Uncategorized

5cm: Sebuah Analisis Komunikasi Kelompok

Arial, Ian, Riani, Zafran, dan Genta adalah lima manusia yang dipertemukan semasa putih abu-abu di sekolahnya. Karena terbiasa bersama, selera musik juga film yang walaupun berbeda namun bisa dipersatukan, prinsip-prinsip hidup yang sejalan pun akhirnya ada dalam diri mereka, seperti kebiasaan anti membicarakan kejelekan orang lain di belakang dan bagaimana mereka meraih mimpi. Menurut West dan Turner, kelima orang ini termasuk kelompok kecil, sehingga keberadaan orang satunya sangat dipengaruhi oleh orang lain. Kelompok mereka termasuk kelompok yang kohesif karena memiliki tingkat kebersamaan yang tinggi dan ikatan yang kuat.

Apa yang terjadi dalam kelompok mereka menunjukkan adanya konformitas, atau kecenderungan para anggota dalam mengatakan atau melakukan hal yang sama. Karena kebersamaan yang menimbulkan kesamaan itulah, dalam kelompok tersebut mereka merasakan sense of belonging. Hal ini sesuai dengan karakteristik kelompok yang dikemukakan oleh Baron dan Byrne dalam Rakhmat (2005, 139), “Pertama, anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok-ada sense of belonging- yang tidak dimiliki orang yang bukan anggota. Kedua, nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain.”

Karena sense of belonging itulah, dalam kelompok mereka terdapat panggilan khusus, seperti Juple atau Kapur Tulis untuk Zafran, Rambo untuk Arial, atau Banana Boat untuk Ian. Kualitas kelompok mereka sudah bersifat dalam dan meluas, artinya sudah menembus batas kepribadian yang tersembunyi, sehingga menurut saya kelompok ini dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok primer. Dalam kelompok primer, yang terpenting bukanlah apakah dia, namun siapakah dia, karena hubungan yang terjalin di dalamnya adalah hubungan personal.

 Persahabatan kelimanya juga tidak mulus, sama seperti persahabatan anak muda pada umumnya. Ada perbedaan. Ada diskusi. Ada penyelesaian.

Gambar 1. (Wiryanto, 45)

Dari gambar model komunikasi kelompok kecil di atas, kita bisa melihat, bahwa sumber informasi dalam kelompok kecil rata. Artinya siapapun dapat menjadi sumber informasi dan berinteraksi satu sama lain. Begitupun Genta, Ian, Zafran, Arial, dan Riani. Siapapun juga memiliki peran masing-masing yang membuatnya menjadi penting dalam kelompok tersebut, entah itu sebagai pemimpin, pengamat aktif, pendengar, pengikut, dan sebagainya.

Sebelum menceritakan lebih lanjut tentang Genta sebagai fokus analisis ini, saya akan menceritakan karakteristik umum empat anggota lainnya terlebih dahulu.

Arial. Dia adalah sosok paling ganteng di antara mereka. Ia kuliah di Fakultas Hukum. “Pokoknya kalau di kibor komputer dia adalah F5 yang suka buat ngesave atau ngerefresh.” (5 cm, 7). Mengapa demikian? Karena baginya yang penting semua berjalan dengan asyik. Ia selalu menjadi orang paling tenang di antara teman-temannya.

Riani. Dialah satu-satunya perempuan dalam kelompok mereka. Ia cantik, berkacamata, cerdas, dan memiliki inner beauty. Ia juga cukup dominan di kelompoknya. Posisinya sebagai satu-satunya perempuan, kadang membuat ia menjadi yang orang yang sedikit lebih serius dalam kelompoknya.

Zafran. Bisa dikatakan dialah ‘seniman sejati’ dalam kelompok mereka. Ia merupakan seorang vokalis band yang sangat hobi berpuisi. Gaya dan perilakunya juga khas seniman serta sifatnya cukup blak-blakan. Potongan rambut gondrong samping serta sedikit berantakan adalah style-nya.

Ian. Dialah anggota terakhir dalam kelompok ini. Sempat kehilangan jati dirinya karena berusaha untuk bisa menjadi Arial, Zafran, Riani, atau Genta. Namun, pada akhirnya ia menemukan siapa dirinya. Ia sosok yang suka tantangan dan pantang menyerah. Dialah orang paling kocak di antara mereka. Ian bisa membuat Genta yang panik menjadi rileks kembali. Tubuhnya yang ‘bengkak’ sering kali menjadi olokan di antara teman-temannya. Namun itulah yang membuat persahabatan mereka begitu erat. Hobinya sedikit aneh, wajib ke Glodok dua minggu sekali.

