Cerita dan Celoteh

Mengintip Kardus Cinta

Ada banyak mozaik yang memerah di hati Alea, tapi satu mozaik ini untuk mereka yang masih sesak dilanda cinta. Maka baginya, urusan cinta hanya perlu dikardusi terlebih dahulu, disimpan rapat. Jika rindu merasuk, itu adalah suatu kewajaran. Namun rindu itu sederhana. Hadapi rindumu yang menyesakkan cukup dengan senyuman dan biarkan semua tersimpan rapi dalam kardusmu.

Β Sudah kuputuskan sejak hari itu, urusan cinta hanyalah tentang semangatku untuk terus merangkaki tangga ilmu hingga dapat kutempatkan tempat tertinggi untuk impianku. Urusan cinta kusepakati dengan hatiku tidak akan membuatku goyah. Aku tidak ingin menepisnya, kubiarkan ada jika memang masih ada. Urusan tentang cinta hanya kusimpan rapat dalam sebuah kardus. Seperti sebuah sepatu yang kucuci bersih, mengkilat, dan kusimpan lagi dalam kardusnya agar tak lagi berdebu. Kuabaikan dahulu. Man shabara zhafira.

Namun entah mengapa, pembicaraan tentang cinta begitu lekat di pendengaran. Hari ini teman di kampus, esok teman kosan, esoknya lagi entah teman di antah berantah. Semua itu terkadang begitu menggodaku untuk memikirkannya lagi. Aku mengintip sedikit kardus ini, alhamdulillah masih rapat. Kubiarkan ia tetap rapat, lalu kutinggalkan. Kelak, aku berjanji akan membukanya lagi dengan sangat indah. Ya, kelak, ketika ada satu nama yang dengan gentle datang, meminta kardus itu dibuka, bukan kepadaku, tetapi terlebih kepada orang tuaku.

Aku pernah menyatakan diri sebagai gadis kuat, takpeduli urusan cinta. Namun siapa yang tahu, akhirnya aku merasakannya, merasakan urusan cinta itu. Aku kemudian mengakui urusan cinta begitu menyebalkan, menyesakkan, dan menjadikanku sesosok gadis yang….rapuh. Ya, kuakui itu, penyakit cinta nomor satu dan dua yang pernah kusebutkan sebelumnya benar-benar penyakit akut yang merapuhkan. Lama aku berada dalam kondisi itu.

Aku pernah bingung, bagaimana mengobati penyakit-penyakit itu. Aku sudah pernah memaksakan diri lari, tapi yang ada sesak semakin menyesakkan. Lama sekali. Dan waktu selalu menjadi saksi atas proses pembelajaran ini.

Sejak hari itu, terakhir kali urusan cinta masih bertahta di otakku, aku menangis, sesenggukan, merasakan betapa sakitnya ini, merasakan betapa pedihnya ketika cinta terpelihara belum pada waktunya. Aku mencoba bangkit, memendam rindu yang menjadi. Dan hari itu kutemukan sesuatu yang membuatku tersenyum setelah urusan cinta itu mengganggu pikiranku. Cinta memang absurd, tapi ia tidak rumit. Cinta itu begitu sederhana. Karenanya rindu juga sederhana. Begitu pun cemburu. Satu perasaan lengkap dengan dua penyakitnya itu pada hakikatnya adalah sesuatu yang sederhana. Apa jawabanku untuk mengatasinya? Kubiarkan, kuhadapi dengan sederhana, lalu kukembalikan urusan itu kepada-Nya, kepada yang memberinya.

Kusimpan dalam kardus. Maka sekarang aku banyak tersenyum. Hari ini aku hanya mengintipnya dan aku menyadari betapa Allah tidak sekalipun membiarkan satu hal terjadi sia-sia di dunia ini. Urusan cinta itu menjejakkan banyak hikmah dalam hidupku. Duhai, betapa memang benar sangat indah, tapi tentu akan sangat lebih indah jika kunikmati pada saat yang tepat. Inikah yang disebut proses pendewasaan? Aku tidak tahu.

Aku terlepas dari urusan ini. Kutenggelamkan langkahku pada majelis ilmu. Kubenamkan otakku pada petualangan-petualangan seru dalam dunia buku. Kutumpahkan semangatku pada mozaik-mozaik ini.

Bila, kemudian aku teringat namanya, maka aku teringat mimpiku yang harus kuraih.

Bila, kemudian rindu dan cemburu itu datang lagi, kuterbitkan semangat Fatimah Azzahra yang begitu pandai memendam semuanya.

Bila, kemudian tentang cinta menjadi topik yang mengelilingi hariku, maka biarlah menjadi ujian yang membahagiakan, karena topik cinta memang selalu begitu, membahagiakan.

Bila, kemudian aku menangis, maka kubiarkan air mataku menghujan, dan senyumku akan memayungi, maka pelangi bahagia lah yang terpancar.

Aku hanya ingin berhenti menjadi rapuh. Aku hanya ingin lebih kencang berlari mengejar mimpiku. Dan urusan itu, biarlah tersimpan dulu dalam kardus.

Aku bahagia. Urusan rindu dan cemburu, biar hanya aku dan Allah yang mengetahui bagaimana rasanya.

Mozaik merah dari Alea

sore yg memancarkan kelapangan hati

kota yg menenteramkan,

8 Juli 2011

15.55

2 thoughts on “Mengintip Kardus Cinta”

  1. aku baca ini, rasanya kayak kamu cerita langsung pi
    kebayang suaramu yg serak-serak itu….
    aku rasa, cinta yang membuatmu dewasa, tidak ada yang salah dengan cinta…
    cukup disikapi dengan bijak saja,..
    semangat menulisnya…

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s