Cerita dan Celoteh

Jangan Rampas Mainan Kami!!

Anak-anak, tangan panjang bangsa ini. Lihatlah bagaimana kini kehidupan mereka seperti apa. 😦

Mereka pintar, tapi budayanya sendiri sudah terlupakan.

Cekidot curhatan adik saya berikut ini.. πŸ™‚

“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku.”

Namaku Farkha, umurku 5 tahun. Kata kakakku yang sekarang berumur 19 tahun, dulu lagu di atas sangat fenomenal. Kakakku kadang menyanyikannya kalau aku bangun tidur, menyindirku yang pagi ini ikut merusuhi orang-orang sahur. Aku memang nakal ya, begitu bangun menangisi ibu minta dibuatkan susu di tempat minumku, yang walaupun sudah bukan berbentuk dot, tapi kusebut dot. Kakakku yang nakal menyindirku, “Bangun tidur kuminum susu, padahal lupa belum gosok gigi.” Begitu kata kakakku. Aku hanya nyengir sambil terus minum susu.

Ya, kata kakak lagu itu dulu fenomenal. Kata ibu, dulu waktu kecil kakak suka nyanyi lagu itu sambil minta mandi kalau lagi malas-malasnya mandi. Ah, kakakku sih memang pemalas mandi. Dia memelotiku saat ini. Gawat. :p

Tapi apa benar kata kakakku kalau lagu itu fenomenal? Kok aku nggak kenal-kenal banget ya? Kadang-kadang cuma dinyanyiin sama Bu Guru di sekolahku playgrup dulu. Aku lebih kenal sama lagunya itu lho yang “lukalukalukalukaluka”. Apa sih judulnya? C.I.N.T.A. ya? Itu lagu asyik, aku sering memaksa kakakku untuk memutarnya dari laptopnya. Dia sering marah nggak mau muterin. Untungnya sekarang aku sudah bisa mengoperasikan laptop, jadi aku puter aja sesukaku.

Ah, kakakku banyak bohong ah. Lagu itu biasa-biasa aja kok buat aku dan teman-temanku. Kata Dek Ifa aja, tetanggaku yang seumuran denganku, lagunya ST12 lebih bagus. Kakakku tukang bohong ah. Katanya waktu dulu dia kecil, dia punya mainan-mainan lucu sama temen-temennya. Ada namanya jamuran lah, donald bebek mundur satu langkah lah, betengan lah, ingklik lah, ah banyak. Tapi kok temen-temenku pada nggak tahu ya? Kita kan juga anak-anak? Kok nggak kenal? Pasti karena games Zuma di laptop kakakku lebih seru. Atau benar permainan itu memang seru?

Percuma deh kalau pun seru. Temen-temenku pada nggak bisa cara mainnya. Ya sudah, mending main Zuma aja. Nggak peduli deh kakakku sering nggak ngebolehin.

Aku juga nggak tahu kenapa Kakak kadang-kadang ngelarang main Zuma. Padahal itu asyik banget. Aku pernah denger, katanya mainan anak sekarang nilai moralnya nggak diperhatiin, nggak bisa memperkuat solidaritas. Entahlah itu kakakku ngomong apa. Sesekali kudengar juga dia diskusi dengan Ibu bilang, “Bu, anak-anak sekarang nggak ada yang kenal dolanan jamuran ya? Padahal kan seru. Mengakrabkan kita sama anak-anak lain, sama tetangga-tetangga seumuran. Dulu kita punya banyak daun yang bisa dipakai mainan. Sekarang nggak ada. Dulu mainan daun wari-wari beng, kalau dikasih air dan diperas daunnya jadi kayak minyak. Lalu kita jualan, seperti tuan minyak saja. Seru. Sekecil itu kita sudah belajar tentang transaksi jual beli. Ah, sayang sekali ya, Bu. Anak-anak sekarang, apalagi di desa ini, lebih memilih minta uang 5 ribu kepada mamaknya untuk main Point Blank di warnet. Aku khawatir, mereka lebih akrab sama komputer ketimbang sama teman-temannya.”

Aku nggak ngerti deh kakak ngomong apa. Tapi sepertinya seru. Kata kakak dulu banyak pohon yang bisa dipakai mainan di sekitar rumahku. Sekarang sih nggak ada. Kampung kosong yang masih ada pohonnya di depan rumahku sekarang udah dibangun sebuah toko jual pulsa. Jadi ya jangan salahkan kami para anak-anak kalau kami lebih suka main laptop atau mainan sama komputer, orang kalian yang memberi fasilitas kok. Weeekk :p

Kalau kata kakakku lagi, “Anak-anak memang perlu tahu tentang kecanggihan teknologi, tapi nggak harus kehilangan masa kecilnya. Mainan mereka seperti jamuran, ingklik harusnya tetap ada, karena mainan itu cukup membangun moral mereka, bagaimana mereka berinteraksi dengan sesamanya, bagaimana mereka belajar menjadi pemenang atau kalah ketika bermain. Anak-anak sekarang bertarungnya sama komputer, nggak ada emosinya.”

yee, itu mah urusan kalian yang udah gede. Aku, sebagai anak-anak cuma ikut yang ada kok. Makanya, jangan rampas mainan kami kalau gitu. :p

Rumah,

7 Agustus 2011

4.44

*Kadang saya kepikiran untuk membuat permainan tradisional ini dalam versi digital. Teman-teman yang pandai di bidang teknologi, boleh lah dicoba buat games tentang permainan tradisional, seperti jamuran, ingklik, betengan, dan lain-lain. πŸ˜€

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s