Cerita dan Celoteh

Bahagia Itu Pilihan! :)

“Tidak semua orang mendapatkan pilihan pertama dalam hidup ini. Tapi kita bisa hidup sama bahagianya dengan mereka, meski hanya mendapat pilihan kedua, ketiga, bahkan ke seratus-satu.” -Tere-Liye-

Bahagia itu pilihan. Sejauh mana kita memilih untuk melapangkan hati kita terhadap berbagai kejadian yang kita alami dalam hidup kita, sejauh mana kita memilih untuk merasa bahagia. Bahagia itu sederhana.

Aku menutup novel biru yang berhari-hari hanya kubaca sekilas, kututup lagi, kubuka lagi, hingga beberapa detik lalu aku baru saja menutupnya. Aku mengusap air mata yang masih tersisa. Air mata karena malu.

Dulu, ketika pertama kali menapaki langkah di bumi Siliwangi ini, perasaan ini begitu susah menerima kenyataan, kenyataan atas pilihanku sendiri. Aneh memang, aku tidak memilih pilihan pertamaku. Aku memilih pilihan ke sekian yang menurutku akan membuatku bahagia, tapi aku tidak bahagia, setidaknya waktu itu. Aku memulai masa orientasi menjadi seorang mahasiswa yang seharusnya membahagiakan dan tidak terlupakan dengan trauma tersendiri yang membuatku mengalami sakit psikis. Bayang-bayang warna kuning yang seharusnya menjadi pilihan pertamaku yang tidak kupilih, terus dan terus saja membuatku merasa tidak bahagia berada di sini. Kepulangan pertamaku di kampung halaman, kuawali dengan menyakiti hati ayah, membuat tekanan darahnya menaik dan murung berhari-hari karena kalimatku, “Aku akan ke sana tahun depan.” Aku terus saja memberontak dan bersikap seolah aku tidak pernah bahagia di sini.

Enam bulan berlalu, beberapa sahabat masih mengingatkanku hakikat kebahagiaan. Aku masih kukuh dengan rasa kecewa yang kubawa. Aku masih kukuh menghibur hatiku yang selalu saja mengatakan, di kampus kuning itu bisa saja kehidupanku lebih baik. Aku masih diliputi perasaan marah. Lalu labil, terkadang menerima terkadang memberontak sendiri, lebih sering memberontak. Aku terus saja menyalahkan ketololanku, menyalahkan peristiwa itu yang seharusnya tidak salah apa-apa. Aku bilang aku menerima, tapi tak banyak yang tahu, di saat aku sesak melawan pergolakan hatiku yang rupanya masih diselingi parit-parit kotor, yang kubuat kebeningannya hanya dari saringan, yang bila disentuh sedikit saja, akan keruh kembali karena tanah-tanah yang kusembunyikan kembali menyeruak.

Tapi lihatlah, Allah begitu baik pada umat-Nya, sekali pun yang sering mengeluh, tidak banyak mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya, bahkan yang begitu sulit percaya bahwa Dia telah memberikan yang terbaik. Allah menunjukkan keajaiban, jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku yang sedikit memberontak terpatahkan satu per satu dari setiap kejadian yang kualami di kampus biru ini. Dia memberikan kebahagiaan takterbantahkan. Kurang apalagi untukku?

Sekarang sudah setahun berlalu dari hari itu, sudah satu tahun berlalu ketika kualami berbagai pelajaran hidup di sini. Satu tahun pula aku berdebat tentang arti kebahagiaan.

Hari ini, aku mencopot stiker “Universitas Indonesia” yang dari awal kutempel di dinding biruku, mewarnai kamarku. Aku yang sekarang sudah jauh lebih stabil dari enam bulan lalu. Kau tahu apa rahasianya? Aku memilih untuk bahagia. Pendaftaran SNMPTN beberapa minggu lalu kudiamkan begitu saja. Sempat aku gentar ingin mendaftar, bukan karena aku ingin pergi ke sana, tapi hanya sekadar menjawab rasa penasaranku pada kampus kuning itu. Namun, aku memilih “do nothing”, bukan karena aku menyerah pada mimpiku, tapi karena aku memilih bahagia dengan pilihan ke sekian ini-yangsekarangadalahpilihanpertama-.

Sekarang aku mengerti, benar-benar mengerti, kebahagiaan hidup hakikatnya ada pada kita sendiri. Semua begitu sederhana.