Terakhir, Genta. Dialah sosok yang akan saya analisis dalam kelompok ini. Seperti yang saya sebutkan dalam pendahuluan, ia adalah “The Leader.” Tidak ada yang menyebutnya demikian. Namun, sudah secara alamiah, Genta menjadi pemimpin di antara mereka. Genta merupakan tipikal orang yang lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. “Genta juga tercatat sebagai penggemar berat Frank Sinatra, aktivis kampus, dan sosok yang paling suka nemenin Ian ke Glodok, paling suka nemenin Riani nonton, paling suka main basket bareng Arial, paling suka nemenin Zafran bikin lagu-lagu aneh, dan yang paling suka sendirian. Tapi Genta juga paling sering maju paling depan dan pasang badan kalo ada yang berantakan gara-gara tabiat mereka..” (5 cm, 13) Mungkin karena hal itulah, keempat temannya yang lain begitu menurut kepadanya. Genta bisa ‘memayungi’ mereka semua. Dia juga orang yang apa adanya serta cukup tegas, sehingga dialah orang yang sering memberikan keputusan dalam kelompoknya. Jika diukur dengan parameter FIRO (Fundamental Interpersonal Relations Orietation), baik dalam kontinuum inklusim, kontrol, maupun afeksi, Genta termasuk seorang ideal, oleh karenanya bisa bergaul dengan semua anggota kelompoknya dengan baik.

Apa peran Genta dalam kelompok?

Kalau ada istilah memberi dan menerima, Genta adalah refleksi paling tepat untuk hal ini. Selain menjadi pendengar yang baik bagi keempat temannya dan selalu mengerti karakter unik masing-masing temannya, ia juga selalu melibatkan keempat temannya untuk proyeknya. Genta, seperti yang dijelaskan dalam alinea ketiga halaman 31 adalah sosok yang memang suka meminta bantuan teman-temannya. Sebagai seorang event organizer, tentu saja ia tidak bisa bekerja sendiri. Ian yang mempunyai kelebihan dalam bidang fotografi, sering ia mintai tolong untuk memotret event-event-nya. Arial dengan wajah dan posturnya yang menarik selalu bersedia untuk menjadi seorang SPH (Sales Promotion Hercules) dalam sebuah pameran. Zafran pun dipercaya Genta untuk menjadi desainer, karena desainnya yang bagus. Apalagi Riani, karena perempuan ini memang cerdas, Genta memberinya tanggung jawab paling besar.

Hal ini menurut psikologis merupakan suatu sikap yang membuat orang lain nyaman dan merasa dipercaya. Dengan sikapnya yang demikian, Genta bisa membuat teman-temannya merasa berguna menjadi sahabatnya dan merasa dipercaya. Inilah salah satu hal yang menyebabkan Genta menjadi seorang pemimpin dalam kelompok mereka.

Genta berperan besar dalam kelompoknya sebagai seorang pemimpin. Dari tiga gaya kepemimpinan klasik yang disampaikan oleh White dan Lippit (1960), yaitu otoriter, demokratis dan laissez faire, Genta termasuk pemimpin bergaya demokratis yang di dalamnya lebih banyak kemandirian dan persahabatan. Ia tidak terlalu sering memberikan saran, tetapi selalu mendengarkan usul anggota lainnya, mempunyai disiplin diri, dan bersikap objektif. Seperti disebutkan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya, “Psikologi Komunikasi”, kepemimpinan merupakan salah satu faktor situasional yang mempengaruhi karakteristik kelompok selain ukuran kelompok, jaringan komunikasi, dan kohesi kelompok. Gaya kepemimpinan Genta membuat kelompok mereka nyaman sehingga persahabatan mereka bertahan lama dan berkarakter.

Genta cukup tegas. Ia menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kelompoknya tanpa melanggar prinsip-prinsip yang telah mereka anut. Genta selalu menjadi pengingat, juga penggerak untuk menyelesaikan masalah.

