Uncategorized

Ini Kawasan PENDIDIKAN Telkom, Kawan :)

Kamis, 13 Oktober 2011

Dayeuh Kolot, Kampusku berdiri megah bersama dua kampus lainnya.

Inilah kawasan yang biasa disebut Kawasan Pendidikan Telkom. Sayang, perjalanan ‘nyasar’ sore itu membuatku berkata, “Ini ironis sekali.”

Sore itu, sebenarnya tak ada niat secara khusus menyusuri daerah yang disebut kawasan pendidikan Telkom ini. Niat awalku hanya ikut menemani dua orang sahabat untuk suatu keperluan di ITT. Kami pergi bertiga dan alhamdulillah terdampar di MSU (Masjid Syamsul Ulum) ITT. Di sanalah, bagiku perjalanan hebat ini dimulai. Empat orang anak kecil dengan jilbab uniknya itu mungkin sarana dari Allah untuk perjalanan ini. Ya, empat anak kecil itu menarik perhatianku. (Sebenarnya aku selalu tertarik dan agak sedikit lebay sih tiap ada anak kecil. Hehe). Empat anak kecil itu juga kemudian menyapaku, “Kakak, kakak namanya siapa?” Jadilah aku semakin bahagia. Mereka kemudian mengajakku bermain, permainan yang sangat tradisional, tapi cukup menyenangkan. Permainan dengan menggunakan sepuluh jari tangan. Haha, anak kecil memang selalu menyenangkan.

Dua sahabatku dan aku kemudian berinisiatif untuk mengajak adik-adik belajar di Lingkar Pelangi, sebuah komunitas belajar di hari Minggu untuk adik-adik di sekitar kampus. Karena itulah, kami pun berniat datang ke rumah adik-adik tersebut untuk meminta izin langsung kepada orang tuanya. Adik-adik itu mengangguk, masih dengan sedikit malu-malu, mereka kemudian mengarahkan kami menuju rumah mereka di daerah Sukabirus.

Sukabirus? Apa yang ada di benak teman-teman tentang Sukabirus? Kuliner lengkap? Kos-kosan elit? Aku pun terpikir itu di benakku, Kawan. Sayangnya, realita itu membuatku melek, bahwa ada keadaan yang sangat ironis di sini, di Sukabirus. Di balik apartment boarding house yang megah dengan harga belasan juta, ternyata tersimpan banyak cerita yang kita mungkin tidak tahu, atau tidak mau tahu? Di jalan setapak penuh belokan di balik dinding megah itu, kami berjalan. Rumah-rumah sepetak menjadi pemandangan umum. Belum lagi jalanan sedikit gelap, kami pun sedikit takut. Adik-adik terus memandu langkah kami. Ternyata jauh sekali, jauh sekali dari kakiku berpijak sebelumnya, jauh juga pikirku tentang Sukabirus.

Anak-anak berjilbab di depan kami masih bersemangat, tak peduli langkah kami melelah. Semakin jauh, semakin terlihat jelas pula realita kehidupan ini. Adik-adik itu lantas berhenti, “Itu SD kami, Kak, SD Sukabirus.” Kami melihatnya. Sebuah bangunan kecil di sekeliling pemakaman. Tapi aku bernafas lega, ada SD yang dekat, artinya, mereka masih sekolah. Itu saja sudah cukup membuatku lega.

Kami terus berjalan hingga Intan, salah satu adik kami, berhenti di sebuah rumah sepetak. Ia terlihat bahagia sekali ketika memperkenalkan kami kepada sang Mama. Wanita paruh baya itu menyambut kami dengan bahagia pula. “Intan kelas 2 SD Neng, kalau nulis udah lumayan bisa, tapi kalau baca masih belum, makasih ya Neng. Ibu izinkan sekali untuk ikut belajar bareng.” kurang lebih begitu inti pembicaraan Ibu Intan menyambut kami. Aku tidak tahu apa perasaan yang ada dalam kedua benak sahabatku saat itu, yang jelas aku sendiri bersedih.

Hal yang sama ternyata kita dapatkan pula pada rumah-rumah berikutnya. Semakin jauh, semakin terlihat pula realita miris itu. Dan ketika sampai di ujung jalan raya, semua itu sungguh benar-benar tidak terlihat. Toko-toko, warung-warung dari yang makanan hingga laundry, counter pulsa, kos-kosan berjajar rapi dipadati mobil-mobil yang membuat macet jalan kecil Sukabirus berhasil membuat realita kehidupan itu tak terlihat. Semuanya kemudian hanya menjadi sebuah kamuflase.

Ini Kawasan PENDIDIKAN Telkom, Kawan. Ironis sekali bukan? Di antara riuh pendidikan para mahasiswa mengejar ilmu, masih banyak sekali orang tua yang tidak peduli anaknya mau sekolah atau tidak. Bagi mereka pendidikan adalah urusan terakhir yang harus dipenuhi dalam agenda keuangan. Ini Kawasan PENDIDIKAN Telkom, Kawan. Tapi menyedihkan sekali, ternyata anak-anak itu benar-benar tidak bisa membaca, bahkan sekadar menghafal huruf pun mereka kesusahan. Ini Kawasan PENDIDIKAN Telkom, tapi di saat peneliti di luar sana mengatakan, “Orang yang buta huruf sebenarnya bukan orang yang tidak bisa membaca, tapi mereka yang tidak bisa memilah informasi yang didapatkannya.”, tapi di sini buta huruf masih dalam artian buta huruf yang sebenarnya. Yang lebih menyedihkan, mereka sekolah. Oh Kawan, aku malu pada label Kawasan PENDIDIKAN Telkom di gerbang masuk tiga kampus megah ini.

Diam, berpikir. Masihkah kita menjadi mahasiswa dengan realita seperti ini?

Lihatlah dan rasakan sendiri.

Pojok Biru 2,

23 Oktober 2011

13.06

Mohon koreksi, kritik, dan saran semua yg membaca tulisan ini

2 thoughts on “Ini Kawasan PENDIDIKAN Telkom, Kawan :)”

  1. wah tulisan yang bagus sekali….nama saya rama raditya. saya juga anak im telkom jurusan ilmu komunikasi.kita dulu pernah menjadi rekan debat bahasa inggris dan menjadi juara 2 dalam lomba tersebut jika anda masih ingat…hahaha….:D

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s