Cerita dan Celoteh

Iya, Saya Rindu!! Lantas Kenapa??!

Wah langit mendung. Padahal saya ingin sekali menatap wajah bulan sendu malam ini. Ini akhir bulan bukan? Iya. Ia pasti malu-malu, tidak menampakkan purnamanya yang indah. Sayang sekali, awan tebal menghitam bahkan menutupi wajahnya yang tak utuh. Hei, apakah bulan di kotamu juga tertutup awan? Atau malah berbeda?

“Kamu rindu?”

Ptak!! Robokop itu menanyakan pertanyaan yang tidak ingin saya jawab. Harusnya memang tidak perlu ditanyakan. Itu retoris bukan? Hei, robokop, aku tahu kamu tidak bodoh. Bahkan bulan yang bersembunyi itu pun mengerti sekali.

“Kamu rindu?”

Ptak! Ptak! Kembang api seperti bermain di sudut hatiku. Pertanyaan tanpa suara itu kudengar lagi. Ribuan mil. Entah berapa pal kotamu dari tempatku berpijak. Menyebrangi lautan, atau jika mau mengarungi udara, bersahabat dengan bulan di sana. Jauh sekali, bukan? Bahkan mungkin ketika aku mengenal matahari di pagi hari, engkau mengenal salju. Jauh sekali, bukan? Bahkan saat ini di kotamu sudah larut sekali karena tiba waktu tengah malam.

“Kamu rindu?”

Kamu tidak menanyakannya lagi, tapi pertanyaan itu terus bertanya pada hatiku. Ah, jauh sekali tempatmu berada. Jauh pula, waktu membuat kita terpisah. Berapa detik? Atau berapa jam? Atau berapa hari? Atau berapa bulan? Rasanya sudah berbilang tahun. Aku masih di sini menatap bulan, menunggu desah angin yang katamu setia. Apakah itu tidak menjawab pertanyaanmu? Ptak! Ptak! Ptak!

Benar. Semakin hari kamu seperti robokop.

Ptak! Ptak! Ptakkkk! Irama angin membiarkanku bertahan. Siapalah kamu berani bertanya seperti itu, Robokop? Jauh sekali, bukan? Tapi kamu selalu terasa dekat. Lima pal dariku, sepuluh pal dariku, atau mungkin ratusan pal, posisimu sungguh tak berubah, dekat sekali. Aku benci. Sungguh benci. Sungguh benci. Tapi sesak ini membuatku terus beristighfar untuk membuatmu berhenti berceracau di kepalaku.

Hei, Robokop! Ptak! Ptak! Ptak! PTAKKK!! Suara kembang api menggema di sini. Pasti di sana juga. Tapi mengapa pertanyaan itu begitu menggangguku. Pertanyaan yang harusnya kamu tahu jawabannya.

“Kamu rindu??”

Heiiii. Kamu benar-benar ingin aku menjawab? Baiklah. Aku ingin menjawab. Tapi bukan kepadamu. Aku ingin menjawab pada angin. Biarlah kalau ia berhembus, kamu mendengar. Aku ingin menjawab pada bulan. Biarlah, kalau engkau menatap, ia mengisyaratkannya. Dan. Aku akan menjawab pada semua orang, selain kamu. Nanti. Nanti, aku akan benar-benar bercerita padamu tentang semuanya. Nanti. Ya, kita lihat saja nanti.

“Kamu rindu?”

Ptak! IYA, SAYA RINDU, LANTAS KENAPA?? Aku hanya ingin diam. Berusaha mengingat nama-Nya ketika mengingat namamu. Berusaha mengubah sesak ini menjadi alasanku untuk menjadi tegar dan sabar. Berusaha mengelola rindu menjadi kekuatan untuk bergerak. Berusaha membiarkan semua berjalan sesuai kehendak Sang Sutradara. Dan saya hari ini mengumumkan pada siapapun bahwa saya rindu, tapi tidak padamu. Jangan baca tulisan ini. Jangaaan. Nanti kamu akan tahu sendiri lewat senyumku, betapa rindu ini hebat sekali. Jika memang Dia memberikan saat itu. 🙂 Jika tidak? Kamu pun pasti akan tetap melihat senyumku, seindah rencana-Nya.

Terima kasih bulan, selalu bersedia kutatap. Juga angin yang begitu setia.

Rumah,

28 Agustus 2011

22.04 WIB

Malam ini, saat aku menatap bulan, yakinlah kita menatap bulan yang itu. Semoga yang Maha Memiliki Langit memberikan kesempatan. Suatu saat nanti, kita menatap bulan dari satu bingkai jendela. (Tere-Liye, Sepotong Rembulan untuk Berdua)

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s