Ketika Arial, Zafran, dan Riani merasa kehilangan Ian yang ketika itu tiba-tiba menghilang dari kelompok mereka. Genta tahu bahwa kelompoknya sedang dalam masalah. Ia segera mengondisikan ketiga temannya untuk mencari tahu apa yang terjadi. “Si Gendut kemana ya? Tadi gue sms, gue ajak nonton bareng tapi nggak dibales,” Genta membuka forum tentang Ian. Ini merupakan suatu indikasi bahwa ia merupakan sosok yang peka terhadap lingkungannya. Dalam hal ini, ia berperan sebagai pemelihara kelompok, gatekeeper dan expediter, yaitu berusaha membuka saluran komunikasi dengan mendorong partipasi yang lain. Inilah yang membuat Genta menjadi penting, ia selalu memulai hal yang menjadi ganjalan dalam kelompok mereka untuk segera diselesaikan. Karena permulaan dari Genta itulah (initiator), teman-temannya yang lain mulai menyuarakan pendapat mereka. Zafran dan Arial yang saat itu seperti menyimpan sesuatu memulai pembicaraan.

“Mau diomongin nggak?” Arial bertanya pada teman-temannya.

Semuanya diam. Mereka tahu kali ini mereka akan membicarakan Ian. Tapi keempat sahabat ini memiliki kesamaan prinsip, pantang membicarakan kejelekan orang lain, apalagi membicarakan teman sendiri, tidak ada orangnya pula.

Ketika yang lain diam, Genta pun bersuara, inilah Genta, selalu memutuskan ketika yang lain hanya diam. “Jangan jelek-jelekin orang ya.” “Dan jangan lebih dari tiga menit.” (5 cm, 41) Gayanya memutuskan pun tetap dengan memegang prinsip yang dipegang dalam kelompok mereka. Ia tak berhenti mengingatkan, bagaimanapun juga, baginya itu adalah suatu aturan yang dibuat oleh mereka sendiri. Lagi-lagi, perannya sebagai pemelihara kelompok diakui, dalam hal ini sebagai standard setter or ego ideal yang menetapkan kriteria kelompok dalam menjalankan fungsinya atau menggunakan kriteria dalam menilai kualitas proses kelompok.

Akhirnya, Zafran dan Arial pun bercerita. Genta tak lupa menyela, mengingatkan tiga menit, sebagai waktu yang mereka sepakati ketika terpaksa membicarakan orang lain untuk menyelesaikan masalah.

“Terus gimana lo berdua bisa tau kalo Ian jelek-jelekin kalian berdua?” Pertanyaan Genta kepada Arial dan Zafran ini menandakan bahwa ia tetap menjadi seorang yang obyektif dan tidak memihak ketika terjadi masalah di antara mereka. Ia harus tetap mengklarifikasi kebenarannya.

Setelah urusan tiga menit itu selesai, ketika yang lain masih diam, Genta kembali membuat keputusan, “Kita harus ngomong sama si banana boat itu.”

Ketika sudah bertemu dengan Ian pun, Genta tetap menjadi pembuka pembicaraan, walau pun pada akhirnya Ian lah yang bercerita semua dan konflik dalam kelompok mereka pun terselesaikan.

Selain sebagai pembuka dan pemimpin, Genta juga berperan sebagai creator ide yang membuat hubungan dalam kelompok mereka lebih fresh.

Pernah suatu ketika, dalam kelompok tersebut, mereka merasakan suatu kebosanan. Intensitas pertemuan yang sangat sering, canda yang sepertinya terasa seperti dejavu karena berulang-ulang. Hal ini sempat membuat kelima sahabat ini merasa jenuh. Ini wajar dalam psikologi komunikasi kelompok.

“Mungkin sebaiknya kita nggak usah ketemuan dulu.” (5 cm, 62)

Usul Genta langsung disetujui oleh beberapa sahabatnya. Dalam hal ini Genta tahu bagaimana kondisi dalam kelompoknya, dan bagaimana cara untuk keluar dari lubang bernama jenuh. Ia dengan ide-ide kreatifnya selalu dipercaya temannya. Ia berperan sebagai initiator contributor yang menyarankan atau mengusulkan gagasan baru yang berkenaan dengan masalah kelompok.

