Cerita dan Celoteh

Adik-adikku, Apa Kabar?

Tian, Irna, Dias, Febri, Widya, Ayang, Syifa, Astrid, Icha, Yuli, Aldi. Tuh kan, kalian nggak perlu ngetes kakak lagi, sekarang kakak udah hafal nama kalian. :p Apa kabar adek-adek? Udah berapa hari ya kita nggak ketemu? Maaf ya, kakak bahkan tidak datang untuk yang ‘terakhir’. Kalau kalian bertanya terus, “Kak, kapan pulang?” atau “Pati itu mana, Kak?” Ini aku pulang Dek, di kotaku, atau di desa kecil di kotaku, inilah Pati, Adik-adikku. :)
Senja di desa kecil di sudut kotaku ini memerah. Keluarga-keluarga tengah sibuk menyiapkan menu buka, begitupun keluargaku. Kakak sedang menyiapkan Es Kopyor, wah kalian pasti belum pernah minum Es Kopyor ya? Adik-adikku, puasakah kamu hari ini? Atau masih menggeliat manja seperti biasanya ketika kami mengatakan, “Jangan pulang dulu, ayo sekalian solat Isya.” Tiba-tiba aku penasaran, bagaimana puasamu di sana?
Adik-adikku, hari ini Kakak bahagia berada di rumah, semoga kalian pun begitu, berbahagia di tengah keluarga kalian. Tapi aku rindu kalian. Nanti kalau kalian sudah meremaja dan beranjak dewasa, pasti kalian akan mengerti, betapa manusia itu selalu dipenuhi dengan rindu. Ketika berada di sana, aku merindukan keluargaku di rumah. Ketika kini aku di rumah, aku merindukan tawa kalian. Nanti kalian akan mengerti, bahwa hidup harus terus berjalan seberapa besar pun rindu menggerogoti.
Hari ini aku menyadari, andil kalian begitu besar untukku. Ketika mengenal kalian, aku mendapat semangat baru, semangat untuk menjadi seorang yang lebih bermanfaat. Kalian awalnya memang bukan siapa-siapaku. Kita dipertemukan dalam suatu majelis ilmu berjudul ‘pengabdian masyarakat’. Namun tawa kalian hari itu, benar-benar menyadarkanku hakikat kebahagiaan. Terima kasih untuk semua tawa itu. Bahkan sekarang aku percaya, “anak-anak selalu menjadi obat mujarab penghilang galau.” hehe..
Awalnya aku menganggap kalian biasa saja, adik-adik yang ceria seperti anak-anak lain, yang larut dalam tawa. Tapi penghargaan kalian membuatku merasa bahwa ada banyak hal bermanfaat yang bisa kulakukan. Adik-adikku, saat tiba-tiba aku malas untuk sekadar berjalan ke masjid kecil di tepi jembatan itu, banyak alasan menggerogoti. Capek, banyak tugas, ingin istirahat, ah banyak. Tapi ketika aku memutuskan datang, hilanglah semua itu. “Kakaaaaaak, kenapa udah lama nggak ke sini? Kita nggak ada gurunya.” Kalian menghambur, berebut memelukku. Betapa aku ingin menitikkan air mata senja itu. Aku belum pernah merasa disayangi sebagaimana anak-anak menyayangiku-saat itu alu rindu adikku di rumah-. Apakah memang karakter anak-anak seperti itu? Penghargaan yang jujur, senyum yang tulus, wajah yang bahagia.
Pernah suatu ketika, aku dilanda murung yang amat sangat, entah aku lupa karena apa. Namun tiba-tiba saja kesal itu pergi sore itu. Sore itu, aku melewati masjid itu, di sanalah kalian bermain. Awalnya, aku tak memperhatikan siapa-siapa yang ada di sana, aku hanya lewat. Tiba-tiba, “Kak Himsa, Kak Himsa.” Gedebuk-gedebuk sandal kalian terdengar mendekat ke arahku. Aku berhenti. Kalian satu persatu menyalami tanganku. Deg! Subhanallah. Tiba-tiba senyum yang akhir-akhir ini tidak bersahabat dengan wajahku kali ini bersedia tersunggingkan begitu saja dari wajahku. Tulus. Maaf adikku, aku hafal betul wajah kalian, tapi saat itu, aku lupa satu per satu nama kalian. Aku tak pernah menyangka begitu besar kalian menghargai seseorang yang kalian anggap “guru”. Semoga benar adikku, semoga kakak bisa menjadi guru seperti yang kalian harapkan.
Aku sadar, tak selamanya tawa kalian yang kuhadapi. Takjarang kalian merajuk, berebut ingin menjadi yang pertama untuk belajar mengaji. bahkan sedikit bertengkar. Saat itulah aku tersadar, kedewasaanku dipertanyakan. Bisakah aku menenteramkan hati kalian dan membuat kalian berhenti merajuk? Bagaimana membuat kalian tidak bertengkar dan saling mengalah? Beberapa menit, sempat aku terserang bingung. Subhanallah, aku baru menyadari, novel-novel yang kubaca cukup bermanfaat untuk mengatasi hal-hal seperti ini. “Adik-adik, Allah menyayangi hamba-Nya yang mau mengalah. Siapa yang mengalah akan mendapatkan pahala lebih banyak. Mengalah bukan berarti kalah. Ayo siapa saja yang mau dapat pahala lebih?” kataku akhirnya.
“Saya kak, saya.” sekarang malah mereka semua mengacungkan jarinya. Satu persatu mengatakan, “Saya terakhir aja kak gapapa.”
Aku tersenyum. Lihatlah, betapa lugunya mereka. Ada desir kebahagiaan tersendiri yang tidak pernah kurasakan ketika akhirnya mereka menurutiku. Terima kasih, adik-adikku. :)

Sekarang Kakak di rumah, bersama adik kakak yang seumuran kalian, sedikit lebih kecil, yang biasanya kalian lihat fotonya di gallery handphone Kakak. Dia sudah cukup lancar membaca Al-Qur’an, bahkan ketika usia kakak segitu, Kakak masih belajar A ba ta tsa. Kalian jangan mau kalah ya. Harus makin semangat belajar Al-Qur’an. Sampai ketemu lagi usai lebaran ya Adik-adikku :)

dari perjalanan
selesai di Rumah,
2 Agustus 2011
12.28

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s