Sering aku bersedih dalam beberapa malamku, entah sakit hati hanya karena beberapa kata, entah karena perasaan-perasaan aneh, entah karena kecewa atas sesuatu yang tidak kudapatkan. Tapi selalu kukatakan, esok aku akan tersenyum lagi. Dan memang benar, semua begitu sederhana. Ketika aku tidur dengan mata sembab dan memilih bangun dengan wajah tersenyum, semuanya tetap baik-baik saja. Semua akan indah disertai dengan penerimaan yang indah.

“Kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikit pun beningnya kebahagiaan yang kau miliki.”

Semua memang proses, dan waktu selalu menjadi obat manjur untuk sakit yang takterperi. Hanya saja, setiap orang memiliki dosis dan takaran waktu yang berbeda untuk menyembuhkan luka yang dimiliki.

Alhamdulillah, satu PR besar dalam hidupku kutemukan jawabannya. Kini, masih ada satu PR lagi yang harus kujawab dengan penerimaan, yang belum bisa kuterima dengan indah, yang masih sering membuatku menangis, yang masih sering membuatku sulit untuk berkata “Aku bahagia atas itu”, yang masih membuat hatiku mudah tergores dan belum lapang. Mungkin takaran waktu untuk hal yang satu ini berbeda. Semoga suatu saat, aku juga bisa mengatakan bahwa aku menerimanya dengan indah, apapun yang terjadi nanti. πŸ™‚

Untuk Abah dan Ibu yang selalu mengajarkanku arti kebahagiaan. Untuk Dek Nia, semoga kamu juga bisa sepertiku, mendapat kebahagiaan di tempat yang bukan pilihan pertamamu. Untuk Dek Amiq, raihlah kebahagiaan sejatimu. Dan adekku yang paling imut, suatu saat kalau kamu sudah bisa membaca notes ini, aku yakin kamu sudah belajar banyak arti kebahagiaan dari kakak-kakakmu.

Untuk adek-adekku di kampung belajar dan masjid At-Taqwa, kalian salah satu sumber kebahagiaanku di sini. “Kak Himsa.. Kak Himsa..” Sapaan itu bahkan bisa membuatku tersenyum dan melupakan sakit hati yang sedang kurasakan.

Untuk yang telah bersedia menjadi kakak.. nothing to say.. : )

Untuk RAMPES atas kegilaan-kegilaannya. Untuk SC8 dan SuperSe7en yang mengantarkanku pada kebahagiaan. Untuk semua teman-temanku di sini.

Untuk Sahabat GAMUS yang membuatku kembali merasakan persaudaraan. Untuk SEF yang mengantarku pada prestasi-prestasi itu dan mengingatkanku arti sebuah kompetisi. Untuk Jurnalistik yang mengembalikanku pada duniaku, juga kakak mentor di kampung belajar yang membuatku tertawa riang.

Untuk Kak Put, Teh Tiwi, Teh Halwi, Kak Vanda, Kak Hesti, Mbak Atik, Mbak Ayu, Kak Ade, Kak Hanna dan kak siapa saja yang selama ini membuatku memiliki seorang kakak perempuan. Hai, Thank you all.. πŸ™‚

Terakhir untuk si ehem yang sekarang kembali ke kampung halamannya, meninggalkanku di sini. Yaah, nggak dijemput lagi donk buat beli lele. Yaaah, nggak diajak ngebut dan nyendal lagi di atas Vario Pink lagi donk kalau ada ‘siehem’ lewat. Makasih ya sayang sudah memenuhi kotak masukku selama ini dan selalu ngajak aku maksa nangis bareng. :p Eh kita belum mbolang bareng ke kota itu 😦 Semoga kamu juga sukses dan bahagia dengan pilihanmu πŸ™‚ (cc: LELY FACHRUL ILMI WAHYUDI)

Untuk semua orang yang pernah menjadi bagian hidupku, memberikan semangat sejak dulu, menyayangiku, mengkhawatirkanku, aku sekarang bahagia. Dan aku tak kan melupakan kalian. Doakan aku bisa melewati satu PR lagi dengan lancar dan bisa istiqomah melewati setiap kerikil kehidupan ini.

: )

Horison Biru,

28 Juni 2011

16.14 WIB

*Kok malah jadi kaya apa ya? Hehehe.. Ini hanya sekadar ungkapan tentang kebahagiaan yang sebenarnya begitu sederhana. πŸ™‚

Inspired by: “Ayahku Bukan Pembohong” _Tere-Liye_

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s