Cerita dan Celoteh

Terlalu Romantis

Malam ini romantis. Gerimis seperti menangis, seperti menjamah hati yang miris. Langit tentu sudah kehilangan birunya, tapi biruku masih bercerita. Ke mana bulan pergi? Ke mana bintang-bintang bersembunyi? Kenapa langit selalu menjadi analogi paling romantis untuk diceritakan? Kenapa malam ini terasa begitu romantis dengan langit yang ditemani gerimis dan ditinggal oleh bulan dan bintangnya?

Ah, ini bukan suatu ungkapan kegejean-pembelaantakpenting-kalau kamu bisa melihat tiap detil kalimat di atas jelas, teramat jelas. Tak ada makna yang ambigu. Atau di mana? Tunjukkan padaku. Semuanya terlalu jelas untuk dipertanyakan, atau terlalu tidak jelas hingga pertanyaan-pertanyaan itu tak ada. Kata demi kata ini mengalir begitu saja, membentuk frase, lalu kalimat, lalu juga paragraf.

Hatiku sebenarnya sedang tak menentu, entah apa yang aku pikirkan. Semua menjadi konsep sendiri, membentuk abstraksi atas peristiwa-peristiwa yang lalu, kadang juga memprediksi, memfungsikan teori. Ah tunggu dulu, apakah sudah menjadi teori? Tapi teori komunikasi kali ini terlalu membuatku muak. Muak? Bukankah ini akan menjadi makanan sehari-hariku selanjutnya?

Teng tong… Validitas dari kalimat-kalimat di atas sepertinya masih perlu dipertanyakan. Hipotesisnya tidak berkembang sesuai rumus statistik yang ada. Statistik? Otak dan hatiku tidak punya statistik yang tepat. Diagramnya membentuk sesuatu yang susah aku jelaskan. Terus saja naik turun dan ingin menuju ke sana. Kadang-kadang inginnya pakai ‘banget’ biar semua makin jelas. Lalu sebenarnya ke mana arah fraseku ini mengalir? Malam masih romantis, tetapi gerimis tetap menangis.

Aaaahh.. Mungkin perlu menggunakan teori agenda setting, mengatur terlebih dahulu mana yang akan aku angkat lalu kuturunkan dengan mengalihkan bahasan lain. Variabel apa lagi yang aku perlukan untuk ini? Terlalu banyak asumsi juga generalisasi. Orang-orang entah kenapa terlalu percaya pada teori, yang katanya terbukti secara empiris. Kenapa mereka lupa bahwa teori juga bergantung pada konteks, termasuk hal ini. Kadang ingin melangkah frontal, melawan stereotip, prasangka, juga kesalahan atribusi. Ini tidak seperti yang mereka bayangkan. Atau aku saja yang kurang berani bergerak untuk sampai ke sana?? Mengapa aku juga seperti sudah terpengaruh dengan generalisasi dan teori abstrak tidak jelas itu? Padahal ini lebih jelas. Titik.

Malam ini masih terlalu romantis untuk dilewatkan hanya dengan belajar, berkutat pada teori. Walaupun gerimis itu pergi, tapi bintang dan bulan entah kenapa masih belum nampak. Malam ini masih romantis.. :’)

Sebuah cahaya sedikit memancar, semangatku kembali. Ayo belajar lagiiiiii… 🙂

 

Antara belajar dan berimaji,

Teras,

Senin, 4 April 2011

20.55

 

1 thought on “Terlalu Romantis”

  1. Minta Izin Numpang Promosi ya…

    LOWONGAN KERJA SAMPINGAN GAJI 3 JUTA /MINGGU

    Kerja Management dari program kerja online (Online Based Data Assignment Program / O.D.A.P) MEMBUTUHKAN 200 KARYAWAN diseluruh indonesia yang mau kerja sampingan online dengan potensi penghasilan 3 JUTA/MINGGU+GAJI POKOK 2 JUTA/BULAN, Tugasnya hanya ENTRY DATA, per entry @10rb, Misal hari ini ada kiriman 200 data dari O.D.A.P yang harus di ENTRY berarti kita dapat hari ini @10Rb x 200 = 2 JUTA. “BILA ANDA DAFTAR SEKARANG KAMI AKAN BERIKAN Rp 200.000 Untuk menambah semangat kerja Anda”. Lebih Jelasnya kirimkan (NAMA LENGKAP & EMAIL ANDA) Melalui WebSite http://www.penasaran.net/?ref=cdizbb

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s