Cerita dan Celoteh, Cerita Fiksi

Ada dalam Tiada

Sudah tidak ada yang kusimpan lagi. Waktu sudah terlanjur membuka semuanya. Kamu mengetahui dan aku mengetahui. Hanya sekedar itu. Tahu dan itu dulu, sekitar 2 tahun lalu. Aku kadang berpikir apakah pengetahuanku yang dulu kini sudah harus berubah? Apakah aku sekarang masih harus berkata tahu dalam ketidaktahuanku? Kadang aku mempertanyakannya pada diriku sendiri. Kehidupan yang sudah berbeda, komunikasi yang sangat seperlunya, dan tentu saja kerangka berpikir dan pengalaman yang sudah tidak sama lagi. Tapi masih pantaskah aku mempertanyakannya jika dari awal aku sudah berniat memasrahkan semua kepada kehendak Ilahi Rabbi? Aku sering tidak mengerti apa mauku.

Aku, entah mengapa, tak pernah lagi merasakan perasaan aneh tak terdefinisi di tempat ini. Kalaupun ada, itu masih nama yang sama, nama yang tak pernah kutemui pemiliknya di tempat ini. Tak kupungkiri, seringkali aku beristighfar, setiap kali nama itu tiba-tiba saja menjalari ulu hati. Jika itu aku, bagaimana denganmu? Jika aku tiba-tiba teringat pada caramu menasihatiku ketika kuterpuruk, bagaimana denganmu? Apa terkadang masih terlintas di depanmu ketika aku tertawa riang, mengajakmu bercanda seperti waktu itu.

Astaghfirullahaldzim. Rabb, hamba mohon ampun. Dia sudah terlanjur ada. Masih kusimpan dalam diamku semua yang mengganjal, sedih, amarah, sesak, masih hanya aku yang tahu. Kalaupun dulu waktu membiarkan semua terbuka, ah biarlah itu jadi masa lalu, toh aku tak mungkin mengulangi saat itu lagi.

Bandung mulai menggerimis, dan renunganku terhenti, terusik oleh petir kecil yang seakan seperti menekan tombol play di memoriku. Nama Razif sering sekali tiba-tiba saja membuatku terdiam. Kini sudah dua tahun berlalu dari saat itu. Saat pedang-pedang itu menghunus hati kita dan terbuka tabir di antara kita. Aku, Farikha, bukanlah siapa-siapa bagi Razif. Mungkin aku hanya seseorang yang pernah singgah dalam perjalanannya sebagai musafir cinta. Sejak kita terpisah oleh jarak, sejak kita menyadari bahwa belum saatnya bagi kita untuk menjadi terlalu dekat, sejak itulah aku hanya diam, masih menggantungkan namanya pada-Nya. Hanya kusimpan harapan yang kutulis rapi di setiap malam kubersujud, kulayangkan dengan indah pada-Nya. Aku bukan remaja putih abu-abu lagi seperti saat itu, juga dia yang sudah begitu berbeda (walaupun aku takpernah melihatnya langsung). Aku tahu Dia punya ketentuan untuk kita.

Tak ada tali ikatan yang mengikat kita. Masih begitu banyak kemungkinan yang terjadi dalam waktu yang tidak jelas ini. Mungkin hatinya akan terikat dengan sosok lain yang lebih anggun, lebih sholihah, lebih segalanya dariku. Who knows? Mungkin hatiku bisa saja tergetarkan oleh sosok lain. Aku tak tahu. Tapi saat ini, hatiku diam, masih memaku pada sosok Razif. Masih berharap dialah penyempurna separuh dien ini.

Aku tak menyangka semuanya akan begini. Dulu, aku mengira semua mudah. Aku akan menjalani hidupku dengan biasa-biasa saja. But, semua memang biasa-biasa saja, tapi terkadang banyak hal ‘luar biasa’ yang tak bisa kuceritakan, tentang perasaan-perasaan aneh ini. Terkadang aku ingin marah, aku ingin menangis, aku ingin tersenyum, tetapi semua tersendat ketika aku menyadari, aku bukanlah siapa-siapa baginya. Bahkan semua perempuan pun berhak berharap yang sama. Lalu? Entahlah, melihat dirimu sekarang, aku begitu merasa tak pantas jika nanti akulah yang akan menjadi pendamping hidupmu. Kamu terlalu lebih untuk sosok sesederhana aku. Lalu? Entahlah, terkadang aku begitu sulit mengendalikan rasa yang absurd ini.

Dia memang sudah tak ada di pandanganku. Dia memang sudah tak ada didepanku menawarkan senyum di tengah membosankannya hariku. Dia memang tak ada menemaniku dengan canda seperti dulu. Bahkan namanya bukanlah pengisi kotak masuk terbanyakku. Bukan. Tapi dia selalu ada, entah aku tak tahu dia bersembunyi di mana. Dia selalu ada dalam hariku. Dia ada dalam tiada.

Rintik air di teras biruku semakin besar, mungkin sederas cerita kita yang masih mengalir. Kita terpisah karena-Nya, semoga suatu saat kita juga akan berhimpun dalam jalan indah karena-Nya. Petir itu pelan menyambar lagi, kali ini entah mengisyaratkan tombol apa. Hujan merintik, airnya mengalir, tanpa kutahu ke mana akan bermuara. Begitupun kisah ini, aku tidak tahu ke mana cerita ini akan mencapai ending. Sekali lagi, walau dia ada dalam tiada, walau aku tak tahu apakah di hatinya masih tertulis nama yang sama, walau aku sering merasa tak pantas, walau aku sering merasa sakit, sesak, sedih yang tidak ia ketahui, aku masih menggantungkan namanya pada-Nya. Jika suatu saat sang pemilik datang, ada dua kemungkinan, dia akan mengambilnya lalu memakainya, atau hanya mengambil saja dari gantungan itu dan berarti terlepas sama sekali. Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti alur cerita Razif dan Farikha selanjutnya. Mungkin akan terus menggantung, kecuali Sang Pemilik Waktu mengizinkan waktu membuka rahasianya, suatu saat nanti.

Pojok Biru 2,

11-6-2011

14.59

1 thought on “Ada dalam Tiada”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s