Cerita dan Celoteh

Rinduuuu

 

benar-benar rindu

Aku bosan menulis kata rindu, tapi aku terlalu sering merasakannya. Aku bosan menceritakannya, tapi cara inilah yang membuatku lega. Malam ini rindu benar-benar mengganggu. Walaupun akhirnya karena rindu itu pulalah semangat belajarku kembali.

Pertama sekali di malam ini, ketika matahari baru saja menyampaikan sampai jumpa pada langit, dan gema azan menyeru merdu, aku rindu pada Ibu. Rinduuuuu sekali. Lalu terlintas, berapa bulan lagi aku akan pulang memeluknya erat? Aku benar-benar ingin memeluk ibu sekarang, entah sebab apa. Aku rindu belai lembut tangannya mengusap tanganku atau mencubit lenganku kalau aku sedikit bandel. Aku rindu, rindu, teramat rindu pada Ibu. Lalu karena rindu pada Ibu itulah aku rindu suasana rumah, Abah, adek-adek, Mbah, pertengkaran kecilku dengan adek-adek yang membuat Abah dan Ibu tersenyum, rajukan manja adekku yang paling kecil, makan malam bersama atau menunggu sarapan pagi. Entah kenapa aku rindu sekali.

Belum lepas rinduku pergi, aku mengalihkan konsentrasiku pada kertas, kutuliskan kalimat-kalimat tentang komunikasi antar budaya, entah masuk di kepalaku atau tidak. Mengingat Ibu berarti harus mengingat bahwa aku harus menuliskan prestasiku di sini. Maka aku kembali menulis, belajar, memahami teori-teori (lagi). Tapi rinduku makin bertambah, kali ini bukan hanya pada Ibu, tapi pada semangatku. Aku rindu kepalan tangan sahabat-sahabatku sebelum memasuki ruang ujian. Semangat itu, tawa itu, canda itu, air mata itu, lagi-lagi melintasi memoriku. Aku kemudian rindu sebuah senyum yang mengembang, menoleh ke arahku sebelum memulai ujian. Aku rindu berkata, “aku padamu” kepada teman-teman. Masa-masa itu kadang geje, tapi bagiku sarat pelajaran, yang tak bisa kulupakan bahkan walaupun berbagai kesibukan kugeluti di sini.

Sekarang tak ada kopi menemaniku belajar seperti waktu itu. Belajar larut diselingi tawa atau kadang curhat-curhat kecil. Lalu juga terkadang diselingi telepon dari seseorang yang mengajak diskusi materi ujian. Aku juga rindu bernyanyi menghibur diri ketika ujian tidak sesuai prediksi, “Bila kugagal itu tak mengapa setidaknya ku telah mencoba!!”

Berkali-kali kukatakan pada diriku, sadar Him, sadar, waktu dan kondisi telah berbeda. Hhh, kenapa aku tidak bisa melakukan komunikasi interpersonal dengan baik? Susah sekali berdamai dengan realita tentang kerinduan-kerinduan ini. Sendiri, diam, melamun, kadang melirik lagi materi-materi kuliah yang diujikan besok. Ingatanku masih belum bisa lepas dari rindu ini. Aku tahu, Ibu, teman-temanku, semua yang aku rindukan pasti tetap menemaniku dalam doanya. Iya kan? Aku juga tahu pasti, aku masih membawa semangat kalian dalam langkahku. Terlepas dari sakitnya perih rindu ini, semangat kalian membuatku bangkit untuk merajut mimpi-mimpi lagi. Kelak ketika Allah mempertemukan kita di suatu masa, aku sudah datang mempersembahkan mimpiku untuk kalian yang tercapai dengan indah dihiasi peluh dan air mata. Kelak, aku ingin melihat senyum kalian untuk menebus perih rindu yang kurasakan saat ini.

Rindu tak berarti aku tak menemukan bahagia di sini, aku bahagia bisa mengenal teman-teman baru yang sangat memaklumi dan memahamiku. πŸ™‚

Adakah rindu juga memiliki teori??

 

Pojok Biru 2,

5 April 2011

22.22

 

22.22 –> orang bilang ketika kita melihat jam dengan angka yang sama menunjukkan bahwa kita sedang dirindukan oleh seseorang. Bila hal itu benar, kuharap kalian lah seseorang yang sekarang merindukanku. : )

 

 

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s