Uncategorized

Balon-Balon Sabun untuk Fatiha

Desember 2018

 

Hari ini, Abi ingin memberikan kejutan rahasia untuk Fatiha. Ah, sebenarnya Abi memang sedikit konyol, Adek Fath kan masih berumur bulan, mana tahu dia soal kejutan. Tapi Abi hanya sedikit ketularan oleh kekonyolan Mama. Abi tidak tahu apa kejutan yang ingin diberikannya. Ia, sekali lagi, hanya mengikuti kekonyolan Mama. Toh bagi Abi, tak ada salahnya, sekali-kali membiarkan Mama bahagia dengan kekonyolannya. Ayin, lagi-lagi sok dewasa. “Abi itu aneh. Mending kejutannya untuk Ayin. Ayin kan mau dibeliin Robokop.” gerutunya sambil mengelus kepala Adek Fath yang ada di pangkuannya. Ia duduk di belakang. Mama di depan menemani Abi nyetir. Tadi Ayin sengaja meminta Adek Fath menemaninya duduk di belakang. Ah, Ayin juga aneh. Sok dewasa sekali. Bocah empat tahun itu memang lucu, kadang-kadang membuat Abi dan Mama geleng-geleng sendiri.

Dengan segala berat hati, Mama akhirnya membiarkan Adek Fath duduk di belakang bersama Ayin. Ayin senang bukan main, walaupun sebenarnya masih sebal dengan alasan kepergian mereka. “Ayin itu mau nonton cerita lanjutannya Ultraman, Abi. Ayin kan mau libur di rumah. Eh, sekarang malah pergi, katanya mau ngasih kejutan buat Adek. Aaaah. Apa sih kejutan itu, Abi?”

Ayin masih protes, abinya hanya tersenyum sambil terus nyetir. “Sayang, kamu kok nontonnya Ultraman sih? Itu film jaman Abi kamu masih kecil. Nanti deh, kita cari cerita robot yang lebih seru.” sahut Mama.

“Abis yang ditonton Abi itu sih, Ayin kan cuma ikutan Abi, Ma.”

Abinya terkekeh, “Hahahaha, Iya, Ayin, nanti kita cari DVD cerita robot paling baru deh.” kali ini Abi menyahut.

“Tapi Ayin nggak mau ke Bandung.”

“Yakin nggak mau ke Bandung?” Abi berhenti, lalu menoleh pada Ayin. “Nonton film di rumah masih bisa lagi kapan-kapan, Sayang. Ayin mau ke tempat kodok yang waktu itu lagi nggak? Pokoknya kita mau ngasih kejutan ke Adek ya. Masa sih di Bogor mulu jalan-jalannya.” Abi tersenyum, lalu bersiap menginjak pedal gas lagi.

Bogor belum jauh mereka tinggalkan. Langit-langitnya masih membiru. Hanya saja rumah sederhana mereka yang biru sudah tak terlihat oleh mata, walau pun baru beberapa kilo meter mereka tinggalkan. Ayin masih manyun, ia ingin di Bogor akhir pekan ini, entah apa alasannya selain menonton film robot itu.

Adek Fath tertidur di pangkuan Ayin. Bocah laki-laki itu rupanya pintar juga me-ninabobo-kan adiknya. Mama menoleh, memastikan semuanya baik-baik saja.

Jalan Setia Budi macet. Di jalan menuju Lembang itu memang tak pernah sepi, apalagi saat weekend tiba. Mobil-mobil plat selain D memenuhi jalan raya. Abi berfiuh sambil memainkan jarinya pada stir mobil. “Aaah, nyampe sini juga macet kan ya? Aaah, Abi, Lembang masih jauh nggak?” gerutu Ayin lagi.

“Abis ini kita sampai terminal Ledeng, terus belok, ntar nyampai Sayang. Sabaaar, di sana seru, Sayang.” sahut Abi sabar.

Mama tidak memperhatikan percakapan dua lelaki dalam keluarganya itu, matanya mengarah ke luar. Balon-balon air dengan ukuran cukup besar beterbangan indah, lalu menghilang. Apalagi Bandung sore itu mendung, sungguh Mama sangat menyukai suasana ini.

