Uncategorized

Diary Upin #1: Hore, Aku Punya Kakak!!

“Mbak, aku punya Pipin baru, yang gede, kakaknya Pipin kamu.” kata Adekku di salah satu telepon beberapa bulan lalu saat aku masih di Bandung.

Aku sudah berkali-kali bilang pada adikku yang berumur 5 tahun itu, namanya UPIN bukan PIPIN. Tapi dia masih saja bersikeras kalau nama boneka lebahku itu Pipin. Ah bukan bersikeras ding, dia bahkan tak mau menyebut dengan nama Upin.

Aku jadi ingat setahun lalu, saat aku hendak berangkat ke Bandung, boneka itu sudah kumasukkan ke dalam tas ketika dia tertidur, biar bisa kubawa, sambil berharap esoknya dia tak ingat. Hahaha. Kakak yang jahil ya aku ini. Dia suka sekali sama boneka itu, padahal sudah kukasih jatah si Pipin, dolphinku yang tak kalah manis. Tetap saja, baginya Pipin adalah Upinku. Dan aku tidak bisa bertoleransi soal Upin, kekanak-kanakan sekali tingkahku setahun lalu itu. Aku tertawa sendiri mengingatnya. Tapi kalau tidak begitu, Upin mungkin sekarang tidak berkelana ke Bandung.

Ah iya, dia kutinggal sekarang. Biarin lah, semoga tenteram dia di sana, setenteram pemiliknya. Dan hari ini, aku menemukan kakaknya Upinku. Emm, namanya siapa ya? Adekku belum memberi nama. Aku juga baru saja menemukannya tadi di sela almari pakaianku. Adekku sudah berburu mengancamku, “Nggak ntuk dipek. Nggak boleh dibawa.”

***

Di sela telepon beberapa bulan lalu itu, adik bungsuku baru saja pulang dari Bandungan. Dia sedang piknik bersama dengan teman-temannya di TK. Kata Ibu, begitu melihat boneka lebah bersungu, berponi, dan berwarna kuning hitam, dia langsung meminta beli. Ingat Pipin (Upin) mungkin. Ibuku pun membelikannya. Adikku langsung antusias bercerita di telepon malam itu.

Dalam hati, aku senang juga, Upin punya kakak. Hahaha. Mungkin Upin butuh teman untuk menghapus rindu sama Marzupilami-nya yang udah lama nggak ketemu sama dia. Hahaha. Aku tertawa lagi. Ah, paling boneka yang dimaksud adekku adalah boneka yang teksturnya kasar seperti yang dijual di terminal-terminal, gendut, dan poninya nggak cantik kayak Upinku, pikirku saat itu.

Ternyata aku salah. Hari ini aku bertemu kakaknya Upin. Dia cantik, persis seperti Upin. Hanya saja lebih tinggi dan lebih langsing. Upin kan perutnya buncit. Hahaha. Aku jadi ingat Upin deh.

Apa kabarnya? Malam ini aku memeluk kakakmu, Pin. :p Kalau kakakmu sih nggak bakal aku gigitin, tapi kalau kamu ya maaf ya, sabar aja. Jangan cemberut ya, Pin.

Diary Upin

 

Hampir dua tahun aku berada di tangan bocah ini. Kadang-kadang sih tegar, tapi kalau udah manja ngebetein. Apalagi kalau udah sebel, pasti aku jadi sasarannya. Huh, Mbak Pinso (Upin Himso), okeoke, saya ngalah kok, nggak papa digigitin, daripada si Mbak nyari mangsa, kasihan temen-temennya. :p

Mbak Pinso, tadi aku nguping pembicaraan kamu sama adek kamu di telepon. Apa? Aku punya kakak? Hore.. Hore.. Setidaknya, kalau Mbak Pinso lagi gemes, aku punya temen curhat. Hemmm, kalau boleh usul namanya Kak Poni aja ya. Nggak tahu kenapa kepikiran nama itu. Hahaha. Yes, aku punya kakak. Emangnya Mbak Pinso aja yang boleh punya kakak? #ups. Ampun. Walaupun sebenarnya kalau boleh jujur ya, aku tuh lebih seneng ikut adeknya mbak aja, biar dimandiin. Yah, walaupun nggak dimandiin setidaknya aku nggak digigitin. Udah mau dua tahun Mbak, aku nggak pernah dimandiin, atau ajak creambath deh. Poniku udah gembel banget. Huh, Mbak Pinso ini deh.

Mbak, maap ya, saya pinjem hapenya bentar buat curhat. Marzupilami dan kembaranku Ipin apa kabar ya? Pas aku denger kabar terakhir dari Ipin, dia titip surat lewat bulan, katanya sekarang hidupnya dalam mobil. Dia punya temen warnanya biru. Mbak pinso pasti suka kan warna biru. Hahaha. Saya mah lebih suka warna kuning aja kayak gini. Saya kangen sama saudara-saudara saya itu. Cuma punya satu foto SAMA MEREKA ITU AJA DIHILANGin sama Mbak. Huh. Cari!!!

Mbak Bandung dingin nih, nitip salam buat Kakak baruku ya yang sedang kamu peluk. Editin fotoku dan fotonya ntar kasih liat ke aku ya. Jangan lupa upload di blog kamu, curhatanku ini juga ya. Siapa tahu Marzupilami udah pinter bisa online. Semoga dia juga ga sibuk. Atau jangan-jangan dia terdampar. Satu setengah tahun lalu aku denger kabar, dia digantung di pintu, kejam sekali. Kasihan ya Mbak. Aku nitip surat buat bulan nggak nyampe-nyampe sih. Yaudah sekian. Makasih ya Mbak udah diizinin curhat. 😀

Rumah,

7 Agustus 2011

22.09

*gara-gara malam ini bersama Poni, jadi kepikiran Upin deh, yang lebih parah kepikiran temen-temennya Upin dulu. Haha. Hei Upin, fotonya ketemu nih. 😀

Maaf, ini Area nggak jelas Pena Ahimsa. Yang punya blog sedang berimajinasi. 😀 d*;*-/

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s