Cerita dan Celoteh, perempuan

Dear Ukhtiku :)

Assalamualaikum ukhti. Kuyakin hari ini wajahmu cerah karena sungguh rona merahmu menjadi senyum untuk banyak orang, salah satunya adalah aku.

Apa kabar ukhti? Terima kasih telah menjadi saudariku, yang selalu menguatkan, selalu memberiku semangat, menjadi penghibur, juga menjadi sahabatku. Terima kasih ukhti, atas sms-smsmu yang membuatku tersenyum. Terima kasih ukhti, bersedia mendengarkan ceritaku yang itu-itu saja. Maaf ya ukhti, aku merepotkanmu, terkadang malah memasukkanmu ke dalam kata bernama ‘galau’. Hehe.. Tapi denganmulah kubagi canda dan tawa ini, juga sedih dan air mata.

Dear ukhtiku, semoga melalui ukhuwah yang insyaAllah untuk mencari ridlo Allah ini, kita bisa saling menguatkan. Ingatkan aku ukhtiku. Mungkin ada waktu aku akan menangis di pelukmu, merasa semua begitu berat. Maka ajaklah aku untuk berdiri, menatap lagi langit yang masih cerah. Ajaklah aku pada dua kata yang sangat terkenal tapi susah dijalankan, ikhlas dan sabar.

Ukhtiku, saat aku merasa tinggi, maka ajaklah aku turun. Marahlah jika aku memang merasa pantas untuk dimarahi. Karena kutahu ukhti, marahmu tanda sayangmu pada saudarimu.

Ukhtiku, mungkin ada saatnya tawamu dan tawaku tak cukup untuk membalut luka. Mungkin ada saatnya, senyum seorang hawa sepertiku tak cukup untuk membuatmu berdiri. Mungkin ada saatnya engkau merindukan kehadiran sang Adam dalam hidupmu. Bersabarlah ukhti. Percayalah engkau akan dipertemukan dengan Adam di saat yang indah dan tepat. Bersabarlah ukhti. Jika kau merinduinya, istighfar. Maka hatimu akan tenang. Bukankah hati yang mengingat Rabbnya akan selalu tenteram? Hanya itu yang bisa kukatakan. Dan kumohon, katakan pula hal yang sama jika aku juga sedang dalam kondisi aneh ini. Karena kutahu, saat kita berhimpun dan saling mengingatkan, kita akan lebih terjaga.

Ukhti, jangan sedih jika tak ada ‘seseorang’ yang memberimu semangat. Jangan sedih jika tak ada ‘seseorang’ yang membangunkanmu untuk melaksanakan qiyamul lail. Jangan gundah jika beban hidup membuncah dan kau membutuhkan tempat untuk bersandar. Jangan ragu untuk berpijak dan jangan iri dengan mereka yang memiliki ‘seseorang’. Sungguh ukhti, aku bersedia menjadi ‘seseorang’ itu. Karena ku pun akan menjadikanmu demikian.

Kutahu ukhti, aku tak sepenuhnya dapat menjadi ‘seseorang’ itu, karena ‘seseorang’ yang engkau maksud memang berbeda. Tapi sementara ini, sebelum ‘seseorang’ itu memang benar-benar datang menghalalkan dirinya untukmu, sungguh saudarimu akan menjadi lebih dari ‘seseorang’. Sekali lagi, bersabarlah ukhti. Dan jika ‘seseorang’ itu akhirnya menjemputmu, maka aku akan menjadi orang yang tersenyum bahagia, sambil berkata “Alhamdulillah Ukhti, Barakallah, akhirnya sempurnalah separuh agamamu.”

Ukhti, terima kasih telah menjadi saudariku. Jadilah kita ikatan yang kuat dan tangguh. Bukan hanya takluk pada air mata, tapi pandai menggulirkan senyum saat hati menangis. Bukan hanya diam saat tak bisa, tapi bangkit melawan segala keterbatasan, tanpa sedikit pun melanggar kodrat sebagai kaum hawa. Maka ukhtiku yang insyaAllah tanganmu menjadi sandaran generasi bangsa, tetaplah memperbaiki diri. Bersamaku.

Ingatkan aku ukhti, terus ingatkan aku.

 

Untuk ukhtiku yang sekarang berada di dekatku, aku bahagia bersamamu. Semoga ikatan kita semakin kuat.

Untuk ukhtiku yang jauh di belahan bumi lain, aku merinduimu. Semoga ikatan kita tetap kuat walau tanpa sua.

Untuk ukhtiku yang mencintaiku, di manapun engkau, ana uhibbukum fillah. 🙂

Semoga kita semua menjadi ukhti yang luar biasa, yang pantas untuk disejajarkan dengan nama yang dipilih Allah untuk kita.

🙂

fav place in 2nd floor

Selasa, 9 Agustus 2011

15.00 WIB

salam sayang untuk ukhtiku di Ramadhan yang indah ini.

Semua penghuni Rampes (Lisa, Nina, Desrat, Puput, dan Kak Lia) How happy I am to have ukhti with a very unique characteristics like all of you. :p

Lely dan Kak Put, betapa bahagianya bisa menggalau bersama kalian.

Bunga, terima kasih selalu bersedia menjadi ‘seseorang’ 😀

Sista epin, very thank you to have a sister like you 🙂

Janah, Vivid, Vian, Uti Ukht, nanti kita menatap bintang bareng lagi ya?

Mbak Afrika, sharing menulisnya sangat menyenangkan.

Sceighterz Girl, I love u all ukh. Aku merinduimu.

dan semua ukhti di Gamus, Teh Tiwi, Teh Halwi, Teh Syifa, Teh Eel, Kak Hanna, wah banyak, semuanya ya, terima kasih atas sharing yang bermanfaat. Alhamdulillah menambah ilmu..

Semua ukhtiku, have a great fasting yaaaa 🙂

2 thoughts on “Dear Ukhtiku :)”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s