Uncategorized

Tentang Ilmu dan Nilai

Ilmu dan nilai? Memang apa masalahnya? Nyambung nggak sih? Dua hal ini memang berkesinambungan, tapi harus dipisahkan ketika menjadi sebuah tujuan. Apa tujuan kita? Ilmu atau nilai?

Mungkin, ketika masih SD, nilai, dalam hal ini sebuah angka, merupakan barometer yang penting. Nilai adalah motivasi untuk berprestasi. Tak heran jika anak SD ditanya ingin apa, mereka kebanyakan menjawab, “Dapat nilai bagus. Dapat ranking 1.” Motivasi yang bagus, karena dari situlah timbul jiwa kompetisi dalam diri mereka. Sayangnya, yang  ditanamkan pertama kali adalah nilai dalam bentuk angka. Semua itu seperti sebuah paradigma mereka, mungkin juga kita, dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya.Setelah angka menjadi tujuan mereka, semua cara menjadi halal ditempuh, demi sebuah nominal tertentu. Lalu di manakah ilmu ditempatkan? Mungkin hal ini pula yang mendasari ‘larisnya’ pengadilan Indonesia oleh tindak korupsi. Lagi-lagi tentang angka. Angka pada lembar cek atau rupiah yang tidak pernah cukup bagi mereka.

Ya, memang sudah sulit dirubah fenomena sosial ini. Apalagi takbanyak yang memperhatikan keadaan ini. Padahal, mindset bangsa bahwa semuanya diukur dengan angka berefek besar untuk moralitas bangsa.

Aku merenung. Sudah berapa kali aku secara tak sadar juga terjebak dalam paradigma itu. Aku bersiap merubah diri, mengembalikan pada prinsip awal yang memang pernah kucoreng sendiri, pada masa itu, yang kini benar-benar aku jadikan pelajaran. Nilai atau angka bukanlah sesuatu yang hebat jika dibandingkan dengan ilmu yang kita dapat. Mungkin karena itulah Islam tidak pernah memerintahkan untuk mencari angka, tetapi mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu.

“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)”. (HR. Ibnu Majah)

“Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga”. (HR. Muslim).

Mengapa tak banyak yang berpikir bahwa ilmu adalah tujuan utama?

Paradigma angka sepertinya sudah mengeras. Memasuki dunia kuliah, kita mendapat sebutan baru, mahasiswa. Tetapi kadang terpikir, di manakah kata ‘maha’ direalisasikan? Secara manusiawi, kekanak-kanakan mungkin masih ada, tetapi haruskah cara pikir menghadapi suatu permasalahan masih juga kekanak-kanakan? Pernah ada seorang mahasiswa protes kepada temannya karena susuatu hal, “Saya kan di sini juga mencari nilai bagus.” Ah, sudah mahasiwa mengapa masih seperti itu? Tidak ada yang salah memang jika kita ingin mendapat nilai yang bagus. Namun sayangnya, karena ‘nilai bagus’ itulah kita melupakan esensi ilmu yang kita dapat. Apakah mahasiswa masih harus seperti anak SD atau mentok-mentoknya anak SMA yang menganggap orientasi nilai adalah segalanya?

Ketika nilai menjadi sebuah orientasi, maka ketika nilai bagus sudah dalam genggaman, lepaslah ilmu yang kita dapat. Kita cenderung melupakan ilmu itu, karena tujuan kita, nilai bagus, sudah tercapai. Namun, jika orientasi kita adalah ilmu, maka nilai akan mengikuti dengan sendirinya, begitu pun rezeki. Asal kita sungguh-sungguh, maka konsekuensi atas yang kita kerjakan itulah yang kita dapat. Masalah nilai adalah hak prerogatif Allah. Mungkin subjektivitas dosen kadang mempengaruhi nilai, tapi siapa yang menggerakkan hati dosen itu jika bukan Allah? Kadang, kita merasa usaha yang kita lakukan sudah semaksimal mungkin, tetapi hasil tidak mencapai target. Orang yang mencari ilmu (bukan nilai) tidak akan kecewa akan hal ini. Mungkin, sejenak sifat manusiawinya membangkitkan rasa kecewa menyelinap di hatinya. Tapi orang yang berilmu tidak akan membiarkan kecewa itu berlarut karena ia sadar, faktor penentu hasil bukan hanya sekedar usaha, tetapi selalu ada faktor X yang mempengaruhinya. X bisa jadi perbuatan kita yang tidak menyenangkan, kurang sedekah, pernah menzalimi orang lain, dan sebagainya. Begitupun jika faktor X mengarah pada suatu kebaikan, ia juga secara tidak langsung mempengaruhi hasil usaha kita. Orang berilmu akan melihat dirinya lalu memperbaiki diri juga meningkatkan usahanya. Ia tidak akan kecewa, walau nilai belum berpihak padanya, ilmu sudah menjadi genggamannya untuk berpijak di masa yang lain.

 

Pojok Biru 2,

Jumat, 25 Maret 2011

6.22 WIB

 

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s