Cerita Fiksi

Presipitasi #2

lanjutan dari cerpen 1 berjudul RAGU 🙂 Semoga tidak kecewa dengan lanjutannya. Hehe.

_______________________________________________________________

“Tunggu.” kamu memanggilnya setelah daritadi diam mendengar ‘peringatan’nya. Dia sudah berjalan empat langkah dari tempatnya duduk meminum teh hangat bersamamu. Ke mana saja kamu dalam empat langkahnya itu?

“Kenapa? Kamu menyesal tidak buru-buru melamarnya?”

Ah, kamu kembali diam sebentar. “Bukan tentang itu. Kamu salah sangka, aku sudah berhenti menjadi Presiden Mahasiswa dua bulan lalu. Sekarang, aku cuma mahasiswa biasa yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya.” kamu masih saja tak tertebak. Tapi dia pasti kembali membaca isyarat semu verbal-nonverbal yang kautunjukkan itu.

“Tapi kamu tidak berhenti menyayangi Farikha kan?”

“Berhentilah membicarakan tentang sayang. Terima kasih sudah menemuiku hari ini.” katamu datar.

“Tunggu, kamu sungguh tidak penasaran bagaimana aku bisa tahu tentang kisah yang kamu rahasiakan itu?” dia bertanya lagi.

“Awalnya iya. Tapi bagaimana lagi, kamu tidak menjawab. Jadi, biar nanti aku cari tahu saja sendiri.” Sayangnya, dia tidak tahu tentang sifatmu yang satu itu.

Dia mengernyitkan dahi, “kamu lebih dari yang kupikirkan ternyata. Baiklah. Aku harus segera ke stasiun kalau tidak mau ketinggalan kereta. Meskipun aneh, tapi senang akhirnya menemukanmu di sini.”

Kamu tersenyum. “Sama. Sepertinya kita harus bertemu lagi untuk berbicara lebih jauh. Tapi tidak hari ini tentunya. Sore ini aku juga harus cepat-cepat bertemu dosen pembimbing.”

Dia mengulurkan tangan. Kamu—lagi-lagi ragu menyambut uluran itu. Masih kaku seperti tadi. Dia tersenyum. Seperti senyum seorang laki-laki yang bertemu sahabat karibnya. Kamu membalas senyum itu. Namun, ekspresimu aneh. Dia tidak bisa mendeskripsikan ekspresimu itu.

“Semoga besok lamaranmu lancar.” katamu sedikit gagap. Tanpa melihat matanya lagi, kamu kemudian berbalik badan, berjalan cepat meninggalkannya. Kamu tidak tahu saja, diam-diam, selama ini dia begitu jeli mengamatimu. Sore itu pun dia masih mengamatimu. Kamu bohong, kan? Tidak ada jadwal bimbingan dosen sore ini. Kamu berjalan menjauh menuju jalan yang pinggirnya dipenuhi kolam. Lalu melempari daun-daun teratai di kolam dengan bebatuan kecil lagi. Terus. Hingga akhirnya duduk diam. Meraih telepon genggammu. Dia tidak tahu lagi apa yang kamu lakukan. Karena dia memilih untuk segera pulang. Untuk misinya esok hari yang tadi dibicarakan padamu.

Saat itulah, telepon genggamku berdering. Nama yang jejaknya tidak ada sejak aku mengganti handphone-ku dua tahun silam, hari ini ada di layar. Memanggil.

“Assalamualaikum.” kataku, jelas saja gugup.

“Waalaikumsalam. Benar Farikha?”

“Tentu saja.”

“Oh, kukira kamu sudah menghapus nomorku di kontakmu.”

Menghapus? Bahkan aku hafal nomor handphone-mu.

“Hm.. Kalau sesuatu mengendap, endapan itu tidak akan hilang bukan? Kecuali ada sesuatu yang begitu besar menerjang endapan itu. Atau ada yang sengaja membersihkan endapan itu.” kamu tiba-tiba berbicara tentang endapan. Itu percakapan empat tahun lalu. Ah, tentu saja aku masih ingat.

“Dan biarkan mengendap, sampai datang masa kamu membersihkan endapan itu dengan cara yang suci.” jawabku melanjutkan kalimatmu, sama persis seperti pembicaraan empat tahun lalu. Tentu saja aku sengaja.

“Jika ada orang lain yang akan membersihkan endapan itu. Maaf, maksudku, ada senyawa lain yang diprediksi membentuk suatu reaksi yang lebih sempurna dengan senyawa yang selama ini menghasilkan endapan, apa mungkin senyawa baru itu juga bisa mengendap dan membersihkan endapan yang lama?”

Kamu entah berbicara apa. Kimia memang pelajaran favoritmu. Apalagi tentang reaksi elektrolisis dan endapan-endapannya itu. Tapi dari suaramu hari itu, Kimia seperti menjadi hal paling menyebalkan yang pernah kamu kenal.

“Dalam suatu percobaan, meskipun ada teorinya, kita tetap tidak pernah tahu apa yang terjadi sampai kita mencobanya. Kamu tentu lebih tahu tentang itu. Bukankah hipotesis itu tidak mesti benar?” jawabku santai. Aku masih tidak tahu apa-apa tentang kamu dan dia detik itu.

“Ya.” suaramu melemah.

Tut. Tut. Tut. Kamu mematikan telepon, menutup pembicaraan dengan mengambang. Aku diam saja. Mencoba menerka pikiranmu tapi tidak berani terlalu jauh. Bukan apa-apa, salah terka bisa menyakitkan nantinya. Saat itu, aku cuma berani bertanya. Ada apa? Tanpa berani mengingat lagi satu harapan yang pernah tertanam.

Pojok Biru 2,

29 Februari 2012

08.38 WHH

*still to be continued 🙂

4 thoughts on “Presipitasi #2”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s