Cerita dan Celoteh

Dua Jam di Kampung Belajar

Hampir aku memejamkan mata, namun tawa mereka kembali bermain di entah bagian mana otakku. Tian, si kecil yang ganteng dan pintar. Ega, si manis yang pede, agak cuek, tapi penuh semangat. Cindy dengan dua gigi khas anak-anak dan kepedeannya. Pia dengan wajah imut nan polosnya. Mereka kembali bermain dalam imajiku. Ahh, sesuatu yang sangat membahagiakan, target yang sudah lama kulingkari ini, akhirnya mulai menunjukkan akses untuk tercapai.

Lelah, belum belajar padahal besok UTS, mempersiapkan ini itu, mungkin hal itulah yang dirasakan oleh teman-teman dari direktorat Pema (Pengabdian Masyarakat) BEM IM Telkom. Walaupun aku bukan bagian dari BEM, tetapi berpartisipasi sebagai kakak mentor di kegiatan Kampung Belajar ini membuatkan merasakan betul bagaimana perasaan mereka. Aku tahu pasti, lelah itu tebayar melihat kelucuan dan keluguan adek-adek yang dengan antusiasnya mengikuti acara ini.

Acara dimulai sejak pukul 10.00. Anak-anak kecil itu sudah mulai berdatangan. Wow, mulai dari pra-TK hingga SMP ada. Jumlahnya mungkin tak lebih dari 50 anak, tapi antusiasme mereka membuat acara ini begitu menyenangkan. Mereka pun terbagi dalam beberapa kelompok. Mawar, Melati, Bugenvil, Matahari, dan kelompok terheboh, Anggrek-Bonex. Mereka didampingi oleh kakak mentor masing-masing membuat yel-yel yang membuat mereka bersemangat.

Melati melati, melati yang lucu..

Melati yang lucu ikut kampung belajar..

Melati-melati anak yang pintar!!

Sontak suara penuh semangat dari empat anak kecil kelompok Melati kembali terngiang di kepalaku. Sebagai pendamping kelompok mereka, tentu saja aku sangat bahagia. Ega dan Tian masih kelas 1 SD, Cindy TK kecil, dan si lucu Pia belum masuk sekolah. Mereka masih sangat polos dan selalu mendengarkan nasihat kami dengan antusias. Aku tertawa lepas bersama mereka, bahkan aku lupa esok pagi aku harus kembali sebagai seorang mahasiswa yang menghadapi UTS.

Acara pun berlanjut dengan belajar bersama. Dari sinilah aku mengetahui karakter mereka berbeda. Meskipun sejajar, Ega dan Tian memiliki kemampuan berbeda dan membutuhkan cara yang berbeda pula untuk membuat mereka paham. Aku tidak bisa bekerja sendiri, teman-teman dari Pema dengan setia membantu para kakak mentor menghadapi adik-adiknya. Wow, it’s amazing and I know how special are my kindergarten teachers… πŸ˜€ Sejenak aku teringat si kecil yang sedang di rumah, yang biasanya menunggu ceritaku sebelum tidur, memintaku untuk menjadi pendampingnya belajar membaca dan mengaji. Ahhh.. Aku bahagia dengan ini. Kita belajar dengan sangat bersemangat.

Setelah belajar kita bermain dalam sebuah games merangkai huruf. Lagi, aku tercengang dengan antusiasme anak-anak. Sadar atau tidak, kita yang bisa dikatakan dewasa kalah dengan mereka. Semangat kompetisi, pantang menyerah, ingin tahu yang tinggi, ah semua itu mereka miliki. Kadang aku berpikir, ke mana semua itu menguap ketika kita beranjak dewasa?

Anak kecil, bagaimanapun mereka, di mataku tetaplah sesuatu yang unik. Bahkan jika bisa memilih aku ingin kecil lagi. Di sini, aku melihat mereka berbeda. Selain empat jagoan kecil dari Melati, anak-anak lain pun tak kalah antusias, bahkan ada yang saking ‘kreatif’nya seakan-akan membuat keributan padahal mungkin mereka hanya mencari perhatian atau semangat mereka yang memang tinggi. Bagaimanapun, aku salut pada mereka.

Acara pun dilanjutkan dengan makan kue bersama. Lihatlah, mereka begitu teratur, berdoa terlebih dahulu, lalu membuang sampah di tempatnya. Hmm, tanda tanya besar, KITA gimana? Masa kalah sih sama mereka… Setelah itu, kita bermain outdoor di lapangan. Angin yang sedikit kencang tak sedikitpun mengganggu semangat mereka. Pertengkaran kecil khas anak-anak pun terjadi. Dorong-dorongan hingga terjatuh. Itu wajar. Aku tersenyum dalam hati. Sekarang merindukan mereka.

“Kak, aku pengin masuk, pengin naik lift.”, celoteh salah satu di antara mereka yang kita sambut dengan tawa. (Tunggu ya adek2, ntar kita ajak main kok.. :D)

Setelah lebih dari dua jam kita bermain dan belajar, tibalah saatnya pulang. Ah, aku terharu. Celotehan-celotehan mereka yang amat polos namun jujur membuat kami tersenyum. “Kak, besok lagi ya..” atau, “Kak, minggu depan lagi ya..”

Pema terperangah antara bahagia atau bingung mengingat proker acara yang seharusnya dilaksanakan dua bulan sekali. Sebuah PR yang harus kita jalankan bersama.Tetapi tawa mereka mungkin akan membuat kami semakin bersemangat untuk semakin sering mengadakan acara sebagai wujud kontribusi langsung kepada penerus bangsa.

 

Aku diam, target itu kulingkari lagi, kuberi tanda kecil.. Semangat Himsaaaa!! Semangat adek-adek… πŸ™‚ Sampai jumpa di kampung belajar berikutnya..

 

Pojok Biru 2,

3 April 2011

11.02

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s