“Abi, jangan jalan dulu yaaa, Mama mau beli itu.”

“Apa, Ma?”

Mama tidak menjawab pertanyaan Abi, pelan ia berjalan menghalau beberapa mobil, lalu menghampiri abang penjual balon air. Mama membeli dua botol besar.

“Untuk apa, Ma?”, tanya Abi ketika Mama masuk kembali ke mobil.

“Surprise untuk Adek.”

“Ayo Abi, jalaaaaaaan.” teriak Ayin. “Ini Adek Fath udah kangen kasur.”

Mereka pun tertawa kembali. Mobil mereka berjalan walaupun melambat. Abi menikmati sekali perjalanan itu, apalagi sudah berhari-hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya.

***

Villa Hijau

Ciwangun

“Abiiii, Ayin mau naik kuda lagi ah.”

“Udah lupa sama ultraman?” goda Mama.

“Nggak.” Jawab Ayin masih ketus.

Abi menggendong Adek Fath, Mama mempersiapkan banyak hal, entah apa saja, kemudian Mama memaksa mengajak keluar ruangan. Bandung masih mendung.

“Ini dia kejutan untuk Adek Fath!!!”

“Apa Mama?” tanya Ayin.

“Balon-balon sabun.”

“Jadi dari kemarin Mama ngajak ke Bandung itu cuma pengin beli itu di Setia Budi?”

Mama mengangguk puas, lalu meniup balon-balon air itu. Abi tertawa, ada-ada saja istrinya itu. Tapi ia sayang, sayang sekali padanya, juga keluarganya.

Ayin tiba-tiba jadi ikut antusias, ia ikut-ikutan Mama, meniup balon air tersebut. Abi masih menggendong Adek Fath. Adek Fath sendiri tertawa, walaupun giginya belum ada satu pun. Tidak ada yang tahu, di antara empat orang yang sedang bahagia itu, Abi lah yang paling bahagia di antara mereka. Abi lah yang merasa begitu bersyukur bisa melihat keceriaan Mama yang dulu selalu dirindukannya. Abi lah yang paling antusias melihat Adek Fath tertawa.

Mama berhenti meniup, Ayin kemudian menjadi paling bersemangat. Ia 100 X lebih jago dari Mamanya. Mama malah tertawa kecil, tawa bahagia, lalu mendekat pada Abi dan Adek Fath. “Terima kasih, Ma, atas ide konyolmu. Jauh sekali kita ke Bandung, ternyata hanya untuk dua botol balon sabun. Tapi ini membahagiakan.” Abi berbisik pada Mama.

“Bukan itu Abi, Mama hanya ingin kita berkumpul lagi di sini, sebagai sebuah keluarga. Tanpa pekerjaan Abi. Maafkan Mama, sekali saja Abi. Bogor, di rumah kecil kita yang biru itu, sebenarnya semua jauh lebih indah. Hanya Mama ingin kita merasakan sesuatu yang berbeda.”

“Mama selalu tahu bagaimana membuat Abi sejenak tersenyum bahagia, tidak hanya sebagai seorang Razif, tapi juga sebagai Abi dari Ayin dan Fatiha.”

“Abi lebay.” Mama tertawa kecil.

“Mama lebih lebay. Konyol.”

Ayin masih meniup balon-balon itu, kadang juga hanya mengibaskannya di udara sambil berlarian.

“Mama, Ayin seneng, tapi minggu depan kita di Bogor aja yaaaa.”

“Iya, Sayang.” kata Mama.

Tuhan, balon-balon air hanya buih karena rasa syukur mereka yang membuat mereka bahagia. Karena perasaan saling menerima yang indah.

“Maafkan Abi kalau Abi terlalu sibuk.”

“Tidak, Mama bahagia. Tidak ada yang dimaafkan Abi.”

Pojok Biru 2,

23 Oktober 2011

13.39

terinspirasi di angkot Kalapa-Ledeng, ketika macet di Setia Budi

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s