Cerita dan Celoteh

Aku Ingin Menikah

Hm, judulnya sedikit kontroversial memang di kalangan remaja dewasa tanggung seusia kita. Baiklah, tak apa, kalian akan mengetahui mengapa aku memilih judul ini nanti. Sebenarnya, ini hanya sebuah klarifikasi atas gurauan-gurauan kecilku pada orang-orang sekitarku yang sebenarnya bukan sekedar gurauan. Haha, iya benar, kalian boleh tertawa karena setiap kali membahas urusan pernikahan, pasti saya akan bersemangat. Kalian juga boleh tertawa ketika di Gramedia aku sama sekali nggak beranjak dari rak buku-buku bertema pernikahan. Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu kenapa kakiku tak mau beranjak. Aku tidak tahu kenapa setiap membolak-balik buku bertema indahnya pernikahan dalam balutan islam aku menjadi betah.

Tetapi dalam sebuah renungan panjang dan dari sebuah buku yang aku beli dari rak itu aku menemukan sebuah jawabannya. Apalagi? Iya, benar, aku ingin menikah. Eits, jangan tertawa terbahak-bahak dulu. Ingin bukan berarti terburu-buru kan? Haha, bukan kawan. Ingin bukan berarti aku harus menikah tahun ini atau bulan ini atau bahkan esok pagi. Bukan.. Perlahan aku mengerti. Setiap manusia punya keinginan yang sama tentang hal ini. Aku yakin kamu juga. Tanya saja dalam hatimu yang terdalam, apa kau ingin menikah? Tentu iya. Kecuali jika kau betah ‘bersenang-senang’ dalam dunia semu tanpa batasan ini. πŸ˜€ Hanya saja, terkadang keinginan itu tertutupi oleh hal lain, mungkin mimpi kita, atau harapan-harapan lain yang ingin kita capai selain kata ‘menikah’. : )

Hm, lalu mengapa keinginan itu harus ditertawakan jika demikian? Keinginan untuk menikah sama seperti keinginan atau mimpi lain yang kita dambakan. Bukankah lebih baik aku mengatakan, “Aku ingin menikah.” daripada aku mengatakan, “Aku ingin punya pacar.”? : ) Bukankah lebih baik aku menginginkan sesuatu yang lebih abadi, halal, diridloi olehNya, bahkan berpahala daripada aku menginginkan sesuatu yang semu, bahkan penuh mudharat? Hahaha.. (lhu? Kok malah aku yang tertawa?).

Haha, sebenarnya saya memaklumi jika kalian tertawa membaca tulisanku yang mungkin konyol bagi kalian, karena aku juga tertawa sendiri. Kalian benar, masih banyak mimpi-mimpi lain yang bisa kita pikirkan selain memimpikan indahnya pernikahan. Masih banyak hal lain yang harus kita raih sebelum meraih kehidupan indah itu. Tetapi aku ingin bukan berarti aku terburu-buru. Aku juga sadar, masih terlalu labil diri ini. πŸ˜€ Aku hanya tertarik membaca buku-buku yang membedah betapa agungnya jika cinta dilabuhkan dalam wadah yang tepat. Betapa istimewanya ketika kelak kita menjadi seorang istri, yang sholihah tentu saja. Betapa indahnya Islam mengatur semua perasaan hati manusia. Lebih tepatnya, membahas pernikahan selalu mengingatkanku pada mimpi besarku. Itulah mengapa aku begitu tertarik menyelami seluk beluknya.

Hei, sebenarnya semakin dalam kita memahami Islam, kita akan tahu bahwa menikah itu merupakan suatu fase kehidupan yang luar biasa. Menikah adalah menyempurnakan setengah agama. Banyak surga yang bisa kita raih di dalamnya. Sesuatu yang dulunya haram, dilarang, atau dihindari akan menjadi halal bahkan berpahala dan dinilai ibadah dalam hubungan pernikahan.

Mungkin ketika aku masih duduk di bangku sekolah dulu, pikiran-pikiran tentang pernikahan memang tak banyak mengganggu. Tetapi perlahan aku sadar, semakin lama aku akan beranjak dewasa. Pikiran tentang pernikahan melintas begitu saja. Terkadang ada perasaan amat bahagia ketika membaca sebuah undangan pernikahan. Terkadang aku juga berpikir, apakah mungkin aku di atas kewajaran jika terlintas bayangan pernikahan di kepalaku? Hahaha. Tetapi sebuah dialog dalam temu akhwat beberapa waktu lalu menyadarkanku satu hal. “Saya punya keinginan menikah sejak semester satu, jadi jangan takut jika kalian memang ingin. Bersabarlah. πŸ™‚ ” begitulah kata seorang muslimah yang baru menikah tiga minggu kala menjadi pembicara hari itu. Ya, aku mengerti. Siapa sih wanita yang tidak ingin menjadi wanita sholihah?

Siapa sih wanita yang tidak ingin mendapatkan kasih sayang dalam wadah yang halal? Ya, seseorang yang ingin menggapai surga-Nya, sudah tentu mempunyai keinginan untuk menikah, karena menikah merupakan setengah agama ini. Lebih jauh, menikah melindungi kita dari perbuatan-perbuatan haram yang dilaknat Allah.

Dalam suatu buku yang saya baca kemarin (lebih tepatnya nyolong baca di Gramedia :D), kalau tidak salah judulnya, “Tuhan, Izinkan Aku Pacaran”, ada sebuah penelitian, bahwa orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, orang-orang sholih yang ingin menjaga iman kepada-Nya, orang-orang yang bertanggung jawab tinggi, orang-orang bermental baja, mempunyai kecenderungan menikah pada usia muda (20-30), sedangkan orang-orang kebalikan dari yang saya ceritakan di atas lebih suka menunda untuk menikah. (Karena saya hanya membaca beberapa halaman, jadi tidak bisa bercerita banyak tentang isi buku itu, kalau ada yang masih penasaran silahkan dibeli saja. Buat yang di Bandung cari di Gramedia depan BIP, lantai 1, di rak yang depan lift. Hahaha)

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah: a. Orang yang berjihad di jalan Allah; b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya; c. Pemuda / pemudi yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram. (H.R. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim)

“Solat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga itu lebih baik daripada 70 rakaat yang dilakukan oleh jejaka / perawan.” (H.R. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Huraira)

Bagi yang masih penasaran bisa dibuka ayatnya berikut ini:

  • QS. An-Nuur, 24: 32
  • QS. Ad-Dzariyat, 51:49
  • QS. Yaasin, 36:36
  • QS. An-Nahl, 16:72
  • QS. Ar-Ruum, 30:21
  • QS. At-taubah, 9:71
  • QS. An-Nisa, 4: 1
  • QS. An-Nuur, 24: 26
  • dan masih banyak lagi……

Jadi intinya, menikah itu bukan sesuatu untuk ditertawakan, sekalipun untuk ‘anak-anak’ seusia kita ini. Tapi bagaimana, aku sendiri juga tertawa lho, menertawakan diri sendiri lebih tepatnya. So, buat yang emang sekarang uda punya keinginan untuk menikah, nggak usah malu. Atau udah ada yang punya target umur untuk menikah, nggak usah malu. Justru berbanggalah, karena punya keinginan menikah berarti kita mempunyai keinginan untuk menyempurnakan separuh dien ini. : )

 

Dalam muka malu memerah,

Sabtu, 15 Januari 2010

12.43 WIB

 

*NB: Ingat ya!!! Bukan berarti terburu2.. aku masih doyan kuliah.. :p

 

4 thoughts on “Aku Ingin Menikah”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s