Cerita dan Celoteh

Hanya Sesederhana Itu..

Besok UAS ya? Alhamdulillah tidak ada satu huruf pun yang nyantol di otak saya. Boleh nggak membenci diri sendiri? Atau paling tidak membenci sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Ah sudahlah, membenci diri sendiri atau apapun bukan sesuatu yang penting. Aku bersyukur pernah punya rasa yang namanya sakit hati. Kenapa? Karena berarti aku pernah mengenal rasa yang namanya sehat hati, atau senang hati, atau bahagia hati, atau apalah namanya.

Saya tidak tahu mau nulis apa. Akhir-akhir ini banyak tulisan saya yang saya simpan, tidak ingin saya bagi ke siapapun. Entah dengan yang ini. Kalau tiba-tiba saya tekan publish, berarti saat ini kalian sedang membaca tulisan ini. Masih undefined.

Saya baru menemukan rumus baru, tentang sesuatu hal yang sebenarnya malas sekali saya bicarakan. Tapi ini realita. Cinta bukan sesuatu yang undefined seperti yang sering saya bilang. Kalau pun ia absurd dan undefined, sebenarnya ada satu realita tentang cinta yang jarang kita sadari, bahkan tidak mau kita percaya mungkin. Cinta itu sederhana. Sangat sederhana. Hanya antara ada dan tidak. Hanya antara apa adanya atau dipaksa ada apanya. Hanya tentang mengerti tanpa meminta untuk banyak dimengerti. Hanya sesederhana itu. Tapi mengapa terlalu banyak yang menganggap rumit?

Arrghh, ngapain juga dipikirin. Tulisan di atas hanya mengikuti gerak tangan saya meloncati tuts-tuts keyboard. Nggak penting. Daripada masukin huruf nggak masuk, yaudah lebih baik ditumpahin aja kan hurufnya.

Astaghfirullahaldzim. “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

“Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat..” (QS. Al-Baqarah:214)

Allah sedang menguji seberapa kuat kamu menghadapi kesederhanaan itu. Allah sedang menguji apakah kamu akan terus merumitkan sesuatu yang sangat sederhana. Allah sedang menguatkan hati-hati yang rapuh untuk berdiri. Allah sedang memberikan ulurannya untuk hamba yang tertatih. Allah Maha Mengetahui apa yang tidak aku ketahui.

Manusia itu seperti gunung es, hanya bagian sangat kecil yang nampak di permukaan, yang bisa dilihat oleh semua orang. Hanya bagian itu pula yang akan dinilai oleh orang-orang. Mungkin tidak ada 1 persen. Selebihnya? Hanya manusia itu sendiri dan Allah yang tahu. Yang jelas semuanya hanyalah sesuatu yang sangat sederhana jika kita menilainya secara sederhana. Dan perasaan-perasaan aneh, sakit, marah, atau apapun juga sesuatu yang sederhana. Begitu pun aku. Sederhana. Aku tidak meminta apapun, bahkan aku berhenti untuk minta dimengerti. Aku berdiri, berusaha mengerti, tanpa harus dimengerti. Jika aku sakit hati? Itu hanya tentang sesuatu yang sederhana. Paling hanya tentang menangis. Lalu bagaimana tersenyum lagi esok hari. Hanya sesederhana itu.

Draft usang

Pojok Biru 2,

19 Juni 2011

21.53

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s