“Kita keluar sebentar aja, bermimpi lagi masing-masing tentang kita, nanti pas ketemu lagi, pasti lain lagi, lain lagi ceritanya, lain lagi orangnya.” (5 cm, 63)

Akhirnya dengan kesepakatan teman-temannya, Genta pun memutuskan untuk berpisah tiga bulan. Mereka akan merayakan pertemuan mereka pada 14 Agustus. Genta merencanakan perayaan itu. Tiga bulan sebelum itu semua terealisasi, tak ada yang tahu apa rencana Genta. Namun semua percaya, Genta pasti akan memberikan sesuatu yang istimewa untuk mereka. Tak ada yang protes, semua menuruti sang pemimpin

Cara Genta ini ternyata cukup menarik. Selama mereka berpisah, banyak hal lain yang dilakukan oleh sahabatnya. Ia sendiri, merasa senang dengan proyeknya yang kembali amazing. Ian bahkan dapat menyelesaikan skripsinya dalam kurun waktu itu, ia pun lulus dengan sangat membanggakan. Arial yang datar bahkan mulai mengenal cinta. Riani sukses magang di salah satu stasiun televisi. Sedang Zafran masih asyik dengan puisi dan Arindanya. Namun satu yang sama, mereka benar-benar merasa bahwa ketergantungan itu ada, mereka kangen satu sama lain.

Genta kembali memberikan kejutan untuk teman-temannya, puncak Mahameru, yang membuat temannya merasakan pengalaman baru dan perubahan baru. Genta, lagi-lagi, selalu tahu apa yang harus dilakukan untuk kelompoknya.

Genta sang motivator

Perjalanan menuju puncak Mahameru bukanlah hal yang mudah, apalagi saat itu Genta harus mempertanggungjawabkan lima kepala manusia (ditambah Arinda, adik Arial), dua diantaranya kaum Hawa. Nyalinya sempat menciut, namun ia tahu, teman-temannya menaruh kepercayaan di pundaknya. Ia tahu bagaimana cara agar teman-temannya percaya bahwa mereka yang belum pernah mendaki menjadi bisa mendaki Gunung Mahameru, tanah tertinggi di Pulau Jawa.

Genta selalu bisa mengondisikan teman-temannya. Ia pun selalu menjadi rujukan temannya, karena keputusannya yang paling ditunggu. Ketika Genta menyuruh tidur, yang lain pun taat.

“Siap semua?” Genta memegang kedua tali carriernya, menatap tajam ke teman-temannya. Tatapan tajam inilah yang membuat teman-temannya semangat untuk memulai pendakian. Secara psikologis, ia kembali membentuk kepercayaan diri sahabat-sahabatnya. Genta juga menjadi front man namun pada saat-saat tertentu, ia berada di posisi paling belakang untuk melindungi temannya. Genta menentukan, kapan mereka berangkat, kapan mereka istirahat, ia selalu menjadi rujukan pertanyaan teman-temannya.

Di hutan, saat ragu, ia tetap berusaha bangkit, karena teman-temannya menaruh kepercayaan kepadanya. Genta melindungi, selalu menengok ke belakang, bertanggung jawab pada nasib teman-temannya dan selalu menjelaskan ketika temannya bertanya.

“Genta diam saja. Dia memang mulai merasa lelah sekali, tapi dia tahu kelima temannya ini mengandalkan dirinya, dia nggak boleh menurunkan mental mereka. Untuk sekarang, Genta nggak boleh ngeluh, nggak boleh ngomong ‘nggak tau’, dan nggak boleh nggak bisa ngambil keputusan.” (5 cm, 305) Di sini, tampak terlihat bagaimana Genta mempertanggungjawabkan posisinya sebagai pemimpin.

Ia juga pandai memotivasi temannya. “Inget, lo kedinginan bukan kecapekan ya. Lo pasti bisa ke puncak.” (5 cm, 3310. Begitulah cara Genta mengingatkan Arial yang mulai kelelahan. Mungkin, karena kepercayaan yang telah terbangun, kalimat itu cukup memiliki efek untuk Arial.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peran Genta dalam kelompok ini cukup krusial, karena ia berperan sebagai initiator, penengah juga penggerak dalam kelompok ini. Genta dapat memelihara kelompok melalui perannya sebagai gatekeeper dan expediter, standard setter or ego ideal, dan initiator contributor. Oleh karena itulah ia menjadi pemimpin. Ia bisa ‘memeluk’ semua anggota kelompoknya. Hal yang penting adalah ia bisa memotivasi anggota kelompoknya dan membuat semua aggota kelompoknya percaya padanya dan kelompoknya.

DAFTAR PUSTAKA

Dhirgantoro, Donny. 2005. 5 cm. Jakarta: Grasindo.

Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

West, Richard, Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung: Grasindo.

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s