Cerita dan Celoteh

Menelisik Kehidupan Terminal Sambil Belajar Marketing

Sore itu Terminal Cicaheum tampak ramai. Tapi bagiku, langitnya tersenyum lebih cerah. Apalagi menjelang senja, memerah indah. Mungkin karena aku bahagia. Setengah tahun tak melihat kota kecilku, hari itu aku pulang, bersama kedua orang tua lagi.

Terminal Cicaheum adalah gerbang untuk sampai ke kotaku. Dan bagiku, terminal manapun selalu menarik. Punya sisi unik sendiri. Senja itu, sambil membeli gorengan yang dijual di sebelah selatan terminal, aku duduk menikmati pemandangan terminal. Sekilas terlihat kotor, lihatlah sampah berserakan. Orang-orang berbagai daerah ada. Bahkan ada juga rombongan bule yang ingin berlibur ke Karimun Jawa. Aku juga sudah bisa mendengar banyak orang bercakap dalam bahasa Jawa, salah satu hal kurindukan selama berada di bumi Sunda ini.

 Peminta-minta tetap menjadi ciri khas di terminal mana pun. Tak terkecuali di Cicaheum. Ada yang menggendong anak kecil, ada yang berjalan terseok-seok, cacat tubuh, banyak sekali. Entah hanya modus atau memang begitu. Wallahualam. Yang jelas inilah fenomena dan realita. Aku masih diam sembari menatap penjual baso cuanki dan siomay di depanku. Perempuan menutup hidung. Laki-laki dengan asyiknya mengepulkan asap rokoknya. Terang saja banyak perempuan menutup hidung. Belum lagi para penumpang yang sibuk mencari di mana bus mereka.

Tak lama, bus yang akan kutumpangi pun datang. Aku bersegera naik. Ya, dari atas bus semua semakin terlihat jelas.

“Lengkeng, lengkeng, 20 ribu saja, manis. Mangga dicoba, kalau kurang manis boleh lihat wajahnya sendiri.”

Aku menoleh, tertawa. Ada-ada saja. Penjaja kelengkeng itu. Seperti layaknya di terminal, ia menaiki bus sambil membawa dagangannya. Ia menawarkan. Kadang-kadang ‘memaksa’ meletakkan dagangannya di pangkuan kami para penumpang. Awalnya tak ada yang membeli, tapi lihatlah perjuangannya. Dengan bermodalkan candaannya, para penjaja ini cukup menarik perhatian. Mbak-mbak yang duduk di bangku depan tidak tahan ingin tertawa, ia pun membelinya. Begitu pula mas-mas di belakangnya. Kelengkengnya pun habis. Aku ber-wow dalam hati.

Belum selesai kami terpana oleh guyonan penjaja kelengkeng, naiklah penjaja stroberi dan donat. Mereka ini entah kakak adik atau apa, kompak mengatakan hal yang saling melengkapi. Penjual donat mengatakan, “Donat rasa stroberi, 2 ribu saja, lumayan buat bekal sebelum perjalanannya.” Wajar kan? Yang menjadi tidak wajar adalah ketika sang penjual stroberi mengatakan, “Stroberi rasa donat, stroberi rasa donat.” Aku menoleh pada Ibu, melongo. Hampir tertawa, tapi tertahan kalah oleh rasa bingungku, apa maksudnya? Belakangan, aku baru tahu ia bekerja sama dengan penjual donat. Jadi, kita akan merasakan stroberi rasa donat kalau kita membeli stroberi dan donat. Kita makan stroberi setelah itu makan donat. Intinya, selain menjajakan stroberinya, ia juga sedang mempromosikan donat. Aku ber-wow sekali lagi. Kreatif.

Meskipun sedikit aneh dan membingungkan, ketiga penjaja itu berhasil menarik perhatian penumpang. Mereka pasti memperoleh nilai A untuk mata kuliah Public Speaking. Ada yang membeli, banyak juga yang hanya tersenyum, atau tertawa sepertiku dan Ibu oleh celoteh canda mereka ketika berjualan. Mereka cukup menghibur.

Belum selesai sampai di situ. Ternyata masih banyak penjaja lain yang naik ke bus. Aku semakin penasaran setiap ada penjaja yang naik bus. Kejutan apalagi yang kan kudapatkan? Maka aku hanya tersenyum sambil ‘mencatat’, bersiap mengamati.

Sudah banyak penjaja lontong isi atau gorengan yang naik. Namun kali ini, seorang penjaja lontong membuatku tersedak. “Lontong lontong, lontong, lontong berhadiah.” Berhadiah? Ia melanjutkan kalimatnya dengan sedikit pelan, “cabe.” Beli lontong berhadiah, lontong berhadiah, lontong berhadiah, cabe.” Kata ‘cabe’ seperti diberi jeda dan diucapkan pelan, membuatku melongo lagi. Orang-orang juga banyak yang melihat, penasaran sejak kapan ada lontong berhadiah. Aku dan Ibu tertawa lagi. Si penjaja malah mendekati kami, “Lontong, Teh. Teteh mau lontongnya? Berhadiah cabe. Tapi nggak pakai teh ya.” Hahaha, sepertinya marketer memang harus seperti ini, luwes dan pandai bercanda.

Kejadian “lontong berhadiah cabe” membuatku teringat pada perjalanan pulangku enam bulan lalu. Suasana yang sama di atas bus. Ketika itu, harga cabai sedang melambung tinggi, bahkan mencapai angka Rp 100.000/kg. Seorang penjaja lontong naik. Ia “berceramah” banyak tentang harga cabai yang melambung. Aku mendengarkan seksama. Ia berpidato layaknya pengamat ekonomi. Aku sudah lupa apa saja yang diceramahkannya, yang jelas cukup mengocok perut. Yang aku ingat pasti, pidato itu berujung, “Tapi dengan membeli lontong ini, anda bisa mendapatkan cabe dengan cuma-cuma alias gratis.”  Penjaja ini kreatif, pikirku.

Penjual sabuk pun begitu, ia menarik-narik sabuknya, memperagakannya dan dengan pandai berceloteh tentang kelebihan sabuknya dibanding sabuk lain. “Tapi sabuk ini harganya sangat murah, hanya 10.000. Anda tidak perlu khawatir, Bapak-Bapak. Ketika memakainya, sabuk ini tidak akan terlihat jika harganya hanya 10.000.” Penumpang tertawa. Banyak juga yang akhirnya membelinya.

Masih banyak keunikan lain kehidupan terminal jika kita mau menelisiknya. Itu semua bisa menjadi pelajaran untuk kita. Lihatlah, sebagai mahasiswa Marketing Communication, ini semua mengingatkanku bahwa belajar marketing tidak melulu dari buku atau mendalami konsep Kotler atau Hermawan Kartajaya (meskipun ini memang perlu). Tetapi terkadang kita memang perlu membuka mata, melihat yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Lihatlah, para penjaja itu mungkin tidak kuliah, tapi ia mempunyai bekal komunikasi pemasaran yang luar biasa. Mereka hanya belajar dari pengalaman. Semoga bisa bermanfaat.

Tangga,

13 Agustus 2011

10.55

1 thought on “Menelisik Kehidupan Terminal Sambil Belajar Marketing”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s