Cerita dan Celoteh, Cerita Fiksi

Jet Mini

ini jet mini 'bohongan' πŸ˜€

Hari itu, seorang gadis SMA berangkat sekolah dengan wajah yang sedikit lebih berseri dari biasanya. Kala itu, di akhir suatu bulan pada tahun 2009, usianya tepat 17 tahun. Entah mengapa, ia senang. Seorang remaja laki-laki, yang duduk di belakangnya tak henti menggodanya. “Ciee ada yang seneng udah 17 belas tahun.” Ia hanya tersenyum, karena hari itu ia memang senang, tak peduli ulangan matematika berturut-turut dengan ulangan Fisika. Tak peduli ia bisa mengerjakan dengan lancar atau tidak. Hari itu, ia memang senang.

Ulangan usai. Satu pelajaran terakhir lagi. Pelajaran yang cukup menarik bagi gadis itu. Sejarah. Tapi hari itu, ia sedikit bandel. Penjelasan sang guru di depan kelas hanya ia dengarkan sambil lewat. Konsentrasinya tertuju pada layar handphone yang seperti merpati bagi dua remaja itu. Ke depan, mengetik, ke belakang, mengetik lagi, ke depan lagi, mengetik lagi, ke belakang lagi. Dua remaja itu hanya tersenyum. Lucu sekali jika kau memperhatikannya. Mereka menyebutnya ‘chatting’.

“Cie ulang tahun. Mau hadiah apa?”

“Jet.”

“Hah? Buat apa jet?”

“Kalau mau ngasih kado ya kasihnya jet :p”

Aneh, perempuan itu meminta jet. Tanpa ada yang tahu. Sebenarnya ia tidak meminta apa-apa. Sama sekali tidak meminta apa-apa. Ia hanya senang saja hari itu. Ia hanya senang masih diberi kesempatan merasakan 17 belas tahun hidupnya yang indah. Mengapa jet? Karena ia tahu, sangatlah tidak mungkin remaja laki-laki di belakangnya bisa memberinya sebuah jet. Meminta ketidakmungkinan? Ya, artinya ia memang tidak meminta apa-apa. Namun..

Plak. Sebuah kertas mendarat di mejanya. Kertas itu berbentuk pesawat, namun bisa dikatakan lebih mirip jet. Perempuan itu tersenyum. Dalam hatinya bingung, tak menyangka orang di belakangnya bisa kreatif membuatkan miniatur jet dari kertas. Perempuan itu pun menoleh ke belakang.

“Apaan ini?”

“Katanya minta jet, itu jet mini. Eh bawa sini deh.” Remaja laki-laki itu menuliskan sesuatu di pesawat jet kertas buatannya. Sayap kiri dan kanan bertuliskan, ‘jet mini’. Sang gadis semakin tersenyum, malu, tidak tahu apa yang terjadi dengan hatinya. Entah juga apa yang sebenarnya dirasakan oleh laki-laki itu.

Teman di sebelah gadis itu, juga teman si laki-laki itu menatap mereka curiga. Lagi-lagi, si laki-laki bertingkah aneh, di luar daya pikir si gadis.

“Hm, mau liat kita ngobrolin apa? Nih..” Ia menunjukkan handphone-nya kepada teman di sebelahnya. Unik. Chatting di handphone itu semakin ramai seperti sebuah forum. Sekarang mereka ngobrol berempat. Ngobrolin aneh-aneh. Macam-macam, khas anak SMA. Pesawat itu jadi mainan mereka berempat, persis seperti anak kecil kedapatan balon. Tetap saja, pesawat itu terakhir berada di tangan sang gadis. Ia menyimpannya. Ia tak pernah tahu, apa arti pesawat itu bagi seseorang yang duduk di belakangnya. Mungkin, itu hanyalah sebuah permainan. Tapi entah mengapa, sang gadis ternyata menyimpannya, setelah hampir 2 tahun kejadian itu berlalu.

Sekarang, saat sang gadis tidak sengaja menemukan jet mini tersebut, ia kembali tersenyum mengenang masa putih abu-abu. “Kalau ini jet beneran, aku ingin melesat ke suatu tempat.” gumamnya.

Pojok Biru 2,

Hujan,

Kamis, 21 Juli 2011

14.39

2 thoughts on “Jet Mini”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s