Cerita Fiksi

Semoga Memang Jannah Untukmu :)

“Assalamu’alaikum..

Kawan, bsk aku insyaALLAH brngkt ke Manado, do’ana ya..:-)”

Tiba-tiba hatiku bergetar menerima pesan itu. Pukul 21.16 WIB. Ah, dia akan pergi. Sahabatku yang begitu perkasa akan jauh meninggalkan kita.

Memoriku berputar pada tiga tahun lalu. Seperti saat ini, waktu itu kita pun sedang bahagia berada dalam kost yang baru juga. Selang beberapa hari, datanglah perempuan baru menambah deretan teman kami di kost. Kesan pertama, dia perempuan biasa saja, tak ada yang istimewa dari dia. Penampilannya lumrah layaknya anak SMA baru.

Pemikiranku berubah ketika beberapa hari aku kenal dengannya. Ah, senyumnya itu akan membius setiap orang, seakan tak mengerti ada apa di balik senyum itu. Perlahan aku melihat segurat ketulusan terpancar dari setiap geraknya. Ada rasa salut terpancar. Aku kagum pada sosok itu. Sekarang aku katakan, dia bukan perempuan biasa. Entah sejak kapan, sebuah persahabatan pun terjalin di antara kita. Dari persahabatan itulah, terkuak kisah hebat yang bagiku lebih dari sekedar pelajaran berharga.

***

Pati, 27 Agustus 2007

Jantung kota Pati berdesir ramai seperti biasa. Anak-anak muda belia menikmati senja di sekitar alun-alun yang selalu ramai oleh para penjaja kaki lima. Kota kecil itu entah mengapa mempunyai kesan tersendiri bagiku. Aku sendiri sedang menikmati bakso di pinggiran alun-alun, bersama seorang kawan yang sudah kukenal sejak aku SMP hingga kini aku belum genap dua bulan menjadi siswa SMA N 1 Pati. Ia juga teman sekamarku di kost.

Rumahku jauh di desa, sudut utara kabupaten Pati, mungkin 40 km untuk sampai ke sekolah. Anehnya, aku sudah memutuskan sekolah di kota kecil ini sejak SMP. Sejak itulah aku mengenal Eka, yang kemudian menjadi teman sekamarku di kost. Kita tidak satu sekolah, ia siswa SMA 2, tapi bagi kami itu bukan suatu perbedaan.

“Bila asmaraku telah tiba, merenggut nafas di jiwa..”

Pengamen yang selalu menjadi ‘ciri khas’ alun-alun kota kecil ini menghentikan lamunanku. Eka, yang sedang menyeruput es jeruk mengambil beberapa receh di sakunya. Si pengamen masih asyik mendendangkan tembang ST12 yang memang sedang naik daun, lalu berhenti ketika Eka memberikan recehnya. Aku tersenyum.

“Biasa, Ros. Pajak. Abis ini kalau ada lagi gantian kamu ya.” Eka menggodaku sambil terkekeh.

“Iya deh, ayo cepet habisin baksonya, biar gak kena pajak lagi.” sahutku.

“Ah curang kau ini.”

Aku tertawa lagi, “Lagian udah mau Maghrib juga, Ka.”

“Iya deh..”

Beberapa menit kemudian kami pulang. Aku membonceng di sepedanya. Jarak alun-alun ke kost tidaklah jauh. Kami menikmati sekali perjalanan itu sambil sesekali bercanda, hingga tidak terasa kami sampai di kost.

Aku sedikit kaget ketika sampai di ruang TV, ada sosok baru yang tak pernah kulihat sebelumnya di kost kami. Aku dan Eka berpandangan sejenak. Anak itu tersenyum. Aku yakin, ia pasti penghuni baru di kamar ujung.

“Namaku Jannah, aku sekolah di SMK 1.” katanya ramah menjawab ketidakmengertian kami.

Aku dan Eka tersenyum lalu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Sejak hari itulah, kami bertiga seperti tiga sejoli.

***

 “Eka, Rosi, boleh pinjam hape kalian nggak buat sms Bapak? Uang kostku belum ada.” kata Jannah suatu hari.

