Cerita dan Celoteh

Terus Kenapa?

Ketika kamu mempunyai pilihan yang berbeda dengan orang lain, ketika pilihan yang kamu pilih bukanlah sesuatu yang distereotipkan lebih unggul oleh sebagian orang, ketika kamu memang memilih sesuatu yang menjadi keyakinan hatimu, jangan gusar dengan perkataan orang, katakan saja, “Terus kenapa?”

πŸ˜€

Memang terkesan agak keras kepala paragraf yang saya buat di atas. Tapi saya sedang sedikit geli aja. Banyak orang yang tidak menyukai sesuatu, tetapi ia kekeuh tetap memilihnya hanya karena stereotip sebagian orang. Hm, kalau boleh mengambil contohnya, misalnya saja seorang siswa kelas X yang sedang bingung menentukan jurusan yang akan diambil ketika kelas XI, IPA atau IPS? Saya yakin, pasti yang memilih IPA akan lebih banyak. Mungkin memang banyak yang benar-benar menyukai IPA, tapi banyak juga yang ‘remang-remang’. Hm, remang-remang? Emang gimana?

Jadi, mereka tidak punya pilihan, alias ikut-ikutan saja. Kembali lagi pada masalah stereotip. Tentu kita semua tahu, jurusan IPA dianggap lebih memiliki nilai plus daripada IPS. Tapi hanya anggapan kan? Toh nyatanya tidak semua anak IPA lebih baik dari anak IPS, tidak semua anak IPS bandel, banyak dari mereka yang berprestasi kan?

Ketika saya bertanya pada teman-teman atau adik kelas, “Mengapa ambil IPA?”. Ada yang menjawab, “Males ngehafalin, lebih suka itung-itungan.” Oke, alasan satu ini masuk akal. Kamu memang lebih cocok di IPA. Ada juga yang menjawab, “Di IPA lebih bebas kalau milih kuliah, bisa juga ntar ke IPS.” Nah lho? Jawaban seperti ini yang remang-remang. Maunya IPA atau IPS sebenarnya? Rasanya terkesan anak IPA serakah jadinya. Hahaha, ironisnya, jawaban inilah yang paling banyak saya dapatkan. Anehnya lagi, saya juga ikut-ikutan menjawab begitu tiap ditanya alasan memilih jurusan IPA ketika SMA dulu. Dasar ababil ya.. Tapi sekarang saya tahu alasannya, mengapa saya memilih IPA. Nanti saya ceritakan lagi deh. Kembali ke topik di atas, alasan remang-remang sebenarnya saya tujukan untuk orang-orang yang dalam hatinya merasa lebih mampu, merasa lebih mencintai dunia IPS, tetapi di ujung memilih IPA karena stereotip itu. Saya sangat salut sekali kepada beberapa orang teman saya ketika kelas X dulu yang dengan tegas berani memilih IPS, bukan karena ia tidak mampu masuk IPA, tetapi karena ia tahu dunia IPS lebih dicintainya.

Boleh sedikit curhat? Hahaha.. Saya pecinta IPS sejati dari SMP. Dari dulu, nilai-nilai IPS saya selalu lebih tinggi dari nilai IPA saya. Tapi ketika SMA, saya selingkuh sama IPA. Hasilnya emang nggak maksimal sih, tiap ujian, nilai-nilai IPA saya biasa aja, suka bingung lagi. Dasar dodol! Hehe.. Apalagi kalau ketemu fisika, kadang-kadang logikaku nggak nyampai. Nilai Biologi sering remidi. Hahaha, apalagi ya? Pokoknya emang nggak maksimal. Saya sadar deh, pas kuliah balik ketemu IPS, dan katakan selamat tinggal angka. :p

Teman-teman kuliah saya banyak yang bertanya, “Kamu dulu dari IPS ya Him pas SMA?”.

“Nggak, IPA kok.”

“Lha kenapa di sini?”

“Saya pecinta IPS dari SMP.”

