Cerita dan Celoteh

Take No AIDS!

Awalnya nggak ada niat sungguh-sungguh untuk datang di seminar ini. Seminar AIDS? Hm, yang ada di pikiranku ya biasa aja lah, paling sharing gejala AIDS dan kawan-kawan itu. Niat awal ikut hanya untuk melariskan tiket yang dijual oleh teman sekelas yang kebetulan jadi panitia. Jujur, hanya itu niat saya awalnya.

Akhirnya, Minggu, 5 Desember 2010 ini datang juga. Aku melangkah ke aula kampus usai mengikuti latihan broadcast SEF IM Telkom bersama Bang Andro. Masih pukul 12.30. Ku belokkan kakiku ke mushola. Usai solat, aku teringat aku belum makan siang. Ah sudahlah.. Lebih baik cepat bergegas ke lantai empat. Di depan aula, para panitia sudah sibuk mendata para peserta yang melakukan registrasi.

Aku lewatkan cerita awal yang terjadi di dalam ruangan itu, hingga aku tersentak setelah seorang perempuan naik dan duduk di kursi yang tersedia di panggung. “Saya seorang wanita positif HIV yang tertular dari suami saya, saya juga seorang Ibu dengan seorang putri yang sekarang berusia 11 tahun, dan putri saya sehat.” Aku terpukau dengan pengakuannya. Sekilas fisiknya tampak seperti seorang wanita normal. Akhirnya aku mengetahui rahasianya. Berpikiran positif dan selalu bersemangat menjalani hidup membuatnya bertahan. Ia juga seorang staff di lembaga sosial bernama “Rumah Cemara”, sebuah yayasan yang menolong para penderita HIV/AIDS untuk tetap bersemangat menjalani hidup.

Melihat realita kehidupan di masyarakat, para pengidap penyakit ini sering dikucilkan, tapi tidak untuk rumah cemara. Lembaga ini justru stand by di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk memotivasi mereka yang harus menerima kenyataan pahit positif HIV/AIDS. Mereka juga mendanai para ODHA yang tidak mampu untuk melakukan pengobatan. Sungguh mulia sekali. Sadar atau tidak, penderita HIV/ AIDS memang seringkali dipandang sebelah mata. Ah, boro-boro sebelah mata, dipandang pun tidak. Mereka sering dicap sebagai orang-orang yang patut mendapatkan azab dan tak pantas memperoleh bantuan. Pikiran-pikiran seperti memang wajar mampir, tapi jika kita mau membuka mata, keterpurukan mereka bukan untuk ditertawakan tetapi untuk kita beri motivasi. Bukankah akan lebih baik jika kita mengajak mereka untuk bangkit dan meninggalkan jalan hitam yang pernah dilalui (jika memang iya)?

Kenyataannya tidak semua ODHA adalah seorang pecandu narkoba, pelacur, pelaku seks bebas, dan berbagai perbuatan laknat lainnya. Bukan.. Cerita seorang ibu muda ini cukup membuat saya tercengang. NamanyaIsye. Ia positif HIV sejak Sepetember 2006. Ia seorang perempuan baik-baik. Ia tertular dari suaminya yang baru ia ketahui ternyata seorang pecandu narkoba. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana terpuruknya ia, apalagi ia juga memiliki seorang putri yang saat itu masih berumur tujuh tahun. Sungguh ironis.

Lalu pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita di  atas? Pantang menyerah. Lihatlah, kalau perempuan itu menyerah pasti sekarang dia tidak ada di sini untuk menceritakan pengalamannnya yang menurutku amat berharga ini. Selain itu, acara ini mengajarkan padaku untuk selalu positive thinking terhadap apapun. Lihatlah dengan peran lembaga sosial ini, banyak para pemakai yang akhirnya berhenti dan tetap semangat menjalani hidupnya walaupun terkena HIV. Bahkan Isye kini menjadi salah satu staff di rumah cemara.

 

Tulisan lama yang belum sempat terposting..

 

Selesai,

Biru 28 Des 2010

17.52

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s