Cerita dan Celoteh

Senyum :)

Aku sedang membersihkan kolong-kolong meja, lalu sosok tinggi tiba-tiba saja masuk tanpa kusangka. Aku seperti pernah melihat sosok itu. Tapi sekarang ia lebih kurus. Tak berani aku melihatnya lebih jauh. Aku hanya sempat memperhatikan celana jeans hitam dan kemeja putih yang dilipat sampai siku. Wajahnya, ah, aku tak berani meliriknya.

Aku sudah selesai menyapu. Sosok tinggi itu duduk di deretan depan, bersebelahan dengan tempat dudukku. Ingin sekali aku menatapnya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin melihat seperti apa wajahnya sekarang. Tapi aku benar-benar merasa sulit untuk menoleh ke kanan. Suasana kelas itu begitu hening. Aku bahkan bisa menghitung dengan sekali kedip berapa orang yang ada di dalamnya. Mungkin hanya aku, dia, dan lima orang lainnya yang tersebar di sudut-sudut ruangan. Aku tidak tahu untuk apa aku ada di kelas pagi itu.

“Sekarang sudah nggak latah lagi ya?”

Hatiku berdesir begitu kuat. Pemuda itu masih mengingatku. Ia menyapaku dengan sapaan paling aneh dari segala sapaan yang ada dalam pelajaran bahasa Indonesia. Kali ini ku beranikan diri memutar kepalaku 90 derajat ke kanan. Ia tersenyum. Senyum yang amat kurindukan. Senyum yang pernah menenangkan tangisku, juga senyum yang sekarang membuatku meneteskan air mata. Tak bisa kudeskripsikan bagaimana perasaanku pagi itu.

“Eh…” tak ada kata berani kuucapkan. Aku membalas senyumnya dengan masih sangat tersipu.

Lalu entah kenapa dia harus keluar ruangan. Ah, kenapa begitu sebentar? Tidak tahu kenapa, akhirnya aku juga harus keluar ruangan. Kemudian setting berubah menjadi sebuah rumah sakit. Aku melihat sosok itu lagi. Wajahnya pucat. Kali ini aku menyapanya. Bukan sapaan aneh, hanya senyum. Itupun sambil lewat. Dia hanya membalasnya dengan senyum. Entah senyum yang ini terasa lain, begitu lesu, seperti ada sakit yang dideranya.

Krek. Krek. Hapeku berbunyi. Sebuah sms membuatku kembali ke alam nyata. Pukul 2 pagi. Aku diam. Kuraba pipiku. Masih basah. Ah, andai senyum dan sapaan aneh itu benar-benar terjadi. Dadaku masih sesak, entah sesak untuk apa.

“Beristighfarlah.” Begitu bunyi sms yang membangunkanku. Dari dia yang ada di mimpiku. Ini sms pertamanya setelah berbulan-bulan kita tidak pernah dipertemukan, juga tanpa komunikasi. Tapi bagaimana dia tahu aku mengkhawatirkannya? Aku menangis pelan, menyadari bahwa sinyal dari-Nya jauh lebih kuat dari 4G sekalipun. Kubiarkan saja sms itu. Aku yakin pasti dia mendengar semuanya tanpa harus kubalas sms itu. Aku pun berwudlu, bersujud. Tak peduli apa arti senyum indah dalam mimpi itu. Aku tahu, Allah begitu mengerti tentang ini.

Ketika rindu sudah mulai menyesakkan dadamu, beristighfarlah, Dia pasti akan melegakan sesak itu.

Suatu subuh di Agustus  2010

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s