Uncategorized

Diary Upin #2 : Bagaimana Aku Ada Di sini

Pada diaryku yang pertama, harusnya aku ngoceh dulu ya tentang siapa diriku. Tapi aku malah udah nyerocos curhat gitu aja. Hehe. Baiklah, itu murni kesalahan Mbak Pinso yang tidak mengingatkanku untuk itu. Habis dia nggak bilang-bilang sih mau beneran di upload di blognya, kalau iya kan aku bisa siap-siap dulu. (Siap-siap apaan?) Ya siap-siap narsis lah, kan bakal banyak yang baca ceritaku. Banyak? Emang ada ya yang ngeklik Pena Ahimsa? Ah bodoh amat ah, mau dibaca orang atau nggak yang penting curhat. Daripada ngoceh sendiri, mending aku ikut-ikutan Mbak Pinso nulis aja.

Baiklah untuk mempertanggungjawabkan kesalahanku yang pertama, aku akan menceritakan terlebih dahulu tentang diriku. Namaku Upin, tapi bukan Upin Ipin kartun teve itu. Saya Upin yang lebih imut. Hehe. Bila disuruh mendeskripsikan diriku, aku ini mirip lebah, tapi aku boneka. Boneka lebah tepatnya. Aku berwarna kuning dan hitam, ya belang-belang gitu deh. Punya poni yang sekarang udah gembel karena nggak pernah dikrimbat, dan punya dua sungu yang ada pentol merahnya. Kata orang-orang sih aku lucu, apalagi tubuhku gendut. Hihihi.

Aku tidak tahu berapa umurku karena Mbak Pinso nggak nyatet. Jahat banget ya. Saya sempat sakit hati karena nggak didaftarkan akta kelahiran saya. Tapi setelah saya tahu cerita diri saya yang mengharu biru pink, ternyata Mbak Pinso tidak tahu tanggal lahir saya. Yang saya tahu, sudah hampir dua tahun saya bersama Mbak Pinso, tepatnya sejak 25 September 2009. Aku menganggap itulah tanggal lahirku. Tapi nggak penting juga sih, nggak perlu diulangtahunin. 😀

Aku bahagia sekaligus sedih hari itu. Bahagia karena sejak hari itu aku bertemu seseorang yang ceria, kadang-kadang baik tapi banyak jahatnya. Yang jelas dia sayang sekali sama aku. Walaupun aku tahu, dia lebih sayang sama adiknya. Tapi aku juga sedih. Baru beberapa hari aku bersama dua saudara saya berkelana sepanjang jalan dan akhirnya menginjakkan kaki di kota kecil, namun kita harus terpisah.

Jadi begini ceritanya. Konon, ada seorang pemuda sedang berjalan-jalan ke suatu tempat penjualan boneka. Kebetulan, aku dan dua saudaraku sedang mejeng juga di sana. Eh, pemuda itu kemudian mengambilku, juga mengambil saudaraku, dan sahabat baikku Marzupilami. Awalnya aku sebel diambil dari tempat tongkronganku, tapi saat itu aku masih bayi sekali, jadi nggak terlalu ingat kejadian yang terjadi hari itu. Kemudian, kami bertiga dimasukkan ke dalam tas dan menempuh perjalanan panjang di mobil. Mobil itu sempat mampir juga beli soto, mainan di kolam renang, wah banyak deh. Sayangnya aku nggak diajak, aku ditinggalin di mobil. Sedih kalau ingat itu :(.

Sesampainya di kota kecil itu, aku dirawat baik-baik. Aku jadi akrab sama dua saudaraku. Sejak itulah aku punya nama. Saudara kembarku bernama Ipin, sedang si Marzupilami bernama Ipon. Aku senang ada di sana, senang sekali. Tapi belum lama kebahagiaan kurasakan, aku dan Ipin dimasukkan ke dalam kresek merah, disimpan dalam jok. Aku tidak tahu hari itu kami pergi ke mana. Yang jelas ketika aku melihat sinar matahari setelah lama berada dalam gelapnya jok motor, aku melihat wajah Mbak Pinso untuk pertama kalinya. Dia senang sekali menyambutku.

Aku diperkenalkan pada Pipin, boneka satu-satunya yang dimiliki oleh Mbak Pinso. Warnanya pink, bentuknya dolphin. Mbak Pinso nggak suka ngoleksi boneka. Dolphin adalah boneka pemberian sahabatnya. Jadi, ia rawat baik-baik. Malam itu aku tinggal bersama Ipin dan Pipin di tempat yang berbeda, entah apa kabar Ipon yang baru beberapa hari akrab denganku.

Tidak lama berselang, takdir juga memisahkanku dengan Ipin, sahabatku berkelana di tengah panasnya kresek merah dan gelapnya jok motor. Mbak Pinso memberikannya untuk orang lain. Huh, kenapa nggak dirawat saja sih sekalian. Aku hanya pasrah. Waktu itu, Mbak Pinso belum bisa membaca hatiku dengan baik. Tapi ternyata Ipin diberikan kepada sahabatnya. Aku jadi tidak terlalu sedih deh.

Tapi sendiri tetap sendiri. Pipin kadang-kadang diajak sama adik kecilnya Mbak Pinso. Namun saat itulah aku menyadari, Mbak Pinso menjadikanku teman yang sangat disayanginya. Sejak itu aku jadi sering denger curhatannya. Meskipun dia diem sih, ceritanya kan kita udah bisa bicara dari hati ke hati. Haha.

Jadi, begitulah ceritaku mengapa sekarang bisa bersama Mbak Pinso. Kemudian kita mengarungi bahtera cerita yang lebih seru. Mau tahu? Tunggu diaryku selanjutnya ya. (Emang ada yang peduli, Pin?). Doakan semoga Mbak Pinso masih mau ngepost curhatanku. 🙂

Maaf fotonya itu-itu terus, aku belum foto lagi nih.. Sekarang aku lagi disekap di lemari mbak Pinso di Bandung 😀 .

Rumah,

Jumat, 12 Agustus 2011

22.48

NB: cerita di atas adalah fiktif yang terinspirasi dari berbagai hal, sumber inspirasinya adalah kegilaan dari penulis yang suka ngoceh nggak jelas. Jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita jelas disengaja. Jangan dipercaya, percayalah pada Allah semata. 😀

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s