Cerita dan Celoteh

Dunia Novel

Hei, mengapa ya tiba-tiba aku merasa dunia ini seperti sebuah novel. Sayang, sayaaaang sekali aku kurang berani menggetarkan konfliknya, kupilih diam, menghindarinya, karena bergerak berarti tantangan itulah yang akan muncul. Bergerak? Bukankah dengan bergerak aku akan sampai ke sana?

Aku memilih diam. Sakit, aku memilih diam. Air mata mengalir, aku memilih diam. Bahagia, aku memilih diam. Kalaupun benar ini sebuah novel, maka inilah novel teraneh yang pernah ada. Kadang kuberikan sedikit sentuhan dalam ‘novel’ ini, tapi ujungnya aku pun diam, membiarkan orang yang masih mau membaca novelku bertanya-tanya–kalaumasihmaubertanya–atau kadang menganggapi novel ini nggak jelas. Lalu orang-orang yang masih membaca itupun lupa rasa bertanya-tanya mereka dengan kalimat yang selalu kubilang dengan ujung, “gajadi”. Memang nggak jelas, tapi aku berharap alur ceritanya masih mengarah ke ‘sana’. Aku berharap, dia, yang membaca novelku, mengerti arti ketidakjelasanku. Hm, banyak yang begitu jelas di antara ketidakjelasan yang nampak. Yaa, kejelasan yang tersembunyi. Aku tahu pasti bulir-bulir keganjalan ini begitu jelas. Tapi, seperti yang kubilang tadi, aku memilih diam. Setidaknya dengan diam, cukup aku yang merasakan sakit. Setidaknya dengan diam, tidak ada air mata jatuh lagi. Dan jika aku bahagia, aku yakin, engkau mengerti arti kebahagiaan dalam diamku.

Sayaaang, sekali lagi sayaaang.. Pilihan diamku tidak sepenuhnya tepat, ambiguitas makin besar. Aku tahu, mereka yang masih membaca novelku semakin malas membacanya karena ketidakjelasan ini. Ah, pembaca itu mungkin nggak tahu. Keganjalan-keganjalan ini terus menumpuk, semakin menutupi kejelasan yang ada, hanya ketidakjelasan lah yang nampak. Setidaknya di mata pembaca.

Aku ingin mengangkat tabir ini. Aku akan berhenti diam. Akan ada masa aku cerita semua ketidakjelasan itu, nanti. Entah kapan. Mungkin di ujung novel ini, atau sebelumnya. Aku masih belum berani mengangkat konfliknya. Biar aku diam dan semua benar-benar menjadi novel.

Tulisan ini pun masih tidak jelas, karena kejelasan-kejelasan yang ada masih tertutupi oleh perasaan-perasaan mengganjal yang kudiamkan. Biar aku diam saja.

Pojok Biru 2,

Sabtu, 23 April 2011

21.39

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s