Cerita dan Celoteh

Ketika Waktu Menunjukkan Batas

Apakah kalian pernah merasakan ingin mengikuti sesuatu hal tapi tidak bisa karena keterbatasan umur? Mungkin saja kalian ingin menonton suatu film tapi tidak bisa karena belum tujuh belas tahun, atau ingin mengikuti suatu konferensi tapi tidak bisa karena syarat maksimal umur adalah delapan belas tahun. Menyakitkan bukan? Dua hal itu memang menyakitkan, namun yang kedua lah yang lebih menyakitkan. Ya, tidak bisa melakukan sesuatu hal karena belum cukup umur sepertinya masih bisa ‘ditolong’, artinya kita bisa melakukannya nanti ketika umur kita sudah mencukupi. Tapi, tidak bisa ikut atau melakukan sesuatu karena umur kita sudah lewat berarti benar-benar tidak ada harapan lagi.

Sedikit terdengar kejam memang. Namun jika kita kaji lebih lanjut, siapa sih yang salah di sini kalau tidak diri kita sendiri? Mari kita introspeksi sebentar melalui pengalaman saya berikut ini.

Akhir-akhir ini, saya searching informasi tentang lomba kepenulisan yang barangkali bisa saya ikuti. Ada salah satu lomba yang menurut saya menarik. Ketika saya klik dan saya baca persyaratannya, saya langsung menghembuskan nafas kecewa. Lomba hanya diperuntukkan untuk pelajar SMA, sementara saya sekarang sudah menjalani kuliah semester 3. Saya pun diam dan mencari informasi yang lain. Lagi-lagi saya harus kecewa ketika menemukan suatu lomba yang menarik. Peserta lomba maksimal harus berumur delapan belas tahun, sedangkan umur saya beberapa hari lagi sudah sembilan belas. Ada perasaan kesal. Mengapa harus ada batasnya?

Lalu saya menemukan kembali sebuah lomba menulis yang persyaratannya ditujukan untuk peserta berumur di bawah 23 tahun. Barulah saya bernafas lega. Hmm, perlahan, dalam diam, saya mengerti satu hal. Hidup itu memiliki batas, apalagi hanya sekadar lomba.

Ya, semua sudah dikasih jatah sendiri-sendiri bukan? Termasuk waktu, semua ada masanya sendiri. Saya baru mengerti, dulu ketika SMA, bukankah banyak sekali kesempatan yang saya siakan? Kini, ketika masa itu sudah lewat, saya baru mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya saya lakukan dulu ketika masih SMA. Terlambat sekali. Tapi menyesali keterlambatan itu terlalu jauh juga sama saja kita membiarkan lagi diri kita menyesal di masa depan atas sesuatu yang kita lakukan sekarang.

Ketika saya membaca persyaratan peserta yang boleh mengikuti lomba tersebut adalah berusia di bawah 23 tahun, saya memang bernafas lega. Tapi, dari hal tersebut saya mengerti bahwa sebuah ritme semangat harus dipacu lagi. Mungkin nanti, ketika Tuhan masih mengizinkan saya untuk menghirup nafas di usia 24, saya juga sedang membaca informasi lomba yang syarat pesertanya harus berusia di bawah 23 tahun. Dan saya tidak mau lagi menyesal jika saat itu tiba. Saya ingin mengatakan, “Oh saya sudah pernah mencoba dulu pas usia saya 19, sekarang saatnya mencari tantangan yang lain.” atau bahkan, “Wah, lomba yang sejenis ini dulu saya jadi juaranya ketika usia saya masih 19.” (Amin).

Ya, semua sudah didesain memiliki masanya sendiri-sendiri. Memang tidak mungkin untuk terus merangkak ketika yang lain sudah berlari. Maka kejadian ‘syarat usia maksimal’ mencabuk semangat saya untuk terus melakukan yang terbaik di hari ini. Saya tidak boleh lagi membiarkan sesuatu hal membuat saya menyesal di masa depan. Dan biarlah yang berlalu tetap berlalu untuk menjadi instrospeksi di hari ini. Biarkan Allah menjadi hakim. Tugas kita hanya melakukan yang terbaik, Dia yang akan menentukan apapun yang terjadi di masa depan. Ketentuannya tak pernah meleset. Rumusnya pasti. Dan pasti memiliki hikmah.

Semoga kalian yang membaca tulisan ini bisa mengambil hikmah atas apa yang saya alami. Semoga tetap semangat. Masa depan bisa kita raih, namun masa kini tidak bisa kembali lagi di masa depan. Ia akan menjadi masa lalu. Dan benarlah jika Imam Syafi’i mengatakan bahwa hal yang paling jauh di dunia ini adalah masa lalu. Sejauh apapun kita mencari, masa lalu tidak akan pernah kembali. Bahkan sepersekian detik yang lalu pun tidak mungkin kembali.

Hm, saya diam. Tulisan ini intinya mengingatkan saya sendiri untuk bisa memanfaatkan waktu dengan baik saat ini. Sebelum saya mencapai batas waktu, selagi masih banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan, maka harus dilakukan. FIGHTING! Khairunnas anfauhum linnas.

Kebahagian terbesar untuk seorang penulis adalah ketika tulisannya bisa bermanfaat untuk orang lain. Semoga bermanfaat.

Pojok Biru 2,7

Senin, 7 November 2011

17.50

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s