Cerita dan Celoteh

Sempurna di Pucuk Horison Biru

Luas. Membentang indah. Untuk pertama kalinya setelah langit diwarnai dengan romantisme mendung dan gerimis, malam ini langit ‘berdandan’ dengan begitu eloknya. Gelapnya sempurna indah diterangi bulan yang juga melingkar sempurna. Bintang pun untuk pertama kalinya–lagi–kulihat menampakkan wajah-wajahnya, berkerlip manja, aduhai tergoda hatiku. Lampu-lampu tower pemancar juga takkalah bersaing, walaupun jumlahnya pun bisa dihitung jari, juga sebuah menara masjid yang tak megah di depan pandanganku. Malam ini sempurna megah bagiku.

Aku duduk di atas hamparan luas di lantai tiga. Bukan sebuah tempat istimewa, hanya lantai semen 10×8 meter, tempat terbuka yang akan ‘ditumbuhi’ kamar-kamar kontrakan lagi. Temanku antena televisi, juga beberapa baju jemuran yang belum diangkat oleh sang empunya. Tempat ini sungguh biasa-biasa saja. Bahkan beberapa rumah kosan di sudut Bandung ini hampir semua mempunyai tempat seperti ini. Tapi bagiku tempat ini indah. Di sinilah aku bercengkerama dengan romantisnya langit, atau terkadang melambai ketika pesawat lewat seperti kawanan burung. Aku menyebut tempat ini Horison Biru. Bagiku tempat ini selalu biru, hingga birunya tinta penaku menggores halaman kosong dengan sangat lancarnya.

Di sini bulan tersenyum, lalu kusampaikan padanya berbagai titipan. Banyak sekali. Untung saja bulan takpernah mematok harga perangko untuk setiap titipanku. Bulan mengingatkanku sebuah ketenangan. Takpeduli sudah berapa banyak orang yang menikmati wajahnya malam ini, ia tersenyum, menenangkan hati-hati yang gelisah, tentu saja hati-hati yang masih menyadari, di antara berbagai penat yang melelahkan, di antara berbagai gelisah yang menyapa, Allah masih melukiskan purnamanya bulan untuk menenangkan hati makhluk paling absurd ini. Ah, sungguh sempurna wajah bulan malam ini. Gurat-gurat putih bergradasi di sekelilingnya, entah pertanda apa, tapi iniΒ  lebih romantis daripada gerimis yang pernah kuceritakan dalam gelap malam.

Sungguh, semakin sempurna diwarnai desah angin yang menggetarkan epidermis kulitku. Angin yang begitu bersahabat, mungkin membawa pesan dari berbagai orang nan jauh di sana. Mungkin juga membawa udara yang menjadi saksi hati-hati yang merindu. Mungkin juga membawa jutaan perangko yang disampaikan pada bulan. Kita takpernah tahu rahasia angin. Ah, jangankan rahasia angin, begitu banyak hal yang tidak kita ketahui juga tidak kita pahami di dunia ini.

Dingin. Bintang-bintang itu semakin malam semakin berkompetisi ingin menampakkan kerlipnya. Aiih, aku kadang berpikir mungkinkah aku membawa satu bintang untuk kusimpan seperti kata lagu-lagu romantis itu, atau kubawa sekelibat saja cahaya sebagai temanku bercerita setiap malamnya. Ah sayangnya aku sedang tidak ingin menggombal, aku sedang ingin benar-benar jujur. Sudah tiga buah pesawat melintas dengan tiga arah yang berbeda. Taktahulah ke mana mereka akan terbang mengarungi langit. Aku takpeduli. Malam ini bukan saja romantis, tapi terlalu sempurna jika hanya untuk sekadar lari dari penat yang ada. Aku diam, sang Pemilik Bulan pasti mengerti apa yang aku rasakan malam ini, apa yang menyesakkan dadaku. Oh Allah, Duhai indah cara-Mu mengobati luka-luka hati. Wahai, duhai syahdu bulan-Mu menenangkan jiwa-jiwa yang resah. Bagaimanalah? Kerlip bintang itu teramat sayang untuk disakiti, teramat sayang jika tidak disyukuri, apalagi gradasi putih yang mengelilingi indah bulan itu, aih ia terus berjalan menyebar, semakin menjauh, mengingatkanku bahwa hidup pun bergradasi, seperti gradasi putih itu, yang juga berjalan. Penat ini pasti akan berlalu, bisa berlalu indah atau bahkan menyakitkan, hanya bagaimana kita ‘memilih’ untuk melaluinya.

Allah.. Aku mencintai-Mu..

Horison Biru,

18 April 2011

20.49

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s