Cerita dan Celoteh

Si Codet dan Gigi Copot (Tentang Adik :))

Pagi ini, seperti biasa, Dek Farkha menggeliat dari tempat tidurnya. Kami biasa menggodanya. Mengajaknya bercanda berebut Ibu. Atau menggodanya dengan beberapa kata seperti, “kalau kamu nakal nggak tak balani (ditemenin)”. Dia akan manyun. Lalu memasang ekspresi paling menyeramkan baginya. Aku suka sekali dengan ekspresi itu. Aku justru tertawa terpingkal-pingkal kalau dia sudah begitu, hampir menangis.

Gigi-giginya sering sekali dipamerkan. Gugus. Bagian atasnya hitam. Tahu gigi gugus? Mungkin waktu kecil kalian juga begitu, kan? Bagian gigi jadi hitam dan hampir ompong karena kebanyakan makan permen. Saat itulah, salah satu kakaknya menyeletuk (bukan aku), “Nanti gigimu lebih gugus, nanti gigimu itu bakal copot, ompong.”

Hei lihatlah, urusan itu bagi anak usia 5 tahun rupanya penting sekali. Dia marah, kembali menampakkan ekspresi terseramnya. Kali ini air matanya menetes. Aku masih sibuk dengan novel yang kubaca. Dia merajuk padaku, memastikan bahwa urusan gigi copot itu tidak benar. “Iya, Dek. Nanti gigimu memang copot. Nanti, kalau kamu sudah SD.” Demi mendengarku berkata demikian, kakak yang baginya paling dipercayainya, dia marah. Benar-benar marah.

Aku-lagi-lagi- tidak percaya, urusan gigi copot ini jadi penting sekali. Aku malah menggodanya. “Iya, Dek. Nanti gigimu bakal ompong.” Adekku yang lebih besar, yang dari tadi memang iseng dan niat menggoda Dek Farkha ikut senang dengan sikapku, jarang sekali aku akan ikut-ikutan menggoda Dek Farkha dan sengaja membuatnya menangis seperti itu. Dek Farkha, dari raut mukanya, jelas kecewa padaku. Dia berharap aku membelanya dan mengatakan bahwa giginya nggak akan copot. Tapi, aku justru sengaja membiarkan ia dalam ketakutan dengan mengatakan bahwa itu benar.

Ibu keluar dari kamar mandi. Rasa ingin tahu Dek Farkha sepertinya memuncak. Ia cepat-cepat meminta konfirmasi dari Ibu. “Ibu, gigiku nggak copot kan nanti? Aku dibohongi kan?”. Ibu, harapan Dek Farkha satu-satunya yang akan berkata tidak, justru mengangguk tanpa berpikir, “Gigimu memang copot nanti.”

“Iya kan? Mbak nggak bohong, Dek. Nanti gigimu copot, diganti yang lebih bagus, biar nggak gugus.”

Apa kubilang? Urusan ini benar-benar besar baginya. Perkataanku tidak didengar lagi. Ia benar-benar marah. Mungkin masih mengira kami semua berbohong. Ia cepat-cepat menarik buku yang kupegang, melemparkannya tepat ke arah wajahku, tepat pula mengenai pipi kananku. CTAK. Aw! Sakit. Maka beberapa detik kemudian, garis merah sudah mewarnai pipi bagian kananku, jadilah aku si Codet. Aku tahu dia kemudian diam, merasa bersalah. Ibu malah gemas, mencubitnya.

Sejatinya, hal seperti ini juga kita alami bukan? Ini hanya soal takut menghadapi masa depan. Ini hanya soal takut menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku merenung. Jika urusan copot gigi saja sudah begitu besar. Bagaimana dengan yang lain? Oi, diri, sadarlah. Jika kau masih takut menghadapi berbagai kemungkinan menakutkan di depan, apa bedanya kau dengan anak usia 5 tahun? Oi, diri, apa guna pengalaman hidupmu yang belasan tahun lebih lama dibanding adikmu?

Aku diam, bukankah aku tadi sengaja tidak mau menutupi soal gigi copot itu. Aku tidak peduli dia takut. Biar, biar dia tahu bahwa urusan gigi copot yang baginya akan menyakitkan itu realita yang harus dihadapinya. Biar dia mengerti bahwa berdamai dengan realita itu penting. Bukan menghindar.

Aku diam lagi. Kecamuk pikiranku yang mengganggu, perbedaan yang seperti memberi suatu gambaran untukku, tentang realita saat ini atau nanti, semuanya benar-benar membuat gusar. Namun, lihatlah, si kecil itu kembali memberi pelajaran. Harusnya aku juga berdamai dengan semua kenyataan, baik sekarang, dulu, apalagi nanti.

Dek Farkha duduk mendekat padaku, membisikkan sesuatu, “Mbak Opi, Mbak Opi.” aku tersenyum, kemudian menanyainya lagi, masih penasaran soal gigi copot itu.

“Nanti kalau giginya copot gimana, Dek?”

“Moh (Nggak Mau). Sakit.” Ia kemudian melengos, menarik hpku, lalu pergi.

Ah, dia sungguh masih polos sekali.

Rumah,

28 Agustus 2011

13.58

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s