Cerita dan Celoteh

Untuk Ayah

Sore ini,aq mematung d hadapanmu. .

ku ceritakan padamu ttg maksud dan harapanku..

senyum yg begitu menenteramkan hatiku terpancar dari hangatnya wajahmu..

ah,betapa berbinarnya asaku.

lalu sejenak ku pandangi sorot matamu,

sinar harapan terpancar begitu suci..

hm,andai saja bisa ku genggam sinar itu,akan ku persembahkan untukmu..

Ketahuilah ayah, merpati kecil telah siap melayang terbang utk menggapai sinar itu untukmu..

maka iringilah selalu tiap kepak sayapku dg doa dan petuahmu. .

akan ku bingkai manis sinar itu dalam genggamanmu di langit biru..

 

Ya Allah, ridloilah aku. .

Friday, 08 January 2010 at 18:28

Aku masih ingat betul, tulisan itu kubuat saat aku menyampaikan maksudku pada Ayah untuk mengikuti tes di sini.. Lihatlah ayah, merpati kecilmu telah terbang bertengger di sini untuk merajut sayap lagi, memberikan sinar yang lebih terang untukmu…

Apa lagi yang aku sesalkan dengan jalan ini? Bukankah ini memang pilihanku? Tulisan di atas sudah lebih dari bukti bahwa jalan ini yang dulu memang kuminta. Allah mendengarnya, mengabulkannya dengan begitu indah. Apalagi yang masih membuatku sesak? Impian kecilku? Ah, aku akan datang ke sana (insyaAllah) sebagai utusan dari jalan yang aku pilih sekarang. *Amin Ya Allah, semoga bisa meneruskan jejak dari kakak kelas yang sedang berlaga melawan impianku*

Apa yang aku jalani sekarang, kutahu pasti adalah tetes dari setiap ridlo ayah untuk merpati kecilnya. Akan kubuktikan ayah… Kutengadahkan tanganku untuk ridlomu, karena ridlomu juga ridlo Allah…

Ayah, aku malu, saat masih menangis di hadapanmu, kau ‘hina’ aku dengan ejekan sederhanamu, “Emang masih ada temanmu yang kayak kamu?” Aku hanya terkekeh sambil menangis, “Nggak ada.” Ayah hanya menanggapi ringan, “Nah kenapa kayak gitu?” Ayahku juara satu di dunia. Ayah yang selalu mengingatkan anaknya ketika merasa tinggi, tetapi juga meninggikan anaknya ketika jatuh. Ayah tak akan segan berkata tidak atau mengatakan kesalahanku jika aku memang salah. Ah, kenapa pagi ini aku jadi ingin mengingat tentang ayah? Ayah yang mengantarku walau kaki sedang bengkak karena sakit hingga aku sampai di sini sekarang.

Ah sudah ah, tadinya aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri agar tetap semangat dengan pilihanku. Tapi kenapa merembet ke mana-mana? 🙂 Aku harus semangat untuk semangat ayah, untuk doa ibu, untuk adik-adikku yang kubanggakan selalu…..

 

Pojok Biru 2

Sabtu, 13 November 2010

8.45 WIB

 

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s