Aku dan Eka sama-sama menyodorkan hape. Ia tersenyum, lalu mengambil salah satu hape kami. Aku salut, ketika para remaja seusianya sedang asyik mencari hape terbaru, ia sedikitpun tidak pernah mengeluh karena tidak memiliki hape. Ia hanya meminjam seperlunya pada kami, jika membutuhkannya.

Jannah sedang ditelepon ayahnya. Aku dan Eka hanya mengamati. Beberapa saat kemudian, sosok itu tersenyum. “Belum ada uang, bagaimana lagi, kata Bapak nunggu kiriman dari Bu Dhe.”

Subhanallah. Begitu ikhlasnya ia menerima semuanya. Ia seorang perempuan tegar. Ia melenyapkan mimpinya untuk sekolah di SMA demi keluarganya. Hampir saja ia tak bisa meneruskan sekolahnya kalau ia tak memiliki Bu Dhe—kakak dari ibu—yang membantu biaya sekolahnya. Ia tidak meminta macam-macam seperti anak-anak lain yang menginjak remaja, bahkan hape pun ia tak meminta. Ia tak memungkiri, kadang ia iri dengan orang lain yang kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan mudah. Tanpa ia sadari, ia sebenarnya jauh lebih kaya.

Walau hidup pas-pasan, Jannah bukan orang yang pelit. Pernah suatu ketika ia mendapat upah hasil magang (SPG), ia memaksa kami agar mau ditraktir.

“Cie, dapat gaji, traktir donk.. Sup buah di alun-alun lumayan tuh.” gurau Eka meledek Jannah yang bahagia mendapat uang saku dari kantornya.

“Ayo, boleh. Ntar sore ya..” jawabnya ringan sambil tersenyum.

Kami justru terdiam.

“Kamu nggak ada keperluan lain, Jan? Kalau ada perlu yang lain, buat yang lain dulu aja.” kataku sehalus mungkin. Bukan apa-apa, kami tahu Jannah lebih membutuhkan uang itu.

“Hei, gantian donk aku yang traktir kalian. Alhamdulillah mumpung ada rezeki nih. Buat yang lain, gampang deh, Allah Maha kaya.” Ia tersenyum lagi. “Awas ya kalau nggak mau.. Pada gaya nih.. “ kali ini ia terkekeh.

Ia mencubit pinggang Eka, Eka lalu mencubit pinggangku. Kami tertawa bersama. Sore itu, kami bertiga bersepeda ke alun-alun dan membeli es buah. Entahlah, es buah sore itu terasa lebih nikmat dari biasanya.

Ada satu yang begitu membekas dari persahabatan kita. Hari itu, 25 November 2009, tepat di ulang tahunku yang ke-17, aku tidak menemukan Jannah dan Eka di kost ketika aku pulang sekolah sore hari. Padahal biasanya setiap pulang sekolah, aku mendapati mereka sedang menikmati drama korea di ruang TV. Aku bertanya pada teman-teman yang lain.

“Tadi pinjem motorku, Mbak, mau ngembaliin komik katanya.” kata Ayu, salah seorang adik kostku.

“Oh.. Nggak biasanya bawa motor, biasanya bawa sepeda. Makasih ya, Yu.”

Usai istirahat sejenak, aku mandi. Menjelang adzan Maghrib tiba, aku baru melihat mereka pulang. Kami solat berjamaah di mushola kecil di depan kost kami. Eka dan Jannah entah kenapa terlihat begitu aneh. Setiap aku tanya kenapa, mereka hanya tersenyum dan mengatakan tidak ada apa-apa. Barulah usai solat Isya, mereka mengaku bahwa mereka jatuh dari motor. Alhamdulillah mereka tidak terluka parah, hanya beberapa memar yang tidak terlihat di beberapa bagian tubuh mereka. Ada yang unik kala itu. Kami mengumpulkan uang kami untuk biaya ongkos perbaikan motor Ayu.

Esoknya, sepulang sekolah, aku membuka lemariku. Kudapati sebuah kado berbentuk persegi panjang. La Tahzan for Teen’s Love. Sebuah buku yang memang kucari sedang dalam genggamanku.

“Kami bukan orang yang pandai merangkai kata, semoga buku ini bermanfaat.

Eka dan Jannah”

Aku tersenyum lalu air mataku menetes dengan sendirinya. Perlahan aku menyadarinya, kemarin mereka bohong padaku. Mereka jatuh karena ingin cepat-cepat membeli buku ini untukku. Oh, Kawan, buku ini tentu akan sangat bermanfaat. Aku segera berlari menghampiri mereka. Kepeluk mereka dengan air mata yang masih menetes.

***

5 Agustus 2010

Aku masih memandangi layar hapeku. Sms dari Jannah masih membuatku diam terpaku. Kami sudah tidak bersama lagi. Masa SMA kami sudah usai. Eka melanjutkan kuliahnya di jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang. Sementara aku sedang bersiap ke Bandung untuk registrasi ulang. Jannah sendiri tidak bisa melanjutkan kuliahnya.

Kami pernah bermimpi bersama dahulu. Aku akan kuliah di UI, Eka di Semarang dan Jannah di STAN. Aku sendiri akhirnya terdampar di Bandung. Jannah begitu bermimpi bisa kuliah di STAN. Selain gratis dan ikatan dinas, ia punya tujuan. Tujuannya sangat mulia. Ia ingin memperbaiki taraf hidup keluarganya. Semuanya sudah ia dedikasikan untuk keluarganya. Sungguh ia perempuan berhati mulia. Ia tidak bermimpi lebih untuk dirinya, tapi untuk keluarganya.

Jannah tidak diterima di STAN.

“Kamu anak tertua, Jan.” laki-laki separuh baya itu berkata bijak. “Adik-adikmu juga masih sekolah. Ayolah, Nduk.”

Janah terdiam. “Manado jauh, Pak.” Ia menunduk.

“Kamu bisa telpon kalau kangen.”

Jannah masih terdiam. Sempat terpikir di benaknya untuk mencari kerja di Pati saja. Atau paling jauh di Semarang, Solo atau Jogja. Tapi di Manado, pamannya sudah menyiapkan segala sesuatunya. Ia akan langsung mendapat pekerjaan di sana. Ia akan menjadi kasir di sebuah swalayan produk kosmetik. Biaya transportasi pun sudah ditanggung pamannya.

Batinnya menjerit. Memilih Manado berarti meninggalkan Pati, jauh dari keluarga juga sahabat. Menolak artinya ia menolak kebaikan pamannya juga menolak kebaikan untuk adik-adiknya kelak. Aku tak bisa bayangkan berada di posisinya.

Sms yang aku terima sudah menjawab kekhawatiranku. Jannah sudah pergi meninggalkan Pati. Ia memang jannah. Ya, ia seperti surga. Bermodal tiket dari pamannya, ia pergi sendiri ke Surabaya lalu terbang ke Manado. Lihatlah, mungkin aku dan remaja lainnya sedang bermimpi atau bersiap menikmati bangku kuliah. Tapi ia terbang jauh untuk menggapai impian adik-adiknya. Mungkin orang lain yang sudah diberi kesempatan kuliah di STAN—impian Jannah—sedang mencari kost atau bahkan mengeluh karena hanya bisa mendapatkan kost sederhana. Tapi lihatlah, perempuan itu tersenyum melepas mimpinya. Aku sendiri bahkan tidak tahu apa sebenarnya mimpi besarnya. Semuanya tertutupi oleh mimpinya untuk membahagiakan orang tuanya.

Terakhir, ia hanya mengirimkan email untukku dan minta doa supaya tetap bisa menjaga iman di sana.

Doakan aku teman. Doakan aku agar hijab ini masih menempel di tubuhku. Doakan aku agar iman ini tetap kupegang di tengah lingkungan yang kutinggali sekarang. Tetap semangat ya.. Allah pasti mendengar doa hambanya. Tetap bermimpi, Teman.

Sekarang aku terdiam. Aku merindukannya.

Bandung,

Pojok Biru 2

Minggu, 17 Oktober 2010

22:10 WIB

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s