Uncategorized

Mama, Abi, dan Ayin #2

Boleh dibaca dulu yang sebelumnya Mama, Abi, dan Ayin #1 . Ini udah lama, tapi baru inget kalau ternyata udah kulanjutkan.. 🙂

Ayin sudah kelelahan. Ia puas berteriak dan tertawa usai dituruti oleh abinya naik kuda. Mamanya hanya tersenyum menyaksikan dua lelaki yang sangat dicintainya ‘berpacu’ di atas kuda. Dua lelaki itu turun. Abi menggendong Ayin yang masih tekekeh. Azan Asar menggema entah dari masjid mana. Mamanya berlari merengkuh Ayin, merebutnya dari gendongan Abinya.

“Ayo sayang, istirahat dulu, sudah azan.”

Ayin justru tak mau digendong. Ia turun dari gendongan Abinya, berdiri di tengah, menggenggam tangan Abinya dulu, kemudian tangan kirinya menggandeng tangan sang Mama. “Mama, tudanya baik banet. Asiiit banet naik tudanya.”

“Iya sayang, kok nggak mau digendong Mama?”

“Ayin penin jalan-jalan tayak tuda tadi.” katanya polos, masih menggandeng tangan Abi dan Mamanya, kemudian secara sengaja dan cepat sekali kakinya bergerak cepat berjalan, menirukan gaya kuda, sementara kedua tangannya menarik tangan Abi dan Mamanya. Mamanya kembali kaget, Abinya terkekeh lagi.

“Ayin, udah ya main kudanya, sekarang kita berdoa sama Allah semoga besok bisa jalan-jalan lagi.” Abinya menghentikan euphoria kuda-kudaan yang sedang melanda Ayin.

“Nanti Allah ngasih kuda ya di rumah kita?”

“Iya sayang.”

Ayin menurut, mereka solat asar bersama. Ayin jengkulat jengkulit mengikuti kedua orang tuanya. Usai solat, Farikha berbincang dengan suaminya.

“Aku jadi inget 6 tahun lalu di sini, tanpa kamu,” ia tesenyum.

Abi melepas kacamatanya, menatap istrinya lebih tajam. Dahinya sedikit mengerut bersamaan dengan senyumannya, menyiratkan sebuah pertanyaan. Apa yang terjadi ketika tanpaku?

“Biasa aja siiih. Tetep seneng.” Farikha malah mengubah nada bicaranya, bercanda.

“Haha, dari wajahnya aja kelihatan kan?” Abi ikut menggoda.

“Hm, gimana ya? Ketika itu hanya ada harapan. Aku berdoa saja, semoga kelak aku bisa kembali lagi ke tempat indah ini, bersama seseorang. Tapi..”

“Tapi malah sama dua orang? Ya kan?” Abi malah menggoda Mama.

“Mamaaaa, aku pengin pakai kacamata kaya Abi.” Ayin menghambur di antara canda bahagia mama dan abinya. Ia menarik kacamata abinya yang tadi dipegang.

“Iya, ada si kecil ini yang membuat semuanya tambah terasa membahagiakan.” Mama menarik Ayin, menelenggelamkannya dalam dekapannya. Ayin berteriak. Abi tertawa. Daun selada di halaman vila sedikit bergoyang, bertasbih kepada-Nya. Mungkin juga ikut bahagia untuk kebahagiaan keluarga kecil itu.

<-still- to be continue >

Ciwangun,

Vila Hijau

16 Mei 2011

15.25

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s