Lalu mereka tertawa dan bertanya lagi, “Terus kenapa pas SMA ambil IPA???”

Saya sempat menertawakan diri saya sendiri, ababil banget deh. Iya, soalnya saya memang pengin belajar IPA dulu dan menggeleluti sedikit seluk beluknya sebelum akhirnya saya pergi meninggalkannya ke IPS. Minimal kalau ditanya anak saya nanti tentang IPA ngerti lah, walaupun nggak jago sih, hehe. Saya memang sudah meniatkan akan mengambil jurusan IPS ketika kuliah. Tapi menurut saya, pilihan saya itu kurang bijak. Kalau memang benar saya mencintai IPS, harusnya saya berani donk komit di IPS dari awal. Makanya saya buat corat-coret ini, siapa tahu teman-teman ada yang mengalami hal yang sama. Kalian harus punya pilihan. Pilihan membingungkan yang berkaitan dengan stereotip orang bukan hanya tentang IPA atau IPS, masih banyak pilihan lain dalam hidup yang akan lebih membingungkan, kenapa kita nggak berani berbeda jika itu memang sebuah pilihan yang kita yakini? Toh selama itu tidak melanggar nilai agama, norma, dan hak orang lain, nggak ada masalah kan? Omongan orang hanya merisaukan. Kita memang perlu mendengar kritikan mereka untuk menjadikan diri lebih baik, tapi kita tidak perlu mendengar cemoohan orang atas pilihan kita.

Ketika akhirnya saya memilih ilmu komunikasi ketika kuliah, tanggapan orang memang biasa-biasa saja, nggak banyak yang bilang, ‘wah.’. Malah ada juga yang sedikit mengejek, membanggakan jurusan teknik atau jurusan lainnya yang (lagi-lagi) distereotipkan memiliki nilai lebih. Terus kenapa? Alhamdulillah saya bisa lebih enjoy menjalaninya. Nggak banyak yang bingung seperti kalau ketemu fisika. πŸ˜€

Ini bukan karena saya membanggakan IPS sebagai jurusan yang saya pilih sekarang, kalian pun yang mencintai IPA, juga begitu. Nggak usah pedulikan apapun stereotip orang tentang IPA, jadikan itu kebahagiaanmu.

Kalau kamu menolak memilih sesuatu yang lebih bagus tapi menurut kamu hal lain lebih bagus juga nggak usah takut. Nggak peduli kalau hal lain itu dinilai lebih jelek di mata orang banyak, mungkin di mata saya juga. Pada kelilipan kali. Heheee.. Ingat, asalkan tidak melanggar agama, norma, dan hak orang lain aja deh. Daripada nanti dipaksain malah kocar-kacir, apa orang yang mengejek itu akan bertanggungjawab? Toh mereka juga nantinya nggak mau tahu. Intinya, kalau nggak yakin bisa maksimal buat apa terus dipilih hanya untuk mengikuti kehendak orang? Kita punya pandangan sendiri kan terhadap sesuatu?

Bilang aja, “Terus kenapa?”

πŸ˜›

 

heheheheeee.. Maaf sedang pekok alias keras kepala. Tapi saya bersyukur dengan hidup yang telah saya jalani, ketika saya memilih IPA, walaupun agak terseok-seok, Allah banyak menunjukkan hikmahnya, diantaranya kutemukan sahabat-sahabat yang banyak menginspirasiku.

Allah Maha Adil, tiap diri kita pasti memiliki kelebihan yang berbeda dari yang lainnya, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kelebihan itu. πŸ™‚ Kita bebas memilih apapun dalam hidup ini, tapi kita tidak bisa memilih konsekuensi.

 

Pojok Biru 2,

Jumat, 11 Maret 2011

22.04

 

1 thought on “Terus Kenapa?”

  1. terkadang kita lebih memilih tuk tersenyum hanya karena kita tak bisa mau menjelaskan apa yang telah terjadi….

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s