Cerita dan Celoteh

Ketika Ayah dan Ibu Rindu..

Aku akan membuka tulisan corat-coret ini dengan sebuah dialog kecil beberapa waktu lalu dengan Abah dan Ibu.

Abah: piye-piye leh, Nduk? Kayaknya sibuk sedikit kok susah banget dihubungi..

Aku: hehehe.. Mboten, Bah. Aku beres-beres bentar sekalian mandi baru telpon.

Abah: oh, yowis..

Ibu’: Orang tua kan pengin tahu kabarnya..

 

Selanjutnya perbincangan aku lanjutkan dengan cerita panjang perjalananku selama lima hari di Jogjakarta. Hm, apa yang bisa kita simpulkan dari sedikit perbincanganku dengan orang tuaku di atas? Ya, kasih sayang orang tua itu begitu tak terbatas. Sebenarnya aku memang sama sekali tak berniat untuk susah dihubungi, tapi mungkin aku yang teledor, tidak menyadari betapa mereka merindukan kita, bahkan saat kita sedang sibuk dengan berbagai aktivitas yang sedang kita geluti. Begini ceritanya…

Sejak tanggal 20-25 Februari, aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah event internasional di Jogjakarta. Selama aku berada di sana, mereka hampir tidak pernah menelepon, mungkin mereka mengerti kegiatanku di sana cukup padat. Hanya Ibu’ masih mengirim sms menanyakan kabar anak sulungnya. Sejujurnya, aku memang merindukan mereka, aku sempat menelepon Ibu, berjanji akan bercerita tentang semua aktivitasku selama di Jogja sesampainya di Bandung nanti. Ibu’ paham sekali. Mungkin, sejak aku berkata demikian, mereka sedang sabar menunggu aku menelepon kembali, menceritakan aktivitasku.

Sampai tibalah hari terakhir aku berada di Jogja. Saat itulah Abah baru menghubungiku, menanyakan bagaimana aku akan pulang ke Bandung. Itupun hanya sebentar, karena aku sudah berada di stasiun, lagi-lagi aku bilang akan menghubungi lagi sesampainya di Bandung.

Aku memang tidak berbohong, begitu turun dari kereta, aku langsung menghubungi mereka. Tapi aku tahu, ada sedikit kesalahan yang kulakukan. Aku tidak menyadari betapa mereka sudah tidak sabar mendengar ceritaku. Kubiarkan cellular phone kecil yang kukhususkan untuk keluargaku tergeletak di dalam tas, tanpa nada dering. Kutinggalkan tasku di kamar begitu saja. Aku malah asyik bercerita dengan teman-temanku. Takada niat untuk tidak memberi kabar pada mereka, tapi entahlah, kasih sayang orang tua memang selalu tanpa batas.

Kuucapkan istigfar berkali-kali ketika menyadari sesuatu terlupa. Kuobrak-abrik isi tasku. Ah, tak terhitung missed call dengan nama ‘Abah’ menghiasi layar hp.

 

Apa inti dari sedikit cerita di atas? Ya, banyak hal kecil bermakna besar yang tidak kita sadari. Mungkin, kita sering sekali, merindukan omelan Ibu, atau sekadar gertakan kecil dari Ayah. Kita sering sekali mengeluh ketika jarak membuat kita dan orang tua kita terpisah. Kita sering sekali menangis menjelang tidur hanya untuk mengingat senyum Ayah dan Ibu. Kita sering sekali memendam rindu itu. Lalu kita membaur dengan berbagai aktivitas di kampus atau di manapun kita berada. Sejenak rindu itu terlampiaskan oleh beberapa kesibukan atau aktivitas yang mungkin menjemukan. Tapi, jarang sekali kita menyadari. Perempuan yang mungkin wajahnya sudah dipenuhi keriput, terdiam pelan, memandang pintu kamar kita yang sudah berbulan-bulan tertutup karena ditinggal oleh penghuninya. Kita tak tahu, mungkin saja, diam-diam ia memasuki kamar kita, membersihkan tempat tidur kita, sambil mengusap air matanya. Kita mungkin jarang terpikir, dalam tegarnya suaranya saat menelepon kita, hati Ayah melemah, merindukan buah hatinya yang kini telah tumbuh menjadi dewasa. Ia hanya menitipkan harapannya pada jagoan kecilnya dalam lirih doanya. Ia tak butuh seribu bahasa untuk mengatakannya pada anaknya, ia hanya mengumpulkan butir peluhnya bukti sayangnya pada kita, anaknya.

Kadang aku benci pada Ayah atau Ibu yang melepasku pergi jauh. Tapi aku diam. Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Mungkin kerinduan kita akan terlampiaskan oleh berbagai aktivitas, tapi rindu mereka? Ibu hanya terdiam, ketika malaikat kecilnya yang dulu meramaikan rumah harus pergi mengejar mimpinya. Ia akan diam memendam sesak ketika rumahnya yang dulu tenteram oleh tangis dan tawa kita kini sepi. Ahh, sungguh, hal-hal kecil itu sering kita lewatkan. Kerinduan juga sesak mereka luruh oleh tawa keberhasilan kita suatu saat nanti. Aku tahu pasti itu. Maka masih sanggupkah kita mengkhianati mereka? Maka masih sanggupkah kita membiarkan sesak mereka berkelanjutan?

Aku terdiam mengingat hutangku pada mereka yang tak akan pernah mampu terbayar, sekalipun kita telah menuruti semua ingin mereka. Maka bagaimana jika tidak? Ah, walau aku tahu, mereka tak pernah mengharap sedikitpun balas kita, karena bagi mereka, cinta adalah keikhlasan tiada tara, yang tak pernah mereka ungkapkan dengan kata.

 

Dengan segenap rindu yang tercurah untuk Abah dan Ibu di sana, aku ingin berdoa, semoga cinta-Nya selalu menaungi. Semoga gerimis yang kini bergemericik di depanku pun bertasbih untuk sebuah keikhlasan yang tiada tara. Abah, Ibu, maaf.. :’)

 

Sekre Gamus,

29 Maret 2011

18.28

 

5 thoughts on “Ketika Ayah dan Ibu Rindu..”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s