Cerita dan Celoteh

Iri?

“Aku iri sama kalian. Aku iri sama semangat kalian. Aku iri pada apa yang kalian dapatkan di tempat kalian berada. Aku iri pada cara kalian menikmati bangku kuliah.” kataku pelan, ketika mengunjungi sahabatku di UGM, Jogja, beberapa waktu lalu. Saat aku mengatakannya, aku sudah hendak berpamitan pulang.

“Ah, kamu salah. Kita yang iri sama kamu. Kita yang iri sama prestasi kamu di sana. Kita yang iri pada bagaimana cara kamu mengambil kesempatan dan memanfaatkannya.” jawab temanku dengan penuh senyum. Jawaban itu, menemani seluruh perjalanan pulangku ke rumah.

Bagaimanalah? Aku iri pada orang yang juga iri padaku? Awalnya aku mengumpat. Bagaimana mungkin dia iri padaku? Temanku itu kuliah di UGM–salah satu universitas favorit di negeri ini– yang tentu saja memiliki fasilitas luar biasa. Melihat gedungnya, menikmati panoramanya, mengitari setiap fakultasnya saja membuatku berdecak kagum dan membuatku menunduk sedikit. Itu jauh lebih baik dari keadaan kampusku. Tapi untuk iri padaku? Ah, rasanya dia salah.

Aku terus saja memikirkan kalimatnya. Iri? Aku memang iri, tidak kupungkiri itu. Tapi dia iri padaku? Aku masih saja diam. Kemudian, aku mencoba mencari celah, mengubah sudut pandangku pada diriku sendiri. Dari yang biasanya melihat kekurangan dan kekurangan, untuk kemudian melihat sedikit kelebihanku. Hei, dia benar! Kau tahu apa ibrah yang kudapatkan dari kejadian iri itu, Kawan? Yaa, aku menjadi lebih bersyukur.

Ah, bukankah manusia itu begitu? Melihat dirinya kurang dan melihat orang lain lebih, lalu muncullah penyakit hati bernama iri itu? Yaaa, tidak perlulah rasa iri itu diteruskan. Karena saat kita iri atas sesuatu pada diri seseorang, tanpa kita sadari, orang itu juga sedang iri pada diri kita. Mengapa? Karena setiap manusia memandang orang lain dengan sudut pandang yang berbeda. Maka, yang perlu kita lakukan adalah: melihat diri kita sendiri dengan sudut pandang yang berbeda. Dalam mengevaluasi diri, tidak selamanya kita melihat kekurangan dan memperbaikinya, tapi kita juga perlu melihat kelebihan kita untuk bersyukur, dan tentu saja, untuk meningkatkan potensi yang lebih tersebut.

Dan di tengah-tengah perenunganku tentang tiga huruf ini, kemarin saya membaca twit salah satu sahabat saya, isinya begini: “saya iri sama temen-temen SMA yang bisa menikmati liburannya ke mana-mana. Sedangkan saya?”

Jujur, saya tertawa membaca twitnya. Sebagai salah satu teman SMA-nya, saya termasuk objek iri dia dong? Tanpa dia tahu, sebelum itu, saya juga sering iri dengan aktivitas-aktivitasnya, dengan produktivitasnya, walaupun masa liburan telah tiba.

Jadi? Hahaha, begitulah manusia, sering saling iri. Yaa, karena manusia itu memang tempatnya khilaf, penyakit hati seperti iri itu pasti akan ada. Yang perlu kita lakukan adalah, tampar rasa iri itu, jangan biarkan berlarut. Ingat, bahwa saat kita kita iri pada orang lain, tanpa kita sadar, orang lain juga sedang iri pada kita.

Baiklah, ayo coba objektif pada diri sendiri dengan melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda.

Jangan iri lagi ya, Hims!

-sebuah tamparan untuk diri sendiri-

Bandung, 23 Januari 2012

1.38 WIB

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s