap langit senja yang memerah menjemput malam, itu saja sebenarnya menenangkan. Lalu diamlah sejenak lebih lama. Tatap langit itu seakan masa depan sedang kauukir. Kamu mungkin akan tersenyum. Begitu pun aku. Seperti senja merah di langit yang menjemput malam itu, walaupun malam siap untuk menjemputnya, ia tidak tahu apakah bulan terang malam ini, atau cahayanya akan tertutup oleh hitamnya mendung, bahkan rintik hujan. Tidak ada yang tahu. Benar-benar tidak ada yang tahu. Kalau bulan saja bisa begitu mudah “dimainkan-Nya”, apalagi dengan hati, Dia bisa membolak-baliknya kapanpun.

Masih penat? Aku juga begitu. Lalu cobalah bercerita. Jika ada seseorang yang kaupercaya, ceritalah padanya. Atau kauragu? Berceritalah pada langit-Nya, atau pada udara-Nya, begitu banyak temanmu di sini. Engkau tidak diciptakan sendiri. Masih penat? Lihatlah lagi dirimu. Engkau mungkin memang harus berlari jauh dari rutinitas, atau bahkan mundur, sejengkal saja. Mungkin saja, mundurnya langkahmu yang sejengkal itu menjadi pijakan untukmu melompat lebih jauh lagi.

luangkanlah sejenak detik dalam hidupmu
berikanlah rindumu pada denting waktu
luangkanlah sejenak detik dalam sibukmu
dan lihatlah warna kemesraan dan cinta

 

Letto-sejenak

Sejenak saja, mari kita tinggalkan semuanya, untuk melihat lebih jauh pesona-Nya yang menenteramkan. Lalu jika tergenggam ketenteraman itu, segeralah tunaikan kewajibanmu, dengan semangat dan perasaan bahagia. 🙂

Terima kasih langit merah senja ini..

Terima kasih siapapun arsitek yang mendesain danau sederhana ini di kampus biruku

Terima kasih untuk kamu dan kamu yang senja ini menemani sejenak lamunanku

Terima kasih gadis manis yang menemaniku duduk untuk berbicara layaknya perempuan bicara 🙂 I love your way hearing and giving me advice.

Tentu saja untuk Abah yang teleponnya menenteramkan di sore hari ketikaku tertidur

Dan Ibu yang kekhawatirannya terkadang berlebihan, tapi itulah bukti sayangnya.

Sejenak saja, bercengkerama dengan waktu akan terasa membahagiakan. Tak perlu kaupaksa untuk berlari, ketika langkahmu tersendat.. Sekali lagi, berhentilah sejenak, atau bahkan mundur, selangkah saja. Karena mungkin, mundurnya langkahmu bisa jadi pijakan untukmu melompat lebih jauh. 🙂

-an advice for myself-

Di tengah senja memerah di pinggir danau

25 Maret 2012

Sekitar pukul 20.00 WLH

2 thoughts on “Penat? Sejenak..”

  1. tulisan yang bagus ttg “Penat”, mbak.. 🙂

    Mau berbagi juga ni dari apa yang aku dapat slama ini :
    “Tiada yang paling menenangkan di dunia ini ketika kita bisa menyatu dengan alam dan menyatu dengan sesama”…

    Keep Good Writing..

    #Franheit

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s