Uncategorized

Kalau Kuliah adalah SMA

Sudah berapa tahun sekarang kita menjadi mahasiswa? Sudah berapa orang yang mewarnai hari-hari baru kita di tempat yang jauh dari indahnya kampung halaman? Sudah berapa dosen yang mengajari kita banyak hal? Sudah berapa banyak tinta yang kita kumpulkan untuk menulis sebuah catatan bernama ilmu?

Ya, sekarang kita mahasiswa, bukan siswa lagi. Nama belajarnya kuliah, bukan sekolah. Nama pengajarnya dosen, bukan guru. Nama gedungnya kampus, bukan sekolah. Nama pelajarannya mata kuliah, bukan mata pelajaran. Nilai kita A, B, C, D, dan E lengkap dengan + dan – yang terangkum dalam transkrip nilai bernama IPK, bukan lagi buku rapor yang diambil orang tua kita tiap akhir semester. Kita belajar ilmu-ilmu di jurusan yang sudah kita pilih di akhir masa SMA kita. Kita bukan lagi menunggu dikte dari seorang dosen, jika dulu terbiasa didikte oleh guru. Dan masih banyak hal lagi jika mau dibandingkan.

Tapi… Ada yang susah terlupa setelah bertahun kita melalui waktu menjadi mahasiswa, setelah banyak orang baru kita temui, setelah banyak tugas kita kerjakan. Ya, high school memories. Tak banyak yang bisa sepenuhnya menutup cerita SMA ketika bangku kuliah sudah menjadi makanan sehari-hari. Nggak percaya? Apa agenda yang paling kita nantikan ketika pulang kampung? Lebih dari 70% menjawab, “kumpul dengan teman-teman SMA.” Begitu pun saya. Berkumpul dengan kawan seperjuangan di masa putih abu-abu menjadi agenda wajib yang paling kurindukan. Bagaimana pun ceritanya, masa SMA tetaplah berbeda. Bersahabat di masa labil dalam putih polosnya remaja belasan tahun, berjanji dengan mimpi-mimpi di tengah abu-abunya langkah kita. Kegilaan masa SMA tetaplah yang paling unik. Kebahagiaan, kesedihan, marah, masa kelam, ketika cinta tumbuh, ketika waktu mempertemukan kita di senja Ombak Kuta dan segarnya pagi Curug Sewu. Masa SMA tetaplah masa berjuta kenangan yang semangatnya harus dibawa hingga kini.

“Akan ada suatu keadaan, kenangan, dan orang-orang tertentu yang pernah singgah dalam hati kita dan kita pun tidak akan pernah sama lagi seperti kita sebelumnya.” (5cm, 4)”

Ya, seberapa indah pun masa putih abu-abu itu, ia hanyalah sepotong episode dalam hidup kita yang pasti berlalu. Kita pun tidak akan pernah sama lagi seperti kita sebelumnya. Kita sekarang mahasiswa, yang memiliki tahap lebih tinggi dari SMA. Sudah bukan saatnya lagi bersenang-senang, tapi sekarang lah waktunya mendekatkan mimpi, merangkai tanggung jawab, menjadi manusia yang benar-benar manusia. Di sinilah mungkin kita akan merasakan sensasi bahwa hanya Allah lah yang paling setia, tempat segala bergantung, ketika keluarga bahkan sahabat sedang sibuk menata hidupnya sendiri. Di sinilah kita belajar mengelola air mata, mengelola bahagia, menjadikan diri kita manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Menjadikan kata dewasa adalah langkah yang harus kita tempuh. Di sinilah kita akan merasakan betapa keluarga kedua itu benar-benar ada. Di sinilah kita akan merasakan sebuah perjuangan pahit berujung manis. Di sinilah kita akan belajar bertanggung jawab pada diri kita sendiri.

Tapi kuliah tetaplah hanya fasilitas, karena tetap kita sendiri yang memilih akan menjadikan apa diri kita ini.

Kalau kuliah adalah SMA? Kapan saatnya kita menjadi dewasa? 🙂

sebuah muhasabah setahun menjadi mahasiswa. 🙂

Pojok Biru 2,

Senin, 18 Juli 2011

17.07

-azaleav-

1 thought on “Kalau Kuliah adalah SMA”

  1. aku suka rangkaian katanya…………..
    masi terpikir gimana nasib yang didaerah
    pa mreka tau dan pernah meraskan KULIAH

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s