Uncategorized

Bingkai Impian dalam Tulisan

Di bingkai jendela rumahku pagi ini, aku bisa melihat Langit membiru. Jingga mentari sedikit sudah tampak. Mahkota masjid dibalut daun-daun pohon kelapa juga terbingkai indah dari jendela kamar yang kusebut Tetangga Langit ini. Semua itu mengingatkanku pada satu kata bernama impian. Mengingatkanku pada tulisan-tulisan yang urung kubagi kepada orang lain. Mengingatkanku pada setiap lembar harapan yang pernah kutuliskan.

Pagi ini, saat bingkai jendela kamarku kembali memotret keindahan langit, aku ingin berbagi lagi.

Kawan, jika semua keindahan itu mengingatkanku pada sebuah impian, maka hari ini pun aku akan bercerita tentang sesuatu bernama impian. Aku selalu menuliskan impianku. Entah dalam bentuk cerita, dalam daftar-daftar yang akan kucoret ketika aku berhasil meraihnya, atau bahkan dalam sela-sela catatan kuliahku. Semua itu menyenangkan, Kawan. Ada senyum haru saat kita mencoretnya. Ada keindahan sebuah penerimaan dan semangat ingin meraihnya lagi ketika impian tersebut belum terwujud.

Impian yang kutulis terkadang sangat sederhana. Misal: Jalan-jalan sama Temen-temen Kosan. Sangat sederhana, kan? 😀 Jalan-jalan, terkadang sesuatu yang tidak penting, tetapi kalau tidak diluangkan pun tidak akan pernah terwujud kan? Makanya kutuliskan, sebagai alarm, hehe. Kalian juga bisa melihat impian-impianku yang lain di sini. Cerita Ayin adalah salah satu impianku. Sedikit konyol sih memang. Tapi aku tidak peduli.

Allah memang penulis skenario yang sangat handal. Manusia hanya berencana dan Dia penentu yang sangat adil. Selagi masih diizinkan untuk berencana, kenapa tidak kita rencanakan mimpi-mimpi kita? Bagiku, impian-impian yang kutuliskan adalah sebentuk proposal harapan yang kukirim kepada Tuhan. Terserah Dia untuk memberikan ACC atau tidak, yang penting aku sudah mengajukannya. Jika ternyata impian itu tidak terwujud, masih ada jurus lain yang ampuh kok. PENERIMAAN. Memang tidak mudah dan butuh proses, tapi penerimaan dan perdamaian terhadap keadaan akan membuat kita menjadi manusia yang lebih kuat dan bijaksana. 🙂 Aku juga selalu belajar tentang itu.

Selamat menuliskan impianmu, Kawan! Semoga dengan itu, kalian akan semakin bersemangat meraihnya. Tulisan ini juga kutulis untuk menyemangati diriku sendiri, menjadi alarm untuk terus bersemangat menjalani semuanya.

Tetangga langit,

6 Februari 2012

06.32 WLH (Waktu Laptop Himsa)

*note: Ada yang pernah bertanya kepadaku, “Kamu mau ending yang seperti apa?”. Aku tidak pernah menjawabnya secara langsung, tetapi aku membuat cerita sendiri. Sebuah ending versiku. Lucunya lagi, ada beberapa paragraf yang bahkan sekarang terjadi persis sama seperti yang kutulis. Hahaha. Konyol memang. Tetapi ini kenyataan. Aku juga tahu, tidak semua paragraf yang kutulis itu akan terjadi persis sama seperti yang kumau. Sekali lagi, ada Sang Penentu yang sangat adil. Maka biarkan saja cerita-cerita itu kubingkai dalam tulisan ini ada sebagai sebuah